Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital

Untuk merealisasikan cita-cita Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia, sesuai visi yang telah dicanangkan Presiden Jokowi, dan demi mendukung hal tersebut maka Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama KIBAR pada tanggal 17 Juni 2016 yang lalu meluncurkan Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital.

Dengan dicanangkannya program tersebut, Kemenkominfo berharap mampu melahirkan 1.000 startup hingga tahun 2020, dengan total valuasi yang mencapai US$10 miliar (sekitar Rp133 triliun). Program ini rencananya akan hadir di sepuluh kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan, Bali, Makassar, dan Pontianak.

Meski saya tidak tinggal atau berada di kota-kota yang akan dikunjungi tersebut, saya berharap bahwa saya pun bisa memulai 'sesuatu' yang mungkin saja nantinya bisa berperan dalam konteks startup digital ini. Di usia saya yang menginjak angka 4x :) pada beberapa hari lalu, yang saya pikirkan sejak lama adalah saya ingin bekerjasama dan berkolaborasi dengan mereka-mereka yang lebih muda, generasi Y atau generasi Z bahkan generasi C (generasi YouTube), yang mungkin saja usianya terpaut 20 tahunan lebih muda dari usia saya. Membangun sebuah creative agency dan media company adalah salah satu keinginan saya untuk menghadapi hiruk pikuk dunia digital dan internet business, sekaligus menjadikannya sebagai peluang.

Saya bukan orang yang pintar ataupun kreatif, karena saya masih harus banyak belajar mengejar ketinggalan. Saya sangat ingin berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk mewujudkan mimpi-mimpi... (menyambung tulisan saya beberapa waktu lalu: Berinvestasi Ke Anak Muda).

Info: http://1000startupdigital.id/

Ternak Ayam Ala Bill Gates

Artikel soal ternak ayam berikut dikutip dari blog milik Bill Gates: Gatesnotes. Bill Gates hingga detik ini masih tercatat sebagai manusia terkaya di muka bumi dengan kekayaan senilai hampir 1.100 triliun, dan minggu lalu salah satu unit usahanya Microsoft baru saja mengakuisisi situs jejaring sosial LinkedIn senilai hampir 349 triliun. 

Oiya, titel bahasan soal ayam ini membuat saya agak surprised saat baca artikel di blog tersebut, hingga saya ingin mengutipnya he... he... he...

Bagaimana dalam sehari kita bisa hidup dengan uang sekitar 2 dollar, apa yang bisa kita perbuat untuk memperbaiki hidup kita?

Ini adalah pertanyaan yang sangat umum khususnya bagi 1 milyar jiwa yang saat ini masih hidup dalam garis kemiskinan. Tentu saja, tidak ada jawaban yang pasti, karena kemiskinan di satu tempat akan terlihat berbeda di tempat lain. Dalam beberapa kali kesempatan terjun langsung melalui Bill & Melinda Gates Foundation, Bill Gates telah menjumpai banyak orang khususnya di negara-negara miskin, mereka beternak ayam. Nampak jelas bagi Bill Gates bahwa siapapun yang hidup dalam garis kemiskinan, akan lebih baik bagi kehidupan mereka jika mereka memiliki ayam.

Berikut beberapa alasan mengapa beternak ayam merupakan satu hal yang dianggap menguntungkan:

  • mudah dan murah

Ayam tidak memerlukan makanan khusus, dan mereka cepat tumbuh. Bagi ayam betina yang dibutuhkan hanyalah semacam kandang supaya mereka bisa bertelur, dan ayam hanya sedikit membutuhkan vaksinasi, mengeluarkan biaya tidak lebih dari 20 sen.

  • investasi yang bagus

Ambil contoh: seorang petani memulai dengan memiliki lima ayam betina. Kemudian ada tetangganya memiliki seekor ayam jago untuk membuahi telur-telur dari betina tersebut. Setelah tiga bulan, petani tersebut akan memiliki kawanan sebanyak 40 anak ayam. Dengan harga jual 5 dollar per ayam, sesuai kondisi di Afrika Barat, petani ini akan mampu menghasilkan lebih dari 1000 dollar dalam setahun, bandingkan dengan batas garis kemiskinan di angka 700 dollar setahun.

  • membuat anak-anak tetap sehat

Malnutrisi telah membunuh lebih dari 3,1 juta jiwa anak-anak dalam setahun. Meski dengan memakan telur yang merupakan kaya nutrisi dan protein, mampu melawan malnutrisi, sebenarnya daging ayam ini juga bisa diolah untuk dikonsumsi oleh keluarga mereka.

  • memberdayakan kaum perempuan

Karakter ayam adalah hewan rumahan, dimana banyak budaya yang menghubungkannya sebagai hewan peliharaan kaum wanita, berbeda jika dibandingkan dengan kambing atau sapi. Kaum perempuan yang menjual ayamnya, kecenderungannya akan menginvestasikan kembali keuntungan tersebut bagi keluarga mereka.
Dr. Batamaka Somé, seorang antropologis yang berasal dari Burkina Faso dan juga bekerja untuk Gates Foundation, telah banyak meluangkan waktunya untuk mempelajari dan melakukan riset mengenai pengaruh beternak ayam secara prinsip ekonomi. Dalam video berikut akan menjelaskan banyak hal, mengapa beternak ayam dianggap sangat menguntungkan:

Kredit Foto: Stokpic


TIKETKU.ID

TIKETKU.ID adalah situs website yang memudahkan Anda untuk melakukan berbagai macam pembelian tiket acara yang akan berlangsung, seperti: konser, festival, seminar, sport, stand up, conference, dll.

Pembelian dapat dilakukan dengan cepat dan mudah tanpa perlu mengantri dan meninggalkan rumah atau tempat bekerja Anda. Dan pastinya pembelian di TIKETKU.ID akan selalu mengutamakan kenyamanan dan privasi Anda.

Nikmati berbagai kemudahannya: TIKETKU.ID

Bukan Perokok Di Ruang Perokok

Hampir seminggu lalu saya meluangkan waktu pulang dan mengunjungi ke kota tercinta, kota kelahiran, kota penuh dengan segala kenangan dan kota dimana saya dibesarkan, Yogyakarta.

Menyempatkan juga keliling ke beberapa tempat, hingga survey tempat hiburan kekinian, dan salah satunya mengunjungi satu tempat di bilangan Demangan Baru dimana merupakan tempat kawan-kawan lama berkumpul. Dan kebetulan yang me-manage tempat ini adalah seorang kawan baik juga.

Dengan konsep ala kitchen & bar tempat ini cukup menjadi daya tarik anak muda Yogyakarta khususnya, dan sejak dari awal saya mengamati beberapa DJ yang bermain cukup memiliki selera yang sangat oke, musik yang bukan ala-ala EDM kekinian, tapi cukup menawan hati. Mungkin mereka sedang memainkan genre underground dance & techno atau sejenisnya, saya kurang paham tapi saya sangat menikmati. Saya juga penasaran dan mengamati bagaimana gaya dan tingkah laku anak-anak muda Yogyakarta saat ini dan saya pun membandingkan dan membayangkan diri saya saat seumuran mereka hi... hi... hi..., saya pun tetap bisa bergaya kekinian, lho!

Nah, problem bagi saya sejak awal masuk tempat ini adalah saya memasuki ruangan area merokok. Hampir semua yang ada di tempat tersebut merupakan perokok, memang jadi masalah buat saya. Mata terasa pedas hingga akhirnya saya agak 'menepi' untuk menarik nafas dalam-dalam sejenak, mana baju dan seluruh badan sudah bau asap... he... he...

Hingga akhirnya jam hampir menunjukkan jam 02.00 lewat saya pun mohon pamit, harus balik ke hotel untuk siap packing buat terbang siang nanti. Saya mungkin akan mengusulkan kepada teman saya yang mengelola tempat ini untuk menyediakan satu ruangan khusus yang terbuat dari kaca transpasaran yang dimaksudkan untuk area khusus bukan perokok. Meski bukan perokok seperti saya, mungkin ada konsumen yang khusus datang untuk menikmati musik-musik dance yang disajikan. Dia bisa chill and cool, bisa juga sekedar menikmati makan dan minum, sambil tetap enjoy menikmati musik yang dimainkan si DJ tentunya, tanpa risau dengan asap rokok he... he...

Bagi saya sepertinya soal 'asap' ini sedikit memberikan efek, begitu bangun pagi tenggorokan terasa sakit, dan merasa flu mau datang... yang hingga saya menuliskan artikel di blog ini saya masih merasakan flu, pilek dan batuk... Well, I miss my hometown anyway!

Sedikit Catatan AADC2

Hari Kamis, 5 Mei 2016 kemarin akhirnya kesampaian juga nonton film Ada Apa Dengan Cinta 2, bareng ibu negara tentu saja, dan saat kami menonton kemarin sepertinya menjelang tembus atau melampaui jumlah penonton sebanyak 2 juta orang dalam kurun waktu delapan hari. Wow!!! Dan tentunya untuk mengantisipasi 'keramaian' karena kami malas mengantri tiket, sehari sebelumnya kami sudah kontak melalui satu layanan ojek kurir untuk mendapatkan tiket AADC2 tersebut, cukup menambahkan 20ribu saja untuk dua tiket, sebagai pengganti jasa.

Tidak hanya sekedar mengikuti euforia, tapi melalui film ini saya ikut penasaran dan sangat bangga karena ada beberapa teman yang ikut berpartisipasi di film tersebut. Sebut saja teman/sahabat yang sudah lama saya kenal seperti Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ, kemudian ada juga Pepeng bos Klinik Kopi, oya tampil juga DJ Vanda (yang saat syuting belum berjilbab - Alhamdulillah sekarangperform di satu scene dengan satu lagu tema official soundtrack AADC2 "Ora Minggir Tabrak" karya Kill the DJ. Pastinya lagu "Ora Minggir Tabrak" ini tidak ada di album Ada Apa Dengan Cinta 2 (Original Soundtrack) yang dirilis oleh label Aquarius, karena lagu "Ora Minggir Tabrak" dirilis secara mandiri.

Berkaitan dengan latar belakang setting film AADC 2 ini yang mungkin hampir 50% mengambil tempat di Yogyakarta, kota kelahiran saya, tentunya membawa kenangan tersendiri. Saya selalu kangen Yogyakarta, Jogja Istimewa! Oya yang sedikit teringat, saat scene Geng Cinta kembali ke Jakarta usai liburan di Yogyakarta, sepertinya setting mereka terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia (sponsor) Bombardier CRJ1000 Airbus A330-200/300. Karena saya melihat susunan jumlah bangku kursi yang terdiri dua lajur di sebelah kiri, dan mereka bukan duduk di kursi kelas bisnis. Sepengetahuan saya penerbangan Yogyakarta-Jakarta-Yogyakarta yang per hari ada hampir 10x penerbangan tidak ada yang menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 Airbus A330-200/300, hampir semuanya menggunakan Boeing 737-800. Coincidence?

Dan sepertinya film AADC2 ini membawa dampak (besar) bagi iklim pariwisata, kuliner, akomodasi/hotel, rental mobil, dan jasa travel di Yogyakarta. Promosi yang gratis bermanfaat bagi semua pihak tanpa harus melibatkan instansi/dinas terkait.

*Terimakasih @masjaki untuk koreksi pesawatnya

Sawut

Pagi ini tepat di peringatan Hari Pendidikan Nasional 2016, saya mendapat sedikit 'kejutan'. Saya menyebutnya sebagai kejutan karena seingat saya sudah cukup lama saya tidak melihatnya atau mencicipinya 😋.

Kejutan itu datang dari tempat jajanan pasar yang biasa saya beli, yang saat ini mulai menjual sawut, sawut singkong tepatnya. Dengan bahan yang sangat sederhana tapi menghasilkan cita rasa yang tiada duanya. Gurih, manis, nikmat... hmmm... Perlu untuk dilestarikan, bisa disajikan dalam suasana apapun, dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa ada pantangan, karena ini makanan yang sehat menurut saya.

Mengutip dari situs Kuliner Sehat, berikut bahan dan cara penyajiannya:

Bahan-bahan:

  • 500 gram singkong, kupas kulitnya dan cuci bersih kemudian diparut kasar
  • 150 gram gula merah, dicincang kasar
  • 1 sendok teh garam
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/4 butir kelapa diparut dan kemudian dikukus
  • Vanili secukupnya

Cara membuatnya:

  1. Campur singkong yang sudah diparut kasar dengan garam dan juga vanili. Aduk rata.
  2. Selanjutnya siapkan tempat pengukusan dan tata singkong dibagian bawah dan kemudian disusul dengan gula merah dan juga daun pandan.
  3. Setelah matang angkat dan keluarkan dari tempat pengukus.Kemudian aduk rata kembali adonan sawut agar gula merahnya tercampur rata dengan sempurna. Jika sudah selesai, maka sawut singkong pun siap disajikan dengan taburan perutan kelapa diatasnya.

Mau coba? Saya juga mau buat sendiri...

Kopi Indonesia

Menarik untuk selalu membaca bahasan soal kopi, seperti yang saya baca di Sinar tani - ED 3641 FEB 2016 melalui aplikasi SCOOP. Berikut kutipan tema editorial edisi ini... Mentan Menyapa: Menteri Pertanian, Dr. Andi Amran Sulaiman. Kopi Indonesia!

Kopi merupakan komoditas ekspor unggulan yang menjadi penyumbang terbesar keempat devisa negara setelah kelapa sawit, karet, dan kakao. Nilai devisa kopi mencapai US$ 1,4 miliar. Kita patut berbangga, ada tujuh produk kopi Indonesia diakui oleh dunia internasional. Tujuh single-origin speciality coffee Indonesia yang diakui tersebut adalah Kopi Gayo (Aceh), Kopi Java Preanger (Jawa Barat), Kopi Ijen (Jawa Timur), Kopi Kintamani (Bali), Kopi Bajawa (Flores, NTT), Kopi Toraja (Toraja, Sulsel), dan Kopi Kalosi (Enrekang, Sulsel). Perlu kita ingat baik-baik bahwa Indonesia merupakan surga untuk penikmat kopi.Tidak hanya tujuh kopi yang sudah diakui tersebut yang kita punya, tapi kita punya 39 jenis varian kopi spesial terbaik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Saya sampaikan bahwa petani harus mampu memastikan kualitas kopi yang  diproduksinya tetap terjaga, salah satunya melalui perawatan tanaman seperti bagaimana menggunakan pestisida yang tepat. Mengapa ini penting? karena harapannya agar pembeli kopi semakin banyak jumlahnya sehingga pasar kopi juga semakin meluas.

Selain pemakaian pestisida yang benar dan tepat agar tidak berbahaya bagi manusia, pemakaian pupuk juga diarahkan agar tidak berlebihan. Dengan pemakaian pupuk yang tidak berlebihan akan menekan pengeluaran para petani.

Selain kemampuan petani memilih biji kopi terbaik yang berwarna merah dan kuning. Saya kembali mengingatkan tentang pentingnya pasca panen, bagaimana petani menangani kopi setelah panen. Seperti menyangrai dan mengemasnya.

Para petani juga harus memastikan perawatan tanaman kopi pascapanen. Dengan menyeleksi cabang-cabang yang tidak berguna, cabang-cabang tersebut harus dihilangkan agar buah kopi pada panen selanjutnya semakin banyak.

Negeri kita yang kaya akan jenis kopi ini, sangat berpotensi menggantikan Brazil sebagai penyuplai kopi peringkat satu dunia. Saat ini, Indonesia berada di posisi kelima. Posisi pertama penyuplai kopi dunia ditempati Brazil, diikuti Vietnam, Kolombia, dan Jerman.

Mari kita lihat beberapa alasannya. Pertama, luas perkebunan kopi Indonesia cukup luas dan memiliki jenis kopi terbaik di dunia. Lahan perkebunan kopi mencapai 1,24 juta ha atau 96,16% dari luas lahan perkebunan secara keseluruhan. Lahan tersebut terbagi menjadi lahan perkebunan kopi robusta 933 ribu ha dan perkebunan kopi arabika 307 ribu ha. Rata-rata luas kepemilikan lahan petani sebanyak 0,6 ha. Bandingkan dengan luas perkebunan kopi Vietnam hanya 550 ribu ha. Selain itu, kualitas kopi robusta Indonesia lebih unggul daripada Vietnam.

Kedua, permintaan akan kopi Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat lantaran kopi robusta asal Indonesia lebih unggul, juga dengan kopi arabika yang mempunyai karakteristik serta cita rasa unik. Produk kopi di Indonesia dikenal sangat beragam dari sisi rasa dan aroma.

Sayangnya dari sisi produktivitas, kita masih harus tingkatkan lagi. Produktivitas tanaman kopi robusta sebanyak 741 kg biji kopi per hektar tiap tahunnya. Sedangkan produktivitas kopi arabika 808 kg/ha per tahunnya. Produktivitas kopi kita masih rendah. Sebagai perbandingan, rata-rata produktivitas petani kopi Brazil sebanyak 2.000kg/ha/tahun dan Vietnam 1.500/kg/ha/tahun. Kita masih 50% lebih rendah. Padahal kita memiliki lahan potensial jauh lebih besar.

Beberapa hal juga harus menjadi perhatian, salah satunya kita harus mengganti tanaman yang tua yang umurnya berkisar 20-30 tahun dengan tanaman yang muda. Karena hampir 40% dari luas lahan perkebunan itu usianya sudah tua. Termasuk juga, produsen kopi kita perlu untuk meningkatkan kualitas kopi di pasar ekspor melalui brand kopi asal Indonesia.

Alhamdulillah, meskipun begitu, rata-rata volume ekspor kopi Indonesia mengalami kenaikan. Berkisar 350 ribu ton per tahun meliputi kopi robusta (85%) dan arabika (15%). Dan ada sekitar 50 negara menjadi tujuan ekspor, beberapa diantaranya adalah negara ekspor utama yaitu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Italia, dan Inggris.

Dan perlu kita ketahui bahwa Italia merupakan konsumen utama kopi terbesar dunia setelah Amerika Serikat dan Jerman, sementara di Uni Eropa, Italia adalah konsumen terbesar kedua setelah Jerman.

Selain itu, ada juga ekspor kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi ke berbagai negara, semisal Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, China, dan Uni Emirat Arab.

Kopi spesial yang dimiliki Indonesia memang punya potensi yang sangat bagus. Jenis kopi spesial yang dimiliki Indonesia lebih banyak daripada jenis kopi yang dimiliki negara lain. Indonesia bisa menjadi nomor satu pemasok kopi spesial karena di beberapa negara hanya punya satu sampai dua jenis kopi spesial. Dan prospek pengembangan kopi khususnya jenis arabika masih terbuka luas. Jenis kopi terbaik dengan citrarasanya yang khas ini sudah menempati pasar ekspor seperti di Amerika Serikat yang sulit digantikan kopi dari negara lain. Luar biasa bukan?

Industri kopi nasional kita baru mampu menyerap sekitar 35 persen produksi kopi dalam negeri dan sisanya sebesar 65 persen masih diekspor dalam bentuk biji. Artinya, peluang pengembangannya masih terbuka lebar. Ke depannya, industri pengolahan kopi melakukan diversifikasi produk kopi tidak hanya dikembangkan sebagai minuman, namun juga dalam bentuk produk lainnya, semisal komestik, farmasi, dan essen makanan. Kita ingin meningkatkan kualitas ekspor kopi dari kopi biji menjadi kopi bubuk atau produk olahan lainnya sehingga mampu meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar internasional.

Saya fikr, pemerintah daerah yang daerahnya menjadi pusat produksi kopi bisa mulai secara fokus dan serius memberikan acuan terkait tata kelola dan tata niaga kopi di daerahnya masing-masing salah satunya melalui peraturan gubernur, sehingga citra perkopian di daerah itu dapat terjaga.yang diharapkan menjadi acuan bagi pembinaan dan pengawasan perkopian lokal.

Alhamdulillah, dalam upaya menggenjot produksi kopi nasional, Kementerian Pertanian mendorong pengembangan klaster agribisnis kopi di 14 propinsi dan 41 kabupaten di Indonesia. Kami sudah mendesain pengembangan kawasan atau klaster agribisnis kopi. Areal yang dibidik pada tahun 2015 mencapai 34.225 hektar (ha). Target luas areal produksi kopi tersebut adalah yang terbesar selama empat tahun terakhir yang berkisar 6.000an ha.

Pengembangan kawasan kopi melalui model kawasan agribisnis kopi ini meliputi pengembangan dari hulu sampai hilir dengan infrastruktur memadai antara lain jalan, listrik energi dan pelabuhan.  Kegiatan pengembangan kopi jenis arabika bertumpu pada perluasan, pengutuhan dan intensifikasi tanaman. Sementara jenis robusta difokuskan melalui rehabilitasi peremajaan tanaman.

Insya Allah, jika kita sudah melakukan gerakan meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi nusantara, serta mempromosikan peningkatan konsumsi kopi nusantara ke luar negeri, selain meningkatkan produktivitas kopi di petani, maka kopi dapat meningkatkan pendapatan devisa negara lebih dari yang saat ini. Dan Indonesia perlahan-lahan bisa menggeser negara lainnya. Indonesia pernah menguasai kopi dunia. Saya yakin peluang Indonesia masih cukup terbuka lebar.

Sumber: Tabloid Sinar Tani

Kredit Foto: Death to The Stock

Blog Yang Lain

Oiya, selain di blog ini saya juga mulai sedikit aktif di blog yang lain, antonkurniawan.xyz, menggunakan platform WordPress yang menurut saya awalnya agak rumit bagi orang yang awam. Menulis seadanya dan berbagi ini dan itu, lebih spesifik lagi tentang musik, media sosial dan usaha rintisan.

Saya bukan orang yang tahu dan memahami tentang semua hal, masih harus banyak mengejar ketinggalan, kudu banyak belajar intinya. Mudah-mudahan banyak hal yang bisa kita bagi dan diobrolkan di blog ini dan blog itu. Cheers!


Unicorn dari Asia Tenggara

Situs Techcrunch pada hari ini merilis artikel The Unicorns of Southeast Asia ditulis oleh kontributor Choon Yan. Rilis ini cukup menarik bagi saya, karena dalam beberapa waktu sering mengenal dan membaca istilah unicorn di beberapa media khususnya yang membahas seputar startup, teknologi dan entrepreneur. Secara sederhana yang dimaksud dengan unicorn adalah sebuah perusahaan yang telah mencapai valuasi sebesar USD1 milyar atau lebih.

Mengutip dari situs tersebut, berikut daftar perusahaan di Asia Tenggara yang masuk daftar atau kategori unicorn, meminjam istilah Choon Yan, lebih tepatnya disebut sebagai perusahaan Komodo Dragon:

Sebuah perusahaan platform game yang berbasis di Singapura didirikan pada 2009. Memiliki pengguna aktif 17 juta untuk platform desktop dan 11 juta orang yang aktif tiap bulannya untuk pengguna mobile, dan telah mampu meraih revenue tahunan sebesar USD200 juta.

Perusahaan aggregator taxi terbesar di Asia Tenggara, berkantor di Malaysia sejak 2011. GrabTaxi adalah merupakan penantang utama dari Uber. Tersedia di 6 negara dan ada di 22 kota, GrabTaxi memiliki 1,5 juta booking tiap harinya.

Didirikan di Singapura pada 2011. Didukung secara penuh oleh investor Rocket Internet, Temasek Holdings. Setelah memperoleh pendanaan terakhir, Lazada berencana untuk meningkatkan kenyamanan berbelanja antara lain dengan perbaikan di bidang logistik, solusi pembayaran dan juga berhubungan dengan penjual pihak ketiga.

Perusahaan penyedia perangkat keras untuk game yang berdiri pada 2005 di Singapura. Didirikan oleh Tan Ming-Liang yang merupakan pengacara dan sosok Robert Krakoff yang merupakan teknologiwan. Baru saja membuka toko konsepnya di Bangkok, menyusul Taiwan dan Manila.
Dari lokal Indonesia, marketplace terbesar yang berdiri sejak 2009 besutan William Tanuwijaya. Mendukung kegiatan UKM dan perorangan untuk membuka toko online secara gratis, dan ada pilihan berbayar dengan berbagai menu tambahan. Didukung secara penuh oleh investor besar East Ventures dan Sequoia Capital, dimana bagi keduanya merupakan investasi pertamanya di Asia Tenggara.

Masih dari Indonesia, perusahaan yang berdiri sejak 2012 digawangi oleh Ferry Unardi jebolan Harvard, Derianto Kesuma yang pernah bekerja di LinkedIn sebagai engineer, dan Albert. Menurut catatan SimiliarWeb, pada bulan November 2015 Traveloka memiliki hampir 3,7 juta pengunjung. 

Perusahaan asal Vietnam yang berdiri pada 2004 yang awalnya berbisnis lisensi game, merupakan kompetitor Garena. Kemudian merambah ke music download, mobile game dan yang jadi favorit aplikasi chat, Zola.

Dari sekian daftar unicorn ini, Go-Jek yang merupakan karya anak bangsa dan sudah mendapatkan funding dari Sequoia Capital, serta nampak hiruk pikuk di sepanjang 2015 tidak masuk daftar ini. Mungkin saja masih jauh dari valuasi USD 1 milyar?

image credit: Pixabay