You Can't Pick Your Passions

Passions, "they pick you," Bezos says in a Blue Origin video recently posted on YouTube. 

"I think we all have passions, and you don't get to choose them. But you have to be alert to them," explains Bezos. "You have to be looking for them."

"Passion-lah yang memilih kita... Kita semua memiliki passion, dan kita tidak bisa memilih itu... namun kita akan diberi peringatan akan hal itu. Kita harus mencari passion itu...

Lumayan untuk terus memotivasi saya di awal 2019 ini... maju terus... terus maju...


Sumber: CNBC

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik

Pengelolaan Data Demografi Penggemar Musik (PDDP Musik) judul yang saya berikan dalam tulisan blog kali ini, setelah saya terinspirasi membaca satu artikel minggu lalu yang merilis berita kerjasama antara layanan pengaliran musik (music streaming) Spotify dengan Nielsen yang merupakan perusahaan riset global.

De.mo.gra.fi /démografi/ yang mengacu pada KBBI berarti: ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; ilmu kependudukan.

Informasi demografi dari penggemar musik ini mungkin kita belum melihatnya sebagai kesatuan "big data" yang sebenarnya merupakan 'aset' yang sangat berharga. Big data yang salah satunya bersumber dari konten media sosial, gambar digital dan video, pembelian dan transaksi daring, twit, telepon seluler, dll., semuanya bisa dimanfaatkan, diolah, disimpan serta bisa dianalisa dalam beragam bentuk format. Tentunya tidak hanya berkaitan dengan demografi.

Terkait dengan pengelolaan data fan atau penggemar ini, ternyata Metallica juga tidak mau ketinggalan untuk pemanfaatan-nya. Bekerjasama dengan Spotify, Metallica menggunakan data pengguna Spotify untuk menentukan 'setlist' lagu di tiap konsernya di masing-masing kota yang berbeda. Dengan membaca dan mengolah data ini sebelum mereka tampil di London, Paris, ataupun Swedia misalnya, pihak Metallica jadi lebih memahami lagu apa yang sering diputar dan paling diminati di tiap kota. Realisasinya adalah terdapat perbedaan 'setlist' lagu-lagu Metallica saat konser di tiga kota tersebut.

Jika kita melihat playlist Spotify "Top Tracks of 2017 Indonesia", dari urutan 50 lagu tersebut terdapat: Payung Teduh - Akad, Armada - Asal Kau Bahagia, Rizky Febian - Cukup Tau, Payung Teduh - Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan, dan Jaz - Kasmaran. Saya tidak mengetahui apakah dari daftar artis-artis 'top' tersebut pihak label rekamannya, manajemen artis, atau si artisnya sendiri, sudah memanfaatkan data digital yang berhubungan dengan penggemar? Misal melihat pertimbangan dari sisi demografi si-user: faktor usia, lokasi, pendidikan, dll., yang kesemuanya bisa menjadi tolak ukur untuk melihat potensi daya beli atau besarnya pasar dari para penggemar musik tersebut.

Menurut data dari pihak Spotify Asia tahun 2017 lalu, orang Indonesia mendengarkan musik setidaknya tiga jam dalam sehari dan termasuk yang gemar membuat daftar putar (playlist). Dan terdapat tiga momen utama yang jadi puncak bagi banyak orang mengakses layanan pemutar musik daring, yaitu:

  • saat pagi hari ketika berada di jalan
  • setelah makan siang
  • di atas jam 9 malam saat hendak beristirahat di rumah

Dalam era kemajuan teknologi informasi saat ini, dengan modal data digital tersebut, selain urusan manajemen artis/label rekaman yang dituntut untuk lebih kreatif, menurut saya hal ini juga bisa menjadikan peluang bagi tumbuhnya "boutique agency", semacam agensi kreatif atau konsultan skala kecil yang akan membantu musisi-musisi yang sudah mapan ataupun pendatang baru untuk menyasar penggemar (segmentasi - IMHO) agar lebih fokus dan untuk memberikan service ataupun content yang lebih pas bagi para penggemar. Hal yang juga penting adalah bagaimana dengan data yang diolah tadi si musisi beserta manajemen-nya tadi bisa menarik calon sponsor ataupun investor. Intinya musisi perlu terus berinovasi dan berkreasi dengan memanfaatkan data digital.

Dari semua hal ini, kesimpulan yang mau saya sampaikan adalah: memanfaatkan dan mengolah data untuk terus "jualan". Saya bukanlah orang yang merupakan ahli strategi pemasaran ataupun pandai untuk 'berjualan', tapi saya mau terus belajar terkait pengelolaan big data ini.

Ayo kita kelola secara baik data yang 'bertebaran' ini...


Foto: William Krause

*artikel ini pernah dipublikasikan di antonkurniawan.blog pada 23 September 2018 lalu, dan ditulis ulang di blog ini pada 28 Oktober 2018 tanpa perlu ijin dari penulisnya

Buku Panduan Kreator IGTV

IGTV (Instagram TV) yang telah dirilis pada hari Rabu tanggal 20 Juni 2018 kemarin, merupakan platform konten video vertikal dengan durasi panjang. Diungkapkan oleh CEO & Co-Founder Instagram, Kevin Systrom, bahwa rilis IGTV ini sekaligus menandai jumlah pengguna Instagram di seluruh dunia yang sudah mencapai angka 1 miliar. 

Instagram yang dimiliki Facebook siap ‘perang besar’ dengan YouTube yang dikuasai oleh Google. Tidak salah bagi Mark Zuckerberg/Facebook saat mengakuisisi Instagram pada April 2012 dengan ‘murah’ senilai USD 1 miliar atau hampir 13 trilyun (sementara WhatsApp diakuisisi 'hanya' lebih dari USD 19 miliar).

Konsep video vertikal ini begitu sangat menarik. Mungkin para pelaku kreatif sekaligus penggiat konten di berbagai daerah ingin memanfaatkan lebih IGTV, dan saatnya lebih fokus di IGTV dibandingkan YouTube. Berikut ini buku panduan lengkap IGTV setebal 48 halaman untuk menghasilkan konten yang lebih maksimal.


fail bisa diunduh disini: https://anton.id/IGTV

Sumber & foto: Instagram Info Center

Daftar Investor Go-Jek

Dalam kurun beberapa minggu yang lalu pada tanggal 17 Januari 2018, saya baca artikel mengenai kabar ataupun 'isu' masuknya suntikan dana dari Alphabet, perusahaan induk milik Google. Kemudian rilis artikel dari Techcrunch yang mengacu dari blog resmi Google (ditulis oleh Caesar Sengupta selaku VP, Next Billion Users Team), bahwa pada hari ini telah mengkonfirmasikan kebenaran akan kabar tersebut, bahwa Go-Jek telah menerima kucuran dana dari Alphabet, Meituan-Dianping (China), dan Temasek (Singapura) secara bersamaan dengan total nilai hampir 16 triliun.

Mengutip kisah dari situs Labana, sedikit kilas balik dikisahkan bahwa Go-Jek dimulai pada sekitar tahun 2011, didirikan oleh Nadiem Makarim, Brian Cu and Michaelangelo Moran. Sebelum mendirikan Go-Jek, Nadiem bekerja di McKinsey, Brian Cu bekerja di BCG, sementara Michaelangelo bekerja sebagai Web Interactive Designer freelancer. Tidak terlalu fokus saat itu untuk membangun Go-Jek, hingga kemudian Nadiem bergabung ke Zalora di November 2011, dan Brian bergabung di Januari 2012. Mereka direkrut oleh Rocket Internet untuk membangun Zalora Indonesia. Setelah keluar dari Zalora, Nadiem juga belum memilih fokus dengan Go-Jek-nya. Di April 2013 lulusan MBA Harvard ini malah bergabung ke Kartuku, menjabat sebagai CIO. Setahun di Kartuku, barulah Nadiem kembali fokus ke Go-Jek. Kisah sosok Brian Cu? Setelah keluar dari Zalora, lulusan National University of Singapore ini memilih berkarir di GrabTaxi sejak Juni 2013.

Terlepas dari segala pro dan kontra yang memberikan komentar mengenai dominasi investor asing di aplikasi yang diakui sebagai "karya anak bangsa ini", saya pribadi setuju dengan pendapat Dirjen Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani Pangerapan, yang dirilis oleh Viva News: "Menurutnya, Go-Jek beberapa kali diguyur investasi asing, karena memang investor luar negeri memang melihat startup asli Indonesia itu memang membutuhkan pendanaan. Sementara investor di Indonesia, menurutnya, belum melihat tertarik dengan potensi yang ada pada Go-Jek. Faktanya, kata dia, yang investasi ke Go-Jek selama ini cenderung dari luar negeri. Soal minimnya investor dalam negeri yang menyuntikkan dananya ke Go-Jek, menurut Sammy, karena mereka belum begitu memahami potensi dalam ekonomi digital. "Yang punya duit orang Indonesia belum ngerti startup itu apa sih, tapi yang di sana (luar) itu melihat wah itu butuh uang tuh,".

Atau bisa jadi memang ada investor Indonesia yang pandai membaca peluang dan secara diam-diam sudah menyuntikkan dana-nya ke Go-Jek namun memang tidak dipublikasikan kepada khalayak? Atau nampaknya memang sama sekali tidak ada satupun investor Indonesia di Go-Jek? He... he... he... 

Berikut data yang saya rangkum dari beberapa artikel terkait startup, mengenai siapa saja yang termasuk dalam daftar investor Go-Jek sejak dari era awal hingga sekarang:

(kalau ada yang mau mengoreksi, menambahkan ataupun update, silahkan...)


Foto: Go-Jek Indonesia