Bisnis di Sektor Digital Jadi Salah Satu Bisnis yang Menjanjikan

Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 16 sektor industri kreatif yang terbuka untuk pengusaha muda Indonesia. Salah satu bisnis tersebut adalah bisnis di sektor digital

Sektor ini diyakini Fikri sebagai sektor yang menjanjikan. Namun sayang, yang baru eksis saat ini hanya tiga industri, yakni kuliner, fesyen dan kerajinan tangan.

“Ada tiga lagi yang menjanjikan, yakni komunikasi visual, sinematografi, dan pembuatan aplikasi,” katanya kepada Republika kala itu.

Fikri mengungkapkan bahwa sektor desain komunikasi visual adalah salah satu bisnis yang bisa mengangkat kearifan lokal ke ranah internasional. Untuk itu, ia berharap agar para pemuda bisa mengembangkan skill-nya dan berani memulai.

“Sekarang ini semua serba cepat, kalau mau berkembang harus cepat berinovasi, cepat bergerak untuk peluang tersebut.”

Tak hanya sampai di situ, Fikri berharap pemerintah senantiasa berupaya meningkatkan keunggulan teknologi informasi. Bagaimanapun juga teknologi bisa menentukan pergerakan pasar saat ini.

“Sekarang ini semua serba cepat, kalau mau berkembang harus cepat berinovasi, cepat bergerak untuk peluang tersebut,” tuturnya lagi.

Dari sini, Fikri meyakini bahwa startup berbasis industri kreatif bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Ia yakin sektor tersebut bisa mengurangi angka jumlah pencari kerja. (Adinda Nurrizki)


referensi: EkonomiDigitalid

kredit foto: Startup Stock Photos

Sosok Peter Thiel

Karena ingin belajar mengenai startup, entrepreneurship dll., maka sejak beberapa tahun lalu, setelah membaca referensi akhirnya saya memutuskan membeli buku karya Peter Thiel ini. Peter Thiel adalah merupakan investor pertama dari luar yang masuk ke Facebook, dan masih banyak sekali perusahaan-perusahaan dimana dia melakukan investasi. Seperti tercantum di gambar atas, saya membeli buku tersebut sesuai tanggal yang tertera. Versi aslinya dalam bahasa Inggris saya beli pada 28 Oktober 2014, kemudian ada versi terjemahannya (terjemahan yang agak menyesatkan - IMHO) dalam bahasa Indonesia dibeli pada 29 November 2015.

Sampai sekarang saya belum juga selesai membaca buku tersebut... he... he... hingga akhirnya membaca berita agak mengejutkan, karena Peter Thiel menyatakan dukungannya kepada Donald Trump. Saya pribadi tidak mempermasalahkan pernyataan dari Peter Thiel bahwa dia adalah seorang gay. Bahkan saya sangat mendukung dengan investasi dia di bidang penelitian mariyuana yang akan digunakan untuk kepentingan kesehatan dan kemanusiaan. 

Tapi, mendukung Donald Trump? 😂

Oya agak menarik, membaca kutipan pidato Peter Thiel beberapa minggu lalu saat menyatakan dukungannya kepada kandidat presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Berikut detailnya:

Here’s the transcript of the full speech as it was written. (Thiel’s final delivery may have varied slightly):

Good evening. I’m Peter Thiel.

I build companies and I support people who are building new things, from social networks to rocket ships.

I’m not a politician.

But neither is Donald Trump.

He is a builder, and it’s time to rebuild America.

Where I work in Silicon Valley, it’s hard to see where America has gone wrong.

My industry has made a lot of progress in computers and in software, and, of course, it’s made a lot of money.

But Silicon Valley is a small place.

Drive out to Sacramento, or even just across the bridge to Oakland, and you won’t see the same prosperity. That’s just how small it is.

Across the country, wages are flat.

Americans get paid less today than ten years ago. But healthcare and college tuition cost more every year. Meanwhile Wall Street bankers inflate bubbles in everything from government bonds to Hillary Clinton’s speaking fees.

Our economy is broken. If you’re watching me right now, you understand this better than any politician in Washington. And you know this isn’t the dream we looked forward to. Back when my parents came to America looking for that dream, they found it—right here in Cleveland.

They brought me here as a one-year-old, and this is where I became an American.

Opportunity was everywhere.

My Dad studied engineering at Case Western Reserve University, just down the road from where we are now. Because in 1968, the world’s high tech capital wasn’t just one city: all of America was high tech.

It’s hard to remember this, but our government was once high tech, too. When I moved to Cleveland, defense research was laying the foundations for the Internet. The Apollo program was just about to put a man on the moon—and it was Neil Armstrong, from right here in Ohio.

The future felt limitless.

But today our government is broken. Our nuclear bases still use floppy disks. Our newest fighter jets can’t even fly in the rain. And it would be kind to say the government’s software works poorly, because much of the time it doesn’t even work at all.

That is a staggering decline for the country that completed the Manhattan Project. We don’t accept such incompetence in Silicon Valley, and we must not accept it from our government.

Instead of going to Mars, we have invaded the Middle East. We don’t need to see Hillary Clinton’s deleted emails: her incompetence is in plain sight. She pushed for a war in Libya, and today it’s a training ground for ISIS. On this most important issue, Donald Trump is right. It’s time to end the era of stupid wars and rebuild our country.

When I was a kid, the great debate was about how to defeat the Soviet Union. And we won. Now we are told that the great debate is about who gets to use which bathroom.

This is a distraction from our real problems. Who cares?

Of course, every American has a unique identity.

I am proud to be gay.

I am proud to be a Republican.

But most of all I am proud to be an American.

I don’t pretend to agree with every plank in our party’s platform. But fake culture wars only distract us from our economic decline.

And nobody in this race is being honest about it except Donald Trump.

While it is fitting to talk about who we are, today it’s even more important to remember where we came from. For me that is Cleveland, and the bright future it promised.

When Donald Trump asks us to Make America Great Again, he’s not suggesting a return to the past. He’s running to lead us back to that bright future.

Tonight I urge all of my fellow Americans to stand up and vote for Donald Trump.


Ref: http://www.businessinsider.co.id/peter-thiel-slams-republicans-in-convention-speech-2016-7/#iAO6AD4O9PZj8bUg.99

Selamat Datang Agustus

Hari ini tepat memasuki tanggal 1 Agustus 2016. Dalam beberapa hari ke depan, kita semua akan bersama-sama merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 )1945-2016.

Bulan lalu dari Sekretariat Negara secara resmi telah merilis logo resmi Peringatan Hari Ulang Tahun ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2016.

Dan siapa kreator di balik logo tersebut? Ada Adityayoga, yang merupakan anggota Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Logo rancangannya terpilih untuk menjadi logo resmi HUT RI yang ke-71. Awalnya, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) lah yang meminta ADGI untuk membuat logo tersebut.

Logo HUT RI ini bisa di download melalui website Sekretariat Negara di tautan berikut. Sayangnya di situs tersebut hanya disediakan file dalam format .jpg saja. Dan menurut artikel ini, logo tersebut adalah merupakan logo jiplakan karena mirip dengan logo Ulang Tahun ke-71 Divisi Infanteri Amerika Serikat saat Perang Dunia ke-2. Entah bagaimana kebenarannya...

Merdeka! Jaya Indonesia!

Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital

Untuk merealisasikan cita-cita Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia, sesuai visi yang telah dicanangkan Presiden Jokowi, dan demi mendukung hal tersebut maka Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama KIBAR pada tanggal 17 Juni 2016 yang lalu meluncurkan Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital.

Dengan dicanangkannya program tersebut, Kemenkominfo berharap mampu melahirkan 1.000 startup hingga tahun 2020, dengan total valuasi yang mencapai US$10 miliar (sekitar Rp133 triliun). Program ini rencananya akan hadir di sepuluh kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan, Bali, Makassar, dan Pontianak.

Meski saya tidak tinggal atau berada di kota-kota yang akan dikunjungi tersebut, saya berharap bahwa saya pun bisa memulai 'sesuatu' yang mungkin saja nantinya bisa berperan dalam konteks startup digital ini. Di usia saya yang menginjak angka 4x :) pada beberapa hari lalu, yang saya pikirkan sejak lama adalah saya ingin bekerjasama dan berkolaborasi dengan mereka-mereka yang lebih muda, generasi Y atau generasi Z bahkan generasi C (generasi YouTube), yang mungkin saja usianya terpaut 20 tahunan lebih muda dari usia saya. Membangun sebuah creative agency dan media company adalah salah satu keinginan saya untuk menghadapi hiruk pikuk dunia digital dan internet business, sekaligus menjadikannya sebagai peluang.

Saya bukan orang yang pintar ataupun kreatif, karena saya masih harus banyak belajar mengejar ketinggalan. Saya sangat ingin berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk mewujudkan mimpi-mimpi... (menyambung tulisan saya beberapa waktu lalu: Berinvestasi Ke Anak Muda).

Info: http://1000startupdigital.id/

Ternak Ayam Ala Bill Gates

Artikel soal ternak ayam berikut dikutip dari blog milik Bill Gates: Gatesnotes. Bill Gates hingga detik ini masih tercatat sebagai manusia terkaya di muka bumi dengan kekayaan senilai hampir 1.100 triliun, dan minggu lalu salah satu unit usahanya Microsoft baru saja mengakuisisi situs jejaring sosial LinkedIn senilai hampir 349 triliun. 

Oiya, titel bahasan soal ayam ini membuat saya agak surprised saat baca artikel di blog tersebut, hingga saya ingin mengutipnya he... he... he...

Bagaimana dalam sehari kita bisa hidup dengan uang sekitar 2 dollar, apa yang bisa kita perbuat untuk memperbaiki hidup kita?

Ini adalah pertanyaan yang sangat umum khususnya bagi 1 milyar jiwa yang saat ini masih hidup dalam garis kemiskinan. Tentu saja, tidak ada jawaban yang pasti, karena kemiskinan di satu tempat akan terlihat berbeda di tempat lain. Dalam beberapa kali kesempatan terjun langsung melalui Bill & Melinda Gates Foundation, Bill Gates telah menjumpai banyak orang khususnya di negara-negara miskin, mereka beternak ayam. Nampak jelas bagi Bill Gates bahwa siapapun yang hidup dalam garis kemiskinan, akan lebih baik bagi kehidupan mereka jika mereka memiliki ayam.

Berikut beberapa alasan mengapa beternak ayam merupakan satu hal yang dianggap menguntungkan:

  • mudah dan murah

Ayam tidak memerlukan makanan khusus, dan mereka cepat tumbuh. Bagi ayam betina yang dibutuhkan hanyalah semacam kandang supaya mereka bisa bertelur, dan ayam hanya sedikit membutuhkan vaksinasi, mengeluarkan biaya tidak lebih dari 20 sen.

  • investasi yang bagus

Ambil contoh: seorang petani memulai dengan memiliki lima ayam betina. Kemudian ada tetangganya memiliki seekor ayam jago untuk membuahi telur-telur dari betina tersebut. Setelah tiga bulan, petani tersebut akan memiliki kawanan sebanyak 40 anak ayam. Dengan harga jual 5 dollar per ayam, sesuai kondisi di Afrika Barat, petani ini akan mampu menghasilkan lebih dari 1000 dollar dalam setahun, bandingkan dengan batas garis kemiskinan di angka 700 dollar setahun.

  • membuat anak-anak tetap sehat

Malnutrisi telah membunuh lebih dari 3,1 juta jiwa anak-anak dalam setahun. Meski dengan memakan telur yang merupakan kaya nutrisi dan protein, mampu melawan malnutrisi, sebenarnya daging ayam ini juga bisa diolah untuk dikonsumsi oleh keluarga mereka.

  • memberdayakan kaum perempuan

Karakter ayam adalah hewan rumahan, dimana banyak budaya yang menghubungkannya sebagai hewan peliharaan kaum wanita, berbeda jika dibandingkan dengan kambing atau sapi. Kaum perempuan yang menjual ayamnya, kecenderungannya akan menginvestasikan kembali keuntungan tersebut bagi keluarga mereka.
Dr. Batamaka Somé, seorang antropologis yang berasal dari Burkina Faso dan juga bekerja untuk Gates Foundation, telah banyak meluangkan waktunya untuk mempelajari dan melakukan riset mengenai pengaruh beternak ayam secara prinsip ekonomi. Dalam video berikut akan menjelaskan banyak hal, mengapa beternak ayam dianggap sangat menguntungkan:

Kredit Foto: Stokpic


TIKETKU.ID

TIKETKU.ID adalah situs website yang memudahkan Anda untuk melakukan berbagai macam pembelian tiket acara yang akan berlangsung, seperti: konser, festival, seminar, sport, stand up, conference, dll.

Pembelian dapat dilakukan dengan cepat dan mudah tanpa perlu mengantri dan meninggalkan rumah atau tempat bekerja Anda. Dan pastinya pembelian di TIKETKU.ID akan selalu mengutamakan kenyamanan dan privasi Anda.

Nikmati berbagai kemudahannya: TIKETKU.ID

Bukan Perokok Di Ruang Perokok

Hampir seminggu lalu saya meluangkan waktu pulang dan mengunjungi ke kota tercinta, kota kelahiran, kota penuh dengan segala kenangan dan kota dimana saya dibesarkan, Yogyakarta.

Menyempatkan juga keliling ke beberapa tempat, hingga survey tempat hiburan kekinian, dan salah satunya mengunjungi satu tempat di bilangan Demangan Baru dimana merupakan tempat kawan-kawan lama berkumpul. Dan kebetulan yang me-manage tempat ini adalah seorang kawan baik juga.

Dengan konsep ala kitchen & bar tempat ini cukup menjadi daya tarik anak muda Yogyakarta khususnya, dan sejak dari awal saya mengamati beberapa DJ yang bermain cukup memiliki selera yang sangat oke, musik yang bukan ala-ala EDM kekinian, tapi cukup menawan hati. Mungkin mereka sedang memainkan genre underground dance & techno atau sejenisnya, saya kurang paham tapi saya sangat menikmati. Saya juga penasaran dan mengamati bagaimana gaya dan tingkah laku anak-anak muda Yogyakarta saat ini dan saya pun membandingkan dan membayangkan diri saya saat seumuran mereka hi... hi... hi..., saya pun tetap bisa bergaya kekinian, lho!

Nah, problem bagi saya sejak awal masuk tempat ini adalah saya memasuki ruangan area merokok. Hampir semua yang ada di tempat tersebut merupakan perokok, memang jadi masalah buat saya. Mata terasa pedas hingga akhirnya saya agak 'menepi' untuk menarik nafas dalam-dalam sejenak, mana baju dan seluruh badan sudah bau asap... he... he...

Hingga akhirnya jam hampir menunjukkan jam 02.00 lewat saya pun mohon pamit, harus balik ke hotel untuk siap packing buat terbang siang nanti. Saya mungkin akan mengusulkan kepada teman saya yang mengelola tempat ini untuk menyediakan satu ruangan khusus yang terbuat dari kaca transpasaran yang dimaksudkan untuk area khusus bukan perokok. Meski bukan perokok seperti saya, mungkin ada konsumen yang khusus datang untuk menikmati musik-musik dance yang disajikan. Dia bisa chill and cool, bisa juga sekedar menikmati makan dan minum, sambil tetap enjoy menikmati musik yang dimainkan si DJ tentunya, tanpa risau dengan asap rokok he... he...

Bagi saya sepertinya soal 'asap' ini sedikit memberikan efek, begitu bangun pagi tenggorokan terasa sakit, dan merasa flu mau datang... yang hingga saya menuliskan artikel di blog ini saya masih merasakan flu, pilek dan batuk... Well, I miss my hometown anyway!

Sedikit Catatan AADC2

Hari Kamis, 5 Mei 2016 kemarin akhirnya kesampaian juga nonton film Ada Apa Dengan Cinta 2, bareng ibu negara tentu saja, dan saat kami menonton kemarin sepertinya menjelang tembus atau melampaui jumlah penonton sebanyak 2 juta orang dalam kurun waktu delapan hari. Wow!!! Dan tentunya untuk mengantisipasi 'keramaian' karena kami malas mengantri tiket, sehari sebelumnya kami sudah kontak melalui satu layanan ojek kurir untuk mendapatkan tiket AADC2 tersebut, cukup menambahkan 20ribu saja untuk dua tiket, sebagai pengganti jasa.

Tidak hanya sekedar mengikuti euforia, tapi melalui film ini saya ikut penasaran dan sangat bangga karena ada beberapa teman yang ikut berpartisipasi di film tersebut. Sebut saja teman/sahabat yang sudah lama saya kenal seperti Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ, kemudian ada juga Pepeng bos Klinik Kopi, oya tampil juga DJ Vanda (yang saat syuting belum berjilbab - Alhamdulillah sekarangperform di satu scene dengan satu lagu tema official soundtrack AADC2 "Ora Minggir Tabrak" karya Kill the DJ. Pastinya lagu "Ora Minggir Tabrak" ini tidak ada di album Ada Apa Dengan Cinta 2 (Original Soundtrack) yang dirilis oleh label Aquarius, karena lagu "Ora Minggir Tabrak" dirilis secara mandiri.

Berkaitan dengan latar belakang setting film AADC 2 ini yang mungkin hampir 50% mengambil tempat di Yogyakarta, kota kelahiran saya, tentunya membawa kenangan tersendiri. Saya selalu kangen Yogyakarta, Jogja Istimewa! Oya yang sedikit teringat, saat scene Geng Cinta kembali ke Jakarta usai liburan di Yogyakarta, sepertinya setting mereka terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia (sponsor) Bombardier CRJ1000 Airbus A330-200/300. Karena saya melihat susunan jumlah bangku kursi yang terdiri dua lajur di sebelah kiri, dan mereka bukan duduk di kursi kelas bisnis. Sepengetahuan saya penerbangan Yogyakarta-Jakarta-Yogyakarta yang per hari ada hampir 10x penerbangan tidak ada yang menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 Airbus A330-200/300, hampir semuanya menggunakan Boeing 737-800. Coincidence?

Dan sepertinya film AADC2 ini membawa dampak (besar) bagi iklim pariwisata, kuliner, akomodasi/hotel, rental mobil, dan jasa travel di Yogyakarta. Promosi yang gratis bermanfaat bagi semua pihak tanpa harus melibatkan instansi/dinas terkait.

*Terimakasih @masjaki untuk koreksi pesawatnya