Asuransi Kacamata

Sekitar minggu lalu di awal Januari 2015 akhirnya saya memutuskan untuk berganti kacamata, setelah mungkin hampir tiga tahun saya belum pernah berganti kacamata dengan kondisi frame yang mengelupas di beberapa bagian dan lensa yang kini sudah nampak kabur dan bergaris. Setelah mendatangi salah satu optik, dimana sejak awal saya memakai kacamata (2002/2003?) saya hanya mendatangi optik ini saja baik di Yogyakarta ataupun di Jakarta, tidak pernah membeli kacamata di tempat atau toko lain. Mungkin karena sudah merasa cocok dan nyaman dengan pelayanannya, dan juga cocok dengan jenis frame yang saya inginkan.

Setelah nge-tes mata dalam beberapa tahap dengan peralatan milik optik yang sudah modern, akhirnya baru tahu kalau minus saya bertambah. Yang dulunya kiri-kanan 0.75, kini bertambah menjadi 1.50... errr nampaknya faktor usia cukup berpengaruh :). Terakhir beberapa tahun lalu saat pulang ke Yogyakarta saya menyempatkan datang ke rumah sakit mata Dr. Yap untuk 'validasi dan akurasi' mata minus, dan hasilnya juga tidak berbeda dengan ukuran dari optik.

Saat di optik baru tahu kalau saat ini ternyata ada perlindungan asuransi untuk kacamata. Dengan 90% di-kover untuk penggantian (dalam bentuk voucher) termasuk lumayan lah apabila kacamata rusak, atau patah bukan karena disengaja tentu saja. Tentang prosedur dan syarat/ketentuan detailnya ada disini.

Semoga informasinya bermanfaat.

Menuju 2015, 15 Tahun Menjelang 2030

Beberapa jam menjelang penghujung tahun 2014 ini, ijinkan saya memohon maaf apabila sepanjang 2014 lalu ada tulisan atau uneg-uneg saya di blog ini yang mungkin menyinggung teman-teman sekalian. Tidak ada maksud apapun, karena lewat blog ini saya hanya ingin memberikan dan membagi hal-hal yang sifatnya positif dan membangun saja, yang tentunya dimaksudkan untuk memotivasi saya pribadi agar menjadi manusia yang lebih maju, lebih baik, dan bermanfaat bagi banyak orang. Dan mungkin saja ada orang lain yang membaca blog ini juga merasa terbantu.

Saya juga ingin mengucapkan taksiah duka cita dan memanjatkan doa bagi mereka yang telah berpulang yakni para penumpang dan awak/kru pesawat AirAsia QZ8501, semoga diterima dengan baik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan. Saya masih berharap akan adanya keajaiban, minimal masih ada yang selamat.

Oya, tahun baru, awal baru, 2015, semoga membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi kita semua, keluarga kita, sanak saudara kita, teman-teman kita. Dengan banyak harapan dan mimpi mudah-mudahan segalanya bertambah lebih baik dibanding sebelumnya. 

"In the end, it's not the years in your life that count. It's the life in your years." (Abraham Lincoln)  

Selamat Tahun Baru 2015...

(image via Life of Pix)

Kisah Gagal 2014

(image via Kaboompics)

Mungkin sudah terlalu banyak kita mendengar kisah sukses, kisah inspiratif, dari para entrepreneur, business-owner, pelaku usaha ataupun mereka yang baru saja terjun di dunia kewirausahaan. 'From zero to millionaire' bukan hal yang tidak mungkin.

Saya juga sudah banyak membaca artikel ataupun mendengar langsung cerita dan kisah di balik kesuksesan seseorang. Yang jarang saya dengar dan baca adalah kisah gagal. Ya, gagal! Saya pikir ini juga merupakan hal penting untuk diketahui. Bisa menjadikannya sebagai pelajaran mahal dan pengalaman untuk kita para pelaku usaha, baik dalam lingkup usaha mikro, usaha kecil, menengah ataupun pebisnis kelas kakap.

Tentunya konteks 'gagal' dalam dunia usaha disini meliputi banyak aspek; mungkin saja salah perencanaan, terlilit hutang, produk atau jasa yang kurang menarik, SDM yang kurang kompeten, ditipu supplier/klien, ditelikung teman sendiri/partner dan lain sebagainya.

Ada yang mau 'share' kisah gagalnya di sepanjang tahun 2014 kemarin?

Berangkat Ke Jepang

Setelah lumayan deg-degan menunggu kabar soal visa dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, akhirnya pada hari Kamis (27 November 2014) lalu, saya sudah bisa lega. Awal mulanya memang kami sekeluarga (anak & istri) beserta adik-adik dan keluarganya berencana untuk melakukan trip ke Jepang. Memang diputuskan untuk tidak menggunakan layanan paket tour yang ditawarkan beberapa travel agent, tapi kami memang akan melakukan perjalanan secara mandiri, secara kalau ke Jepang minimal saya pernah ke Osaka-Kyoto-Kobe selama beberapa hari, tapi itu 12 tahun yang lalu ha ha ha...

Awalnya, dijadwalkan untuk berangkat (Jakarta-Tokyo) pada tanggal 29 November 2014, beberapa minggu sebelumnya sudah 'book' tiket pesawat untuk rombongan sebanyak 9 orang termasuk 'infant', dan sudah berkali-kali melakukan 're-book' karena masih harus menunggu kabar visa dari kedutaan. Baru pada tanggal 25 November 2014 dapat kabar kalau visa untuk rombongan sudah rilis, namun kecuali permohonan visa milik saya, istri dan anak yang belum :-(.

Untuk memastikan visa, saya pun harus menghubungi per telepon ke Kedutaan Besar Jepang di line 021-31924884 selama dua kali menanyakan rilis visa yang tertunda milik kami. Hingga pada hari Kamis itu akhirnya semua bisa beres. Karena waktu sudah mepet, akhirnya keluarga memutuskan untuk menunda sehari jadwal keberangkatan lumayan biar ada waktu persiapan. 

Kemudian langsung saja saya kontak orang Garuda Indonesia soal 'issued' tiket untuk keberangkatan hari Minggu 30 November 2014, semuanya aman dan terkendali. Kami dijadwalkan terbang dengan GA874, Boeing 777-3U3 (ER). Sambil meminta 'booking seat' untuk rombongan, karena ada permintaan untuk 'baby-bassinet'. 

Penerbangan dengan pesawat baru Garuda Indonesia yang masih berumur 4 bulan ini, PK-GIG, CGK-HND ditempuh selama hampir 7 jam 40 menit, dan tiba di bandar udara internasional Haneda pada dini hari sekitar pukul 23.30 waktu setempat mendarat dengan sempurna dan 'smooth' saya merasakannya. Setelah proses imigrasi yang cepat dan bagasi keluar, kami langsung mencari taxi untuk menuju hotel. Di lift sempat mengobrol dengan seorang bapak yang tadi ternyata satu pesawat dengan kami, beliau orang asli Jepang namun ternyata sangat fasih dan logat Indonesia-nya sangat kental. Beliau menanyakan dimana hotel kami, dan menginformasikan kalau satu-satunya transportasi adalah taxi karena sudah lewat tengah malam, dan tidak ada jadwal kereta alias transportasi yang murah. 

Sebelumnya kami memang sudah antisipasi, dari mengumpulkan berbagai informasi, bahwa minimal bayar taxi dengan rute dari airport ke hotel (daerah Kodemmacho) bisa habis antara 900 ribu hingga 1 juta, dan memang terbukti he he he... Kami menggunakan dua taxi dengan perjalanan sekitar 30 menit untuk tiba di hotel. Masing-masing taxi bayar argo sekitar ¥9280 atau kurang lebih sekitar 975 ribu rupiah.

Bangun agak siang, kemudian saya langsung bersiap. Mendapat tugas sebagai 'pemimpin' rombongan dan komandan regu  he he he... Karena melihat jumlah rombongan kami yang agak banyak, jadi tidak mungkin kalau bepergian menaiki taxi menjelajah Tokyo dan sekitarnya. Pilihan utama adalah menaiki kereta api, yang terbukti murah dan tepat waktu. Akses internet wifi yang terbatas menggunakan smartphone, mengharuskan saya untuk berpikir secara analog. Dengan modal tiga buah peta: 1 peta yang berisi rute akses dari hotel ke stasiun-stasiun terdekat di sekitarnya yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, 1 peta yang berisikan rute kereta api milik Tokyo Subway dan 1 peta lagi rute milik JR East Railway. Voilà... semuanya lancar jaya, dalam waktu sehari saya bisa melahap dan memahami semua rute kereta api ini, tidak pernah tersesat ataupun nyasar sekalipun selama hampir seminggu di Jepang he he.

Oya, kalau boleh share tentang kunjungan ke beberapa tempat di Jepang kemarin, ini itinerary sederhana dari kami:

  1. 30 Nov: Haneda (arrival)
  2. 01 Des: Shibuya
  3. 02 Des: Maihama - Tokyo Disney Sea
  4. 03 Des: Fujiko F. Fujio Museum (Doraemon)
  5. 04 Des: Asakusa
  6. 05 Des: Tokyo Disneyland
  7. 06 Des: Akihabara - Shinjuku
  8. 07 Des: Harajuku
  9. 08 Des: Haneda (departure)

Pada tanggal 7 malam kami siap-siap berangkat menuju airport Haneda, kali ini menggunakan 3 taxi karena bawaan bertambah banyak ha ha ha. Satu taxi perjalanan dari hotel menuju airport menghabiskan ¥7890 atau sekitar 828 ribu. Dan tepat 8 Desember 2014 dinihari 00.30 waktu setempat, kami siap-siap kembali ke Jakarta dengan GA875 yang menggunakan PK-GIF. Lumayan mendarat agak 'keras' di CGK sekitar pukul 06.50 WIB.

Semoga ada kesempatan lagi buat saya dan keluarga untuk berkunjung dan menjelajah ke Jepang. Minimal ada peluang bisnis yang bisa dikerjakan secara kontinyu sehingga bisa bolak-balik ke Jepang lagi. Berbisnis sambil liburan, nampaknya merupakan komposisi yang sangat pas :-). Oya, dengan memiliki e-paspor tentu kita tidak perlu pusing lagi soal visa ke Jepang mulai awal Desember ini.

Arigatou gozaimasu! ありがとうございます

 

Netizen Indonesia 2014

Berikut infografis yang baru saja dirilis Adways Indonesia tentang pertumbuhan internet di Indonesia dan juga perkembangan perdagangan elektronik (e-commerce) beserta media sosial.

(via http://adways-indonesia.co.id/infographic-indonesia-netizen-2014/)

Membangun Personal Branding

(image via http://www.gratisography.com/)

Sabtu sore yang mendung saat ini, di rumah sendiri saja ditemani segelas teh panas, anak istri sedang jalan-jalan ke luar rumah.

Saya sedang memikirkan mengenai konsep membangun "personal branding" (untuk diri sendiri), dulu sempat ingin sedikit membahasnya, dan mumpung sekarang teringat saya coba membagi kisah singkat, tapi bukan untuk mengajari atau menggurui.

Setiap orang tentunya memiliki 'kemasan' yang memang sudah menjadi pembawaan dari lahir atau bisa juga secara sengaja merupakan penciptaan karakter baru dan kekinian (pencitraan?). Seseorang yang memang baik tentu akan dikenal sebagai orang yang baik, demikian pula sebaliknya. Di dalam lingkungan sosial kemasyarakatan ataupun dalam lingkup dunia maya ala media sosial kita bisa langsung menilai bagaimana bagaimana 'kemasan' yang dimiliki seseorang tersebut, misal dengan orang yang baru ditemui, sahabat yang telah lama dikenal, atau dengan saudara terdekat sekalipun.

Sudah pasti, tentu kita ingin memiliki 'branding' yang bagus. Orang ingin menilai kita sebagai orang yang baik tanpa harus berpura-pura baik. Tidak harus terlihat keren atau menawan secara fisik, namun dari apa yang kita ucapkan, cara kita berbicara, cara kita menanggapi atau berinteraksi dengan seseorang atau siapapun, orang sudah bisa menilai bagaimana sebenarnya persona kita.

Bingung dengan apa yang saya tulis? Tidak perlu bingung... cukup sederhana saja, karena kita hanya perlu terlihat apa adanya dan tidak perlu berpura-pura.

UU Hak Cipta 2014 dan Ekonomi Kreatif

(image via http://www.gratisography.com/)

Sudah hampir sebulan ini DPR telah mensahkan revisi dari Undang-Undang No. 19 Tahun 2009 tentang Hak Cipta. Dan saya baru menemukan link dari situs Hukum Online soal draft final revisi RUU Hak Cipta Tahun 2014 ini. Saya ingin membaca dan mencoba memahaminya sebagai orang awam.

Berhubungan dengan kabinet pemerintahan Jokowi yang akan diumumkan pada Minggu sore ini, saya belum melihat apakah bagian "Ekonomi Kreatif" yang selama ini menjadi bagian "Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif" akan berada dalam payung yang sama atau akan dibuatkan dalam satu badan/ditjen yang secara mandiri berhubungan dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Beliau pak Jokowi pernah 'menjanjikan' bahwa ekonomi kreatif akan menjadi salah satu program andalan di pemerintahannya, karena ekonomi kreatif terbukti mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menggerakkan sektor riil.

Semoga saja dengan Undang-Undang Hak Cipta Tahun 2014 terbaru ini dan dengan adanya pemerintahan baru yang berkomitmen, bisa lebih memajukan dan mendukung para pelaku industri dan ekonomi kreatif.

Mengeksekusi Ide

(image via http://www.gratisography.com/)

Memang betul, ide bisa datang dari mana saja, kapan saja, ide apapun. Saya pun sering mengalaminya. Dengan spirit kemandirian dan kewirausahaan yang masih saya coba pelajari dan terapkan, ide-ide tersebut secara tiba-tiba bermunculan begitu saja. Seperti beberapa ide di bawah ini:

Hampir semuanya bukan ide orisinal dan sebenarnya ide-ide tersebut sangatlah murah, dalam artian tidak berharga sama sekali bila hanya sekedar ide atau gagasan begitu saja. Yang dibutuhkan adalah eksekusi, pelaksanaan, mewujudkan dan merealisasikan ide-ide tersebut menjadi karya nyata yang bermanfaat.

Semoga saya memiliki kesempatan untuk mewujudkan ide tersebut satu demi satu, sesuai impian saya untuk menjadi sosok entrepreneur yang sukses dan memiliki bisnis atau usaha yang 'sustainable' alias berkelanjutan, yang bisa diwariskan kepada anak cucu kelak. Amin.