Migrasi Dari WordPress Ke Medium

Minggu lalu kebetulan pas ada promo mendapatkan domain .id dengan harga yang 'sangat murah', akhirnya tanpa banyak pertimbangan saya langsung memutuskan membeli untuk komitmen setahun kedepan. Berharap saat perpanjangan tahun depan nanti mudah-mudahan pihak Kemkominfo mau menurunkan harga domain .id, agar minimal target 1 juta domain bisa tercapai. Karena menurut saya kalau dipakai hanya untuk kebutuhan personal, dengan biaya per tahun dibebankan sebesar Rp 500.000,- domain .id ini cukup memberatkan, misal dibandingkan dengan harga domain .com yang lebih populer.

Dengan domain .id ini pula akhirnya saya berinisiatif untuk memindahkan blog yang ada di WordPress.com, ke layanan blog Medium milik Evan Williams (co-founder Twitter). Awalnya saya memilih blog di WordPress.com, bukan di WordPress.org, karena saat itu saya belum paham betul mengenai hosting dll. Dengan memilih WordPress.com yang saya pikir cukup simpel, saya tinggal memikirkan menulis (asal tulis) serta merangkai kata, kemudian menambahkan foto atau visual untuk mendukung dan mempercantik konten. Dan ternyata traffic di WordPress ini kalau dilihat dari Stats harian/SEO termasuk lumayan menurut saya, dibandingkan dengan platform blog yang lain, bahkan blog yang berbayar, mungkin lho...

Oya, selama ini di WordPress.com saya membayar layanan tambahan yaitu domain mapping sebesar $13 USD per tahun. Jadi URL blog yang kita punya lumayan agak mentereng dan sedikit eksklusif jadinya: antonkurniawan.xyz, bukannya antonkurniawan.wordpress.com, meski masih ada layanan iklan (Ads) disitu karena kita menggunakan WordPress versi gratisan. Ada juga pilihan layanan WordPress yang berbayar mulai paket Personal ($2.16), Premium ($7.42) dan Business ($24.08).

Dengan pertimbangan memiliki domain .id (tentunya bangga sebagai WNI), dan juga pertimbangan sekaligus untuk menghemat biaya tahunan domain mapping, maka akhirnya saya putuskan untuk memindahkan konten di blog WordPress ke platform Medium (as publication). Dimana di platform Medium ternyata tersedia layanan setting custom domain yang gratis + mendapat SSL (Secure Socket Layer) certificate! Sebelum melakukan proses lanjut bisa membaca artikel ini: How to move to MediumHow do I set up a custom domain.

Tanpa bersusah payah dari menu WordPress.com, saya tinggal klik menu Setting - Export - pilih Export All/Specific Content, tidak lama kemudian akan muncul menu Download, tinggal klik kemudian file dalam format .zip langsung pindah ke komputer kita. Selanjutnya di sisi Medium pun saya tidak mengalami kesulitan, termasuk diantaranya satu kali mengirimkan email ke Medium Support karena berkaitan untuk mendapatkan input kode CNAME yang diperlukan untuk setting domain dan SSL.

Akhirnya, blog saya yang satunya kini sudah siap: antonkurniawan.id, selain blog satunya antonkurniawan.com -:)


Image: Pixabay

Detoksifikasi Digital

Menurut KBBI, detoksifikasi /dé-tok-si-fi-ka-si/ adalah penawaran atau penetralan toksin atau racun di dalam tubuh. Jadi bagaimana relevansi judul di atas dengan kondisi kemajuan teknologi digital saat ini?

Mungkin secara sadar di kehidupan kita saat ini sangat bergantung dengan barang yang bernama smartphone. Bangun tidur yang dipegang untuk pertama kalinya adalah alat ini, demikian pula saat mau beristirahat tidur, hingga sampai ke toilet pun kita masih berurusan dengan alat ini. 

Selain dipergunakan untuk kebutuhan komunikasi, pencarian informasi, pengambilan foto/video, urusan seperti: bayar listrik, bayar cicilan, belanja baju, pesan makanan, beli pulsa, beli tiket pesawat, transfer uang, pesan ojek, panggil tukang urut, semuanya bisa dilakukan cukup dengan menggerakkan jari-jari lincah kita di atas layar sentuh tersebut, semuanya berpusat dengan dua ibu jari/jempol kita :-).

Apakah kita sudah merasa mengalami "kelelahan secara digital"? Begitu derasnya dan begitu banyaknya informasi yang masuk ke kepala kita melalui layar sentuh mungil ini. Jika era kita saat kecil dulu, kejadian pada siang atau sore hari ini, untuk mengetahuinya kita harus menunggu hingga esok harinya melalui surat kabar pagi yang mewartakannya. Sementara kondisi sekarang? Dalam hitungan detik, puluhan hingga ratusan berita terkini dari berbagai penjuru bisa diakses langsung lewat layar mungil. Dengan berbagai medium yang ada, media sosial: Twitter, Instagram, Facebook, Google+, hingga aplikasi chat seperti WhatsApp, Telegram, Kik, Viber, BBM, Snapchat, dll. Hingga dengan adanya konsep "sharing" akhirnya menjadikan semua informasi bertambah, berlipat dan lalu lintas data nampak super sibuk. 

Oya, berapa grup WhatsApp yang kita miliki? Empat? Lima? Sepuluh? Ada grup WA teman SD, ada grup WA teman SMP. Kemudian ada grup WA teman SMA, ada grup WA teman kuliah, belum lagi grup WA kantor. Belum lagi grup WA keluarga besar. Dan ada juga grup WA komunitas, asosiasi ataupun berbagai perkumpulan yang diikuti. Wowww!!!

Dan saya ingin menanyakan ini kembali: "apakah kita sudah merasa mengalami "kelelahan secara digital?" Mungkin sekarang saatnya bagi kita untuk sedikit bersantai. Dengan sedikit berkomitmen, misalnya di hari Minggu/libur kita tidak akan menyentuh smartphone itu. Kita mau mengistirahatkan jempol-jempol dan otak kita sejenak. Mungkin bisa fokus dengan kegiatan yang lebih riil: bermain bersama anak, membaca buku, berkebun, memancing, ataupun kegiatan produktif lainnya yang tidak membuat kita bertambah malas.

Tulisan saya hampir setahun lalu di blog ini juga dengan judul "Menilik Telepon Pintar" tentang berapakah waktu yang sebenarnya dibutuhkan seseorang untuk mengakses smartphone miliknya dalam sehari-hari? Dan berapa lamakah seseorang harus menunduk dan memainkan jari-jarinya untuk mengakses telepon pintar yang menggunakan teknologi layar sentuh itu... 

Sesuai konsep dasar 'UI (User Interface)' sebuah smartphone, bahwa dengan dua jempol kita yang mengkontrol segalanya menjadi user friendly. Oleh karena itu, selamat mengistirahatkan jempol di hari libur!


Image: Unsplash

Surga Belanja di Surabaya

“Rek, ayo, Rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan.” Hayo, siapa yang sudah sering mendengar lirik lagu khas Surabaya ini? Ya, ada apa di Tunjungan? Ada tempat belanja komplit yang menanti Anda. Tapi yang lebih penting lagi, ada sebuah penginapan di Tunjungan Surabaya yang menyimpan sejarah perjuangan besar rakyat Surabaya yang sekarang terbuka untuk umum. 

Setelah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 maka ditetapkanlah bahwa bendera Indonesia adalah sangsaka merah putih yang mencerminkan keberanian dan kesucian. Namun rupanya pada tanggal 18 September 1945, para pasukan penjajah Belanda yang sedang menginap di hotel Yamato atau juga dikenal sebagai Oranje Hotel ini dengan sengaja memasang bendera Belanda di sebuah tiang di sisi utara hotel. 

Masyarakat Surabaya pun menggugat dan karena perundingan dengan pihak Belanda tidak mencapai sepakat, mereka pun menduduki Hotel Yamato dan naik ke sisi utara untuk merobek bagian warna biru sehingga tinggal warna merah dan putih yang berkibar indah. Semua aksi ini terdokumentasi rapi di Gedung Monumen Pers Perjuangan yang bisa Anda kunjungi tak jauh dari hotel. 

Nah, bangunan inilah yang saat ini dikenal sebagai Hotel Majapahit Surabaya. Penginapan di Surabaya yang memiliki sejarah panjang itu kini berdiri ramah di pusat kota Surabaya dengan standar bintang lima, siap menyapa Anda. Hotel ini juga merupakan salah satu pilihan penginapan di Surabaya yang patut anda pertimbangkan. 

Hanya berjarak 1,7 km dari stasiun Gubeng, Anda yang melakukan perjalanan ke Surabaya dengan kereta bisa segera melakukan pemesanan untuk sebuah kenyamanan yang mengandung wisata sejarah dan juga wisata belanja. Berada satu kawasan dengan Tunjungan Plaza, Anda akan sangat dimanjakan dengan pusat keramaian Surabaya yang memesona. 

Memutuskan untuk jalan-jalan ke Surabaya tentu adalah pilihan yang tepat bagi penggila belanja. Cobalah berjalan ke Tunjungan Plaza yang legendaris. Mal ini memiliki empat  bangunan yang terkoneksi satu sama lainnya. Terbayang luasnya, bukan? 

Tunjungan Plaza I atau Plaza East adalah bangunan terlama dan tertua yang saat ini berubah wajah menjadi sangat modern. Tempat ini menjadi tempat asyik untuk ngobrol para hipster dengan gerai-gera yang menunjang seperti J.Co Donuts & Coffee, Gracia Café, The Athletes Foot, dan beberapa restoran fast food lainnya. Tak ketinggalan tentu saja, Tunjungan Plaza XXI yang memiliki 4 studio. 

Berikutnya adalah Plaza Central atau Tunjungan Plaza II. Tak jauh berbeda dengan TP I, gedungnya yang lebih kecil siap menyambut Anda dengan beberapa gerai fashion dan makanan yang tidak terdapat di TP I. Nah, beranjak ke Tunjungan Plaza III, Anda akan menemui sebuah atrium besar di tengah bangunan yang paling luas ini. Di hari-hari tertentu atrium ini digunakan untuk even-even berskala regional hingga nasional. 

Bagian yang paling menyenangkan adalah di TP III Anda akan menemukan pengalaman belanja berkelas internasional. Barang-barang branded seperti The Executive, Zara, GAP, Point Break, Guess, Raoul, 126, dan lain-lainnya hadir dengan wajah anggunnya menyapa Anda. Jika tidak tertarik mengunjungi kafe-kafe internasional yang lebih kasual, Anda juga dengan mudah menemukan restoran dengan konsep fine dining

Lepas dari Tunjungan Plaza III, Anda bisa menjelajahi Plaza West atau Tunjungan Plaza IV yang baru dibangun awal tahun 2000-an. Tak jauh berbeda dengan TP III, di sini Anda bisa menemukan barang-barang maupun makanan dengan brand internasional. Namun khusus di TP IV, Anda bisa mengunjungi SOGO Department Store. Jangan lewatkan kesempatan untuk melihat koleksi terbaru Time Place, Giordano, Felice Jewelry, Infinite yang menjual produk Apple secara resmi, Banana Republic, Hush Puppies, dll. Jika lelah Anda bisa langsung beristirahat dan menikmati sajian di Hanamasa, XO Suki, Honeymoon Dessert, Jade Imperial, Ikan Bakar Jimbaran, dan berbagai gerai makanan lezat lainnya. 

Yang terbaru dari Tunjungan Plaza adalah The Gallery yang masih terus-menerus dalam pembangunan. Konsep perbelanjaan mewah ini terkoneksi dengan apartemen yang diharapkan akan lebih memanjakan pengunjung dengan One Stop Living

Bukan Surabaya namanya kalau hanya memiliki Tunjungan Plaza sebagai surga belanja, Anda bisa menemukan Supermal Pakuwon Indah, Pasar Atom, Galeri Batik Jawa Timur, Newtoon Vintage Store, dll. Untuk oleh-oleh silakan kunjungi Pasar Genteng ya.


Photo credit: hotel-majapahit.com, tunjunganplaza.com, indonesiawow.com

Cerita Tentang Sepatu

Tulisan saya berikut tidak berhubungan dengan kisah keteladanan legendaris soal sepatu Bally yang sangat diidamkan oleh Bung Hatta, namun sepatu tersebut tidak juga terbeli hingga akhir hayat beliau. Kisah teladan berikut ini menurut saya juga merupakan satu contoh yang memang perlu untuk dijadikan panutan, bagi saya pribadi khususnya. 

Sedikit memulai cerita ini, dimulai dari hari Minggu pagi kemarin (9 Oktober 2016) saat kami terlibat di satu kegiatan olahraga acara jalan santai dan sepeda gembira. Event olahraga ini memang menjadi agenda resmi biro pemuda & olahraga, yang kebetulan tergabung di dalam salah satu organisasi atau perhimpunan para pelaku bisnis/usaha di kota ini.

Di pagi hari tersebut kami bergabung dengan masyarakat dan peserta lainnya berpartisipasi di kegiatan jalan sehat, dan dalam hitungan menit kami sudah jalan berkelompok dan mengayunkan langkah-langkah kecil menyusuri jalan utama di pagi yang sedikit mendung tapi tidak hujan. Dalam perjalanan kami, ada obrolan yang sangat menarik dan membuat saya merenung sejenak, yaitu saat salah satu rekan kami menyebut brand sepatu yang dipakai oleh satu rekan kami lainnya, yang kebetulan memiliki usaha retail dan memang usahanya sudah 'menggurita' dan 'meraksasa' sejak dulu. Hingga, memang nama satu rekan kami tersebut dijadikan merek paten usaha retailnya yang tersebar di berbagai tempat sampai saat ini. Selain memiliki mal yang baru setahun di-launched, rekan kami ini sebentar lagi juga akan memiliki hotel kelas bintang yang dikelola oleh satu operator hotel kelas internasional.

Tanpa perlu menyebut rekan yang sangat bersahaja dan sederhana ini "banyak duit", tapi dengan sendirinya rekan kami ini sudah menunjukkan sikap keteladanan yang sangat luar biasa. Berapa nilai kekayaannya? Kita tidak perlu tahu atau mencari tahu. Yang perlu dipahami adalah bagaimana hal ini bisa menjadi cerminan untuk kita semuanya, bagi saya pribadi khususnya.

Kalau mau cek harga sepatu Diadora yang rekan kami pakai di kegiatan tersebut, di lapak online yang kondang milik Achmad Zaky, saya coba membuktikan bahwa harga rata-rata sepatu brand tersebut tidak lebih di kisaran Rp 300.000,-. Dan kalau mau dipahami beda dengan brand internasional lainnya dengan menyebut nama Nike, Puma atau Adidas misalnya, bahwa secara segmen konsumen sepatu yang dipakai rekan tadi memang tidak menargetkan untuk kelas A ataupun B+. Jadi memang dipastikan bahwa harga tersebut terjangkau untuk semua kalangan dan lapisan masyarakat.

Oya, saat kegiatan jalan sehat di Minggu pagi itu, bahkan ada yang membisikkan bahwa celana yang dipakai rekan kami tersebut (sesuai dengan foto diatas), pernah dipakai juga dalam kegiatan jalan sehat lainnya yang diselenggarakan dalam minggu-minggu sebelumnya. Jadi...

Lesson learned?

Yang bisa saya pahami adalah bahwa siapapun kita, apapun pekerjaan kita, berapapun uang dan kekayaan yang kita miliki, sikap humble dan down to earth menjadi hal yang utama bagi kehidupan kita dan perlu kita ajarkan untuk anak-anak kita. Kalau kita ambil contoh/pelajaran dari orang terkaya di dunia hingga saat ini, Warren Buffet, yang hanya memiliki satu rumah saja di Omaha, Nebraska sejak tahun 1950an, dan hanya memiliki beberapa kendaraan yang bukan keluaran terbaru. Bagaimana dengan kita?

Living frugal life!