Memahami Generasi Z

Pada hari Senin tanggal 22 Mei 2017 lalu, saya baca tautan mengenai infografis menarik yang dirilis oleh Adweek. Kemudian saya mengirimkan satu Twit, tentang memahami Generasi Z. 

Generasi Z adalah generasi yang lahir pada periode antara tahun 1996 hingga tahun 2010. Generasi yang memang tumbuh dan besar dalam lingkup digital dan mobile, berbeda dengan generasi sebelumnya: generasi milenial. Generasi Z 'sangat terbiasa' dengan platform ataupun aplikasi kekinian: YouTube, Instagram, Facebook, Snapchat, Twitter, Google+, Pinterest, Tumblr, dll.  

Dari infografis tersebut kita bisa melihat bagaimana generasi yang berusia dari 13 hingga 20 tahun ini merupakan konsumen aktif YouTube, mulai dari kebutuhan untuk hiburan, rekomendasi belanja, mencari berita hingga informasi, hampir sebagian besar menjadikan YouTube sebagai aplikasi yang diandalkan.

Bagaimana digital marketer bisa melihat peluang dari sini? Ayo kita share...

Welcome to Lampung

Di bidang pariwisata, Pemerintah Provinsi Lampung akan membuat skema Pariwisata Terpadu. Skema pengembangan ini menjadikan area Barat Lampung sebagai kawasan wisata terpadu. Tujuh kawasan wisata unggulan pun sudah ditetapkan antara lain:

  • Teluk Kiluan
  • Tanjung Setia
  • Wisata Bahari Krui
  • Menara Siger
  • Gunung Anak Krakatau
  • Pulau Sebesi
  • kawasan wisata Kota Bandar Lampung

Dan Untuk Daerah Kawasan Wisata Potensial Pemerintah Provinsi Lampung telah menetapkan, diantara lain:

  • Kawasan Wisata Maritim Teluk Lampung
  • Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman (TAHURA WAR)
  • Teluk Kiluan sebagai kawasan wisata dengan Konsep Pemberdayaan Masyarakat dan Luxurious Resort Teluk Nipah
  • Pengembangan kawasan TNWK “Lampung Safari Way Kambas Park and Conservation Center”
  • Pengelolaan Zona Pemanfaatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)
  • Pembangunan Marina yang terintegrasi dengan kawasan wisata Teluk Lampung serta Kawasan Wisata Teluk Nipah

Program promosi terus digencarkan baik ditingkat lokal maupun mancanegara untuk mengundang minat turis berwisata ke Lampung. Pembangunan infrastruktur wisata seperti jalan menuju lokasi secara bertahap dilakukan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menunjukkan, tingkat kunjungan wisatawan ke Lampung terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2015, total pengunjung wisata hanya 5.645.710 orang, terdiri dari 5.530.803 orang wisatawan nusantara dan 114.907 orang dari mancanegara. Memasuki November 2016, total wisatawan yang berkunjung mencapai 7.449.677 orang, dengan rincian 7.296.721 orang dari domestik dan 152.956 orang wisatawan asing.

Untuk mengantisipasi terus melonjaknya kunjungan wisatawan, Pemerintah Provinsi Lampung tengah meningkatkan kapasitas Bandara Raden Inten II menjadi Bandara Internasional sekaligus embarkasi haji dan sub hub dari Bandara Soekarno Hatta. Bandara Radin Intan II merupakan satu-satunya di Indonesia yang memiliki gedung parkir berlantai empat dibawah pengelolaan Kementerian Perhubungan yang mampu menampung 700-800 kendaraan.

Sebagai bandara kelas internasional, akses menuju Bandara Radin Intan II kini dilengkapi angkutan pemandu moda yakni bus Trans Lampung dari Bandara menuju ibukota Bandar Lampung yang mencapai 28 km. Pada 2017, akses bus ke Bandara bakal diperkuat armada Damri ke jurusan Kalianda (Lampung Selatan), Metro dan Sukadana (Lampung Timur), Liwa (Lampung Barat), dan Tulang Bawang via Bandar Jaya (Lampung Tengah). 

Dukungan terhadap kemudahan akses wisatawan ke area berselancar Tanjung Setia juga didukung kesiapan Pemkab Pesisir Barat menghibahkan aset tanah Bandara seluas 76 ha kepada Kementerian Perhubungan sebagai langkah penambahan panjang area pacu bandara dari 23 m x 1.100 m menjadi 2.200 meter. Menariknya, pada tahun ini, Bandara Pekon Serai di Kabupaten Pesisir Barat diproyeksikan dapat melayani penerbangan pesawat ATR dari Jakarta-Pekon Serai dan kota-kota lain di Sumatera.

If there's any entrepreneur or business people who interested in investing in Lampung, please do contact me. Let's build Lampung for the future!


Ref: Kadin Lampung 2017

Wisata Religi di Seoul

Menyambung tulisan saya minggu lalu mengenai Republik Kopi, yaitu mengenai seluk beluk maraknya dan populernya kedai kopi di Korea Selatan. Dalam tulisan yang sekarang ini, saya ingin menyajikan kisah singkat dan pengalaman saat mengunjungi wilayah muslim di Korea Selatan. Sebagai seorang muslim di hari Jumat, saya diwajibkan untuk melaksanakan ibadah solat Jumat. Beberapa hari sebelumnya saya sudah menginfokan ke istri bahwa pada hari Jumat nanti kita akan menuju daerah Itaewon, dimana terdapat bangunan Masjid Sentral Seoul.

Masjid Sentral Seoul dibangun pada tahun 1974 dan resmi dibuka pada 21 Mei 1976. Dengan luas 5.000 meter persegi, masjid ini dibangun dari dana sumbangan negara-negara Muslim. Berlokasi di Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul, adalah merupakan masjid pertama yang ada di Korea Selatan. Lantai pertama masjid ini dipergunakan sebagai ruang pertemuan dan merupakan kantor dari Federasi Muslim Korea. Di lantai dua adalah merupakan tempat solat dan ibadah bagi laki-laki, dan lantai ketiga untuk beribadah bagi wanita. Di area masjid ini juga terdapat Islamic Center yang memiliki madrasah dan juga Islamic Culture Research Institute.

Untuk menemukan wilayah Itaewon tidak terlalu sulit. Dengan bermodalkan peta yang kami unduh di telpon genggam, dari tempat kami menginap kami langsung menuju stasiun Euljiro 3 (sam)-ga dan lanjut menuju Itaewon. Sebelum mencapai Masjid Sentral Seoul kita akan menjumpai banyak restoran yang menyajikan makanan halal. Mulai dari restoran ala Turki, India, Melayu, hingga ada restoran yang memasang tulisan "Selamat Datang" di pintu kacanya, yang sepertinya ingin memberikan kesan akrab bagi masyarakat Indonesia yang sedang berkunjung. Sebelum solat Jumat saya dan keluarga menyempatkan mampir di Muree, yang tentunya menyajikan hidangan khas Korea secara halal. Kami mencoba mencicipi samyang tang / ayam rebus Korea.

Saat berada di dalam restoran kami pun menjumpai beberapa masyarakat Indonesia yang sedang berlibur dan pada siang itu juga ingin menunaikan ibadah solat Jumat. Kami pun sempat mengobrol dengan rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu dari salah satu BUMN yang sedang melakukan trip di Seoul. Meski berada di negeri orang, dengan melihat dan merasakan suasana demikian jadi merasa sangat nyaman dan bersahabat. 

Berharap suatu saat bisa datang lagi ke Korea Selatan yang memiliki potensi besar di bidang ekonomi kreatif, tentunya tidak hanya untuk berlibur dan menikmati jalan-jalan, namun juga untuk berbisnis.

Republik Kopi

Hampir sebulan lalu kami sekeluarga berkunjung ke Korea Selatan. Take-off sekitar jam 23:30 dari CGK menuju Seoul, Korea Selatan dengan menggunakan pesawat Airbus A330-343 (PK-GPX), dan tiba di bandara Incheon sekitar pukul 08:30 waktu setempat. 

Perjalanan dalam rangka liburan ini dengan total waktu hampir 8 hari menjelajah ke berbagai tempat di Seoul. Secara terpisah nantinya saya akan menurunkan cerita singkat secara berseri mengenai pengalaman perjalanan selama di Korea Selatan kemarin. Salah satunya yang saya tampilkan sekarang adalah kisah mengenai keberadaan cafe atau coffee shop yang nampak begitu menjamur di Seoul. Bisa dilihat dari foto-foto diatas aneka ragam bentuk kedai kopi, mulai dari kelas yang minimalis hingga kelas yang eksklusif.

Saya juga baru tahu kalau kepopuleran dan hits-nya tempat ngopi di Korea Selatan ini juga salah satunya didukung oleh tayangan drama Korea, dimana dalam beberapa adegan mengambil setting di tempat ngopi tersebut. Maklum saya jarang atau tidak pernah menonton drama Korea, kecuali istri saya yang sangat menggemari dan merupakan fan berat he he... Oya, dari tayangan drama tersebut sepertinya juga menjadi salah satu pemicu dan mempengaruhi anak-anak muda di Korea Selatan untuk rajin mendatangi tempat-tempat ngopi, tren ini juga diikuti dengan munculnya banyak kedai kopi baru. Mungkin ini juga yang membuat pemilik brand besar semacam almarhum penyanyi reggae legendaris Bob Marley, dengan dikelola oleh sang anak, Rohan Marley, membangun kerajaan bisnis Marley Coffee di Korea Selatan sejak 2014. Marley Coffee sendiri dibangun oleh Rohan Marley sejak tahun 2009. Foto-foto Marley Coffee (Gangnam) bisa dilihat di akun Instagram saya disini.

Menurut data ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) Busan, peluang pasar produk kopi di Korea Selatan masih cukup besar. Hal ini terlihat dari nilai impor kopi Korea Selatan dari dunia pada 2015 sebesar US$ 547,05 juta. Sedangkan, nilai ekspor produk kopi Indonesia ke Korsel pada 2015 sebesar US$ 10,81 juta. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 30,86 persen dari nilai ekspor kopi Indonesia di 2014 yang senilai US$ 7,47 juta. Tren ekspor kopi Indonesia ke Korea Selatan selama 5 tahun terakhir menunjukkan peningkatan sebesar 6,89 persen.

Seiring juga dengan maraknya keberadaan kopi di berbagai wilayah di Indonesia saat ini, harapannya 'industri kopi' ini bisa memberikan berkah untuk banyak pihak, dan sustainable. Tidak hanya memberikan keuntungan besar bagi eksportir, pemilik cafe ataupun 'para ahli kopi', tapi bisa juga membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi petani-petani kopi di seluruh wilayah Indonesia. 

Selamat datang di Republik Kopi!