Terbang Bersama Capt. Abdul Rozaq

Mau berbagi cerita lewat blog ini soal pengalaman terbang kemarin.

Pada hari Senin tanggal 25 Mei 2015 kemarin saya terbang dengan Garuda Indonesia PK-GFZ (GA 078) bersama keluarga, saat purser melakukan 'announcement' mengenai detail keberangkatan saya tiba-tiba langsung mengerutkan dahi saat disebut pilot pada penerbangan ini ialah bernama Capt. Abdul Rozaq. Pikiran saya langsung terbang melayang menuju kisah pesawat Garuda Indonesia yang mendarat darurat di sungai Bengawan Solo beberapa belas tahun lalu, GA 421.

Nama Captain yang disebutkan terasa tidak asing bagi saya karena sebelumnya saya banyak baca kisah ataupun cerita-cerita terkait penerbangan GA 421 tersebut. Sebetulnya saya bukan ahli ataupun pengamat penerbangan. Kebetulan saja saya suka mengamati dan mempelajari hal-hal terkait dunia penerbangan, dan beberapa tahun lalu saya juga termasuk suka terbang kesana-kesini dengan berbagai tipe pesawat dan maskapai karena tuntutan pekerjaan. Kemudian hampir beruntun beberapa kecelakaan terjadi, mungkin membuat saya sedikit 'paranoid' ataupun agak takut untuk terbang. Setiap terbang selalu berpikir macam-macam, bahkan satu ataupun dua hari sebelum jadwal keberangkatan pikiran saya sudah aneh-aneh. Fear of flying? 

Kembali ke cerita Capt. Abdul Rozaq, begitu landing GA 078 dan buka seat-belt saya langsung bercerita kepada isteri saya di sebelah tentang sosok pilot yang bawa pesawat ini. Saya menyampaikan kalau mau berkenalan dan berfoto kalau bisa, karena saya anggap beliau adalah sosok pilot legendaris, yang telah bertaruh nyawa dan menyelamatkan nyawa banyak orang.

Begitu pintu dibuka dan penumpang banyak yang sudah turun, kami sengaja memilih keluar terakhir. Begitu bertemu purser di pintu depan saya menanyakan kepadanya apakah betul Capt. Abdul Rozaq adalah pilot yang membawa GA 421 yang mendarat di Bengawan Solo dulu? Mas purser itu mengiyakan dan menanyakan apakah mau disampaikan salam? Saya bilang iya boleh titip salam, dari Anton.

Kemudian saya menuruni anak tangga sambil menggendong anak saya, untuk menunggu bus jemputan menuju terminal kedatangan. Sesampainya di bawah saya melihat ke arah jendela pilot dan nampak wajah Capt. Abdul Rozaq sambil tersenyum dan melambaikan tangannya, saya balas melambaikan tangan. Dan tanpa pikir panjang saya bilang ke isteri saya, "saya mau ke atas untuk foto", sambil saya pindahkan gendongan anak saya ke isteri saya.

Begitu langsung saya menaiki anak tangga pesawat, dan tiba di depan pintu pilot yang sudah terbuka. Saya melihat wajah sang Captain yang tersenyum lebar dan juga co-pilot (saya tidak sempat menanyakan namanya). Saya jabat tangan beliau dan menyampaikan rasa hormat dan kekaguman saya dan kemudian saya minta ijin foto bareng, beliau meminta saya untuk duduk agak mendekat. Sungguh menjadi salah satu pengalaman yang sangat berharga buat hidup saya. 

Oiya, saya juga baca artikel tentang mereka para penumpang GA 421 yang selamat dimana mereka rutin mengadakan reuni pertemuan tiap tahunnya, dan ada juga buku kisah Miracle of Flight dari penerbangan GA 421.

Antara Gawai Dan Anak

Melihat gaya hidup masyarakat modern dan kekinian (tidak hanya di kota-kota besar) yang selalu nampak kian sibuk dengan gawai-nya yang dimiliki masing-masing, seiring dengan meningkatnya taraf hidup gaya kelas menengah. Tidak begitu mengherankan dalam suatu kesempatan melihat satu keluarga duduk bersama di restoran: ibu, bapak beserta kedua anaknya putra dan putri yang nampaknya masih duduk di bangku sekolah dasar. Begitu selesai memesan makanan, mereka berempat tidak saling ngobrol ataupun bercengkerama satu sama lain, tetapi mereka langsung 'memainkan' ponsel cerdas mereka. Ada wajah tersenyum kecil bukan karena mereka sedang bersenda-gurau satu sama lain, tapi mereka sedang mengamati secara seksama dan merespon sesuatu yang sedang terjadi di layar kecil elektronik di depan mata mereka.

Saat hidangan datang dan mulailah untuk bersantap, mereka menunduk secara serius bukan karena sedang menikmati makanan yang disajikan, tetapi tangan kanan memegang sendok mengaduk nasi dan lauk, sementara tangan kiri sedang sibuk memencet gawai dengan teknologi layar sentuh tersebut. Dan begitu juga yang terjadi usai menyantap makanan, nampaknya tidak ada sepatah kata pun keluar dari satu keluarga ini selain hanya sibuk berinteraksi dengan gawai masing-masing. Apakah hal demikian juga terjadi di rumah? =S

Mungkin bila suatu saat kita sedang berjalan bersama dan menggandeng anak kecil kita sambil menenteng gawai, ketika anak kita terpeleset karena sesuatu dan pada saat yang bersamaan gawai kita juga terjatuh dan tercebur air misalnya, mungkin sekilas respon yang akan dilakukan terlebih dahulu adalah 'menolong' gawai yang terjatuh tadi, bukan anak kita yang terjatuh :|.

Mengutip artikel di koran Kompas pada 15 April 2015 lalu, bahwa kian hilangnya sentuhan sosial langsung tersebut biasa disebut electronic displays of insensitivity (EDI) atau "ketidakpekaan akibat layar elektronik". Fenomena ini tidak hanya di meja makan, EDI juga terjadi di meja pertemuan atau rapat di ruang kerja. Hampir semua orang di kota melakukan multitasking.

Memang betul bahwa gawai menghubungkan satu pribadi dengan individu lainnya sekaligus mengasingkannya dari kenyataan di sekitarnya. Ponsel pintar pun tidak selalu membuat kita menjadi 'pintar', bukan? Mungkin kita sebagai orang tua perlu bertanya, apakah dalam keseharian sebenarnya kita lebih sering bersentuhan dan bersosialisasi dengan anak kita atau dengan gawai yang kita miliki? Note to self...

(image via http://www.rgbstock.com/)

Bermimpi

Bermimpi...

Sesuatu yang pasti dimiliki setiap orang, dan merupakan salah satu anugerah besar yang diberikan Yang Maha Kuasa.

Saya bermimpi... di usia saya sekarang, saya masih memiliki mimpi untuk menjadi orang yang lebih sukses dibanding dulu. Saya bermimpi untuk menjadi seorang entrepreneur yang berkelimpahan, menjadi milyarder, agar saya bisa menafkahi keluarga saya, membantu saudara-saudara saya yang berkesusahan, menolong banyak orang yang kurang mampu, dan agar hidup saya bisa bermanfaat untuk kehidupan masyarakat luas.

Mimpi bukan hanya sekedar khayalan. Mimpi bisa diwujudkan dengan disertai ikhtiar, berpikir kreatif, kerja keras dan doa.

Tidak ada yang salah dengan bermimpi. Sudahkah kalian bermimpi?

"20 years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." - Mark Twain

(image via http://www.gratisography.com/)

Penelusuran Merek Terdaftar Di ASEAN Menjelang MEA

Hari ini saya baru saja menemukan tautan ASEAN TM View, yang merupakan kumpulan konten database dari merek-merek terdaftar yang dimiliki oleh negara-negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam) yang diperbaharui baik secara harian, periodik dan dalam kurun waktu tertentu.

Agak mengejutkan karena jumlah merek terdaftar yang dimiliki Indonesia, meski belum ada pemutakhiran, hingga per 4 April 2015 hanya sekitar 364.363 entri (update terakhir 21 November 2014). Sementara Malaysia memiliki 682.501 entri (update 24 Februari 2015), Singapura 600.287 entri (update 23 Maret 2015). Negara kita yang sangat luas dan kaya raya dengan didukung oleh masyarakat yang cukup kreatif dan produktif, ternyata masih jauh tertinggal dalam kesadaran akan hak atas kekayaan intelektual.

Bagi saya, menjelang berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015 ini, situs ini cukup membantu dalam penelusuran serta pelacakan untuk mereka yang akan memulai usaha, membangun startup, usaha mikro & menengah (UKM, UMKM) ataupun pelaku usaha yang mau memberikan nama produk dan jasa yang dimiliki. Tidak hanya berbicara di tingkat lokal, minimal harus mampu dan bisa bersaing di wilayah ASEAN dengan pasar yang sangat luas, dan persaingan yang kuat.

Saya sendiri saat ini sedang akan merintis startup e-commerce dengan fokus ke produk muslim apparel. Tidak perlu muluk-muluk, minimal dari rumah ada usaha yang bisa dikerjakan, bisa memberikan solusi & kontribusi buat masyarakat luas. Dan mimpinya, produk yang dimiliki bisa masuk dan 'menjajah' ke daratan Tiongkok :-). Hello, Jack Ma!!!

Sudah siapkah kita menghadapi MEA akhir tahun ini?


Proyek Balon Helium Google

Pada hari Minggu 22 Maret 2015 sekitar jam 17:10 kemarin saya sempet mengirimkan twit tentang Project Loon, yaitu proyek balon helium milik Google yang bertugas untuk menyediakan akses internet melalui jaringan WiFi hingga radius puluhan kilometer.

Kebetulan saja pas saat itu (Minggu, 22 Maret 2015, jam 01:36 dinihari) saya sedang membuka aplikasi Flightradar dan melihat ada titik bulat yang bukan merupakan icon pesawat seperti biasanya. Posisi balon saat itu memang terlihat seperti di tengah (Selat Makassar) antara Makassar dan Banjarmasin. Dan saya masih ikuti pergerakan balon ini hingga hari Senin pagi, sekitar jam 06:00 saya melihatnya berada di sekitar Way Kanan, Lampung. Kemudian jam 09:49 posisinya sudah bergeser lagi hingga Bengkulu Selatan. 

Oya, baru tahu pada hari Selasa kemarin ternyata twit saya tersebut jadi 'berita' di situs Dailysocial.

Tradisional (Media)

Beberapa hari ini saya sedang dan telah berhubungan dengan beberapa media lokal (surat kabar) yang tujuannya untuk menjalin kerjasama terkait promosi dan marketing salah satu tempat usaha yang baru saja berjalan.

Awalnya berkirim email dan kemudian bertemu secara langsung dengan masing-masing representatif dari media tersebut (bagian iklan/account) yang menyatakan bahwa media yang diwakilinya adalah media ‘terbesar’ dan ‘terpercaya’ dengan oplah sekian puluh ribu eksemplar dan memiliki jumlah pembaca dari berbagai pelosok. “Are you sure?”

I am not that sure :-)... Saya tidak bermaksud meremehkan atau memandang sebelah mata dari data tersebut. Namun saya yakin secara pasti bahwa pembaca media konvensional selalu berkurang dan akan terus berkurang tiap tahunnya. Dengan melihat dan mempertimbangkan kemajuan teknologi, media dan informasi dari yang dulunya masih merupakan media tradisional dan sekarang mulai beralih ke media digital.

Informasi yang saya baca dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet pada tahun 2013 mencapa 71,19 juta, meningkat 13 persen dibanding tahun 2012 yang mencapai sekitar 63 juta pengguna. 

Dan data APJII terkini memaparkan bahwa pengguna internet pada akhir tahun 2014 mencapai 107 juta pengguna dengan 63,4% berasal dari kelas menengah ke atas, 21,5% dari wiraswasta, dan 15,1% berasal dari kalangan buruh.

Masih mau bicara oplah/tiras?


Ayo Minum Kopi!

Dalam jurnal terbaru "What Are The Health Benefits of Coffee?" dari sebuah studi tentang kesehatan yang dilakukan terkait manfaat minum kopi, disebutkan bahwa dengan minum kopi secara teratur mampu melindungi tubuh kita dari gangguan penyakit seperti diabetes, parkinson, gangguan hati, hingga menyehatkan jantung.

Dulu saya tidak terlalu menyukai kopi, yang sering saya minum adalah teh, teh panas tentu saja, segala jenis teh saya suka. Dari teh tubruk hingga aneka teh celup. Namun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, entah kenapa semenjak saya bertemu dan mencicip kopi lanang/peaberry coffee, saya mulai agak rajin minum kopi. Dulu saya minum kopi masih dicampur dengan gula (gula batu/gula pasir) yang penting sedikit manis, dan saya juga baru tahu kalau ingin mencoba manfaat maksimal dari kopi adalah minum kopi pahit, tanpa gula, susu ataupun krim, karena ketiganya meningkatkan kadar kolesterol.

Oya, ada juga peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health (HSPH) yang menyebutkan bahwa orang secara naluriah mengatur asupan kopi mereka untuk mengalami efek kafein secara optimal. Ahh, masak sih? :-)

(image via DesignerPics.com)


Selamat Hari Senin

Apa kabar hari ini? Hari Senin...

Jangan tertipu dengan jargon "I don't like Monday". Actually, I like Monday! Kenapa? Karena saya anggap semua hari adalah sama, tinggal bagaimana kita mampu mengatur waktu untuk segala aktifitas tanpa harus rumit dan berbelit.

Oya, kebetulan kegiatan dan aktifitas saya sekarang 'sedikit' mengharuskan bekerja di hari libur dan hari Minggu. Tidak ada masalah. Yang penting kita sibuk bekerja juga beribadah, selalu bersyukur, berbagi dan bersedekah, dan cermat mengatur waktu untuk anak-anak, istri dan keluarga, juga lingkungan sosial.

Bagaimana dengan Anda?

(image via http://www.gratisography.com/)

Asuransi Kacamata

Sekitar minggu lalu di awal Januari 2015 akhirnya saya memutuskan untuk berganti kacamata, setelah mungkin hampir tiga tahun saya belum pernah berganti kacamata dengan kondisi frame yang mengelupas di beberapa bagian dan lensa yang kini sudah nampak kabur dan bergaris. Setelah mendatangi salah satu optik, dimana sejak awal saya memakai kacamata (2002/2003?) saya hanya mendatangi optik ini saja baik di Yogyakarta ataupun di Jakarta, tidak pernah membeli kacamata di tempat atau toko lain. Mungkin karena sudah merasa cocok dan nyaman dengan pelayanannya, dan juga cocok dengan jenis frame yang saya inginkan.

Setelah nge-tes mata dalam beberapa tahap dengan peralatan milik optik yang sudah modern, akhirnya baru tahu kalau minus saya bertambah. Yang dulunya kiri-kanan 0.75, kini bertambah menjadi 1.50... errr nampaknya faktor usia cukup berpengaruh :). Terakhir beberapa tahun lalu saat pulang ke Yogyakarta saya menyempatkan datang ke rumah sakit mata Dr. Yap untuk 'validasi dan akurasi' mata minus, dan hasilnya juga tidak berbeda dengan ukuran dari optik.

Saat di optik baru tahu kalau saat ini ternyata ada perlindungan asuransi untuk kacamata. Dengan 90% di-kover untuk penggantian (dalam bentuk voucher) termasuk lumayan lah apabila kacamata rusak, atau patah bukan karena disengaja tentu saja. Tentang prosedur dan syarat/ketentuan detailnya ada disini.

Semoga informasinya bermanfaat.