Mari Menanam Sengon

Sekitar bulan Juli 2014 lalu saat saya berkunjung ke Jakarta menyempatkan menengok seorang sahabat karib di Ciledug yang baru saja sembuh dari sakit. Singkat cerita obrolan menarik saat itu adalah peluang dan kesempatan besar untuk menanam pohon sengon hingga masing-masing dari kami berniat untuk mewujudkan dan mengembangkan usaha ini. 

Hingga pada awal bulan Agustus lalu tanpa sengaja saya menemukan majalah Trubus edisi 537 bulan Agustus 2014 edisi digital yang bertajuk utama "Solomon Cepat Panen". Kemudian saya putuskan untuk membeli majalah tersebut dalam bentuk fisik agar lebih enak untuk dibaca dan dipahami. Memang menanam pohon sengon ini merupakan investasi yang luar biasa menurut saya. Meskipun saya masih awam dan tidak memiliki latar belakang bidang kehutanan/perkebunan/pertanian, sekilas dilihat proses menanam dan merawat ini tidaklah terlalu sulit. Semua bisa mengerjakannya.

Oya, saya juga baru tahu kalau presiden RI terpilih ke-7 yang saat itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ketika menjadi pembicara dalam Seminar Dialog Tokoh "Hutan untuk Kemakmuran rakyat" di Balairung Gedung Pusat UGM pada Sabtu, 26 Oktober 2013, juga menyatakan sangat mendukung gerakan untuk menanam sengon ini demi untuk kemajuan masyarakat. "Semalam saya coba hitung-hitung, saya kaget untungnya ternyata besar," kata Jokowi yang merupakan alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980 itu. 

Dibawah ini saya cantumkan kalkulasi dari menghitung laba sengon. Saya kutip dari majalah Trubus 537 - Agustus 2014/XLV. Saya beli edisi ini sebanyak 2 majalah: satu saya berikan ke Ibu saya dan satu saya simpan. Mari menanam! "Tanam dulu, baru tebang."

Seluk Beluk Eskpor: Buku Panduan Menjadi Eskportir

Saat ini saya sedang mempelajari soal detail mengenai hal-hal yang berhubungan dengan eskpor. Saya pikir ini masih memberikan peluang yang besar dan akan terus berkelanjutan ke depannya. Saya berniat mempelajarinya dan bercita-cita menjadi sosok eksportir yang handal. Menjelang AFTA dan AEC tahun depan, tentunya kita harus dan bisa berpikir lebih global menyangkut perdagangan atau niaga.

Kebetulan dari bagian Customer Service Center Kementerian Perdagangan dengan baik hati mengirimkan file 'Buku Panduan Menjadi Eskportir' ini saat saya menanyakan kepada mereka tentang tata cara dan prosedur bagi eksportir pemula. Mungkin ada juga pembaca blog saya yang juga membutuhkannya, silahkan:

Siapa Untung, Siapa Buntung?

Kemarin sewaktu jalan-jalan di seputaran Palembang, agak kaget saya, bukan agak tapi memang kaget pas baca twit dari label lokal (yang meng-internasional) yang mengumumkan bahwa The Finest Tree bergabung di bawah naungan perusahaan rekaman tersebut. Yang belum tahu siapa itu The Finest Tree (TFT) bisa cek atau baca disini.

Hingga akhirnya tadi pagi saya sempat mengirimkan satu buah twit dimana saya merespon 'momentum' tersebut. Sebenarnya saya tidak memiliki niat apapun, karena saya tidak memiliki hubungan atau kepentingan bisnis dengan mereka. Lagipula saat ini saya 'agak menjauh' untuk sementara waktu dengan kegiatan yang berhubungan dengan musik dan tetek bengeknya, apalagi menyangkut kepentingan industri. Tapi saya mengenal dengan baik mereka duo kakak beradik ini dan juga bapaknya yang bertindak sebagai manajer personal dan manajer bisnis bagi anak-anaknya. Dalam beberapa kesempatan dulu kami pernah berdiskusi secara langsung membahas soal kemajuan TFT dan soal ini itu menyangkut musik dan industrinya.

Ya sebenarnya saya hanya menyesalkan terjadinya 'kerjasama' kedua/ketiga belah pihak ini: The Finest Tree (TFT), UMI (Universal Music Indonesia) dan mungkin 'produser'??? Saya menyesalkan karena selama ini mereka (The Finest Tree) sudah saya anggap "cukup berhasil" dengan semangat kemandirian/independen, merilis mini album yang diproduseri oleh musisi senior, tampil perform di TV nasional, jadwal manggung (dibayar) baik untuk konser ataupun sekedar meet n' greet di berbagai kota tanpa henti, jualan merchandise selalu sold-out, serta memiliki fan base yang sangat kuat dan solid. Kesemuanya dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan pihak major label atau perusahaan rekaman besar. TFT merupakan 'barang yang sudah jadi' sebelum mereka "dipinang/meminang" Universal Music Indonesia! Dan tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa kemampuan duo ini secara musikal ataupun secara performance bisa disejajarkan dengan anak-anak Ahmad Dhani.

Namun nampaknya kita tidak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita sering mendengar musisi bermasalah dengan label mereka ataupun musisi senior berlomba-lomba menarik diri ataupun memutus kontrak kerjasama (baca: menyangkut hukum) dengan perusahaan rekaman tempat dulunya mereka bernaung. Karena apa? Bagi saya saat ini keberadaan hampir semua perusahaan rekaman/label sudah tidak memiliki fungsi ataupun peranan seperti sepuluh atau duapuluh tahun lalu, seluruhnya berubah, model bisnis berubah, market juga berubah, sementara 'pola' ataupun kinerja label lokal masih cenderung konvensional. Dan percayalah saat ini tidak ada dana promosi-marketing milyaran ataupun ratusan juta rupiah untuk kelas superstars, established artists, dan popular artists, atau bahkan sosok new comer. CMIIW!!!

Demikian juga dengan mindset yang dimiliki si musisi (seniman) itu sendiri. Nampaknya pola pikir yang dimiliki musisi (lokal) juga masih cenderung tradisional dan primitif, padahal ini era internet & kemajuan teknologi, bung! Mereka mungkin masih menganggap kalau dikontrak sebuah perusahaan rekaman bakal menaikkan gengsi, popularitas ataupun kegantengan mereka. Heran saya, dan geregetan! Ah, sudahlah...

Jadi, siapa untung dan siapa buntung?

Jokowi: Nothing Is Impossible

Akhirnya pada hari Selasa malam kemarin, KPU menetapkan secara resmi bahwa pasangan Ir. H. Joko Widodo & Ir. H. Jusuf Kalla terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2014 dengan perolehan suara 70.997.833 suara atau 53,15% dari total suara sah nasional. Selamat, semoga amanah untuk seluruh rakyat Indonesia.

Apa yang bisa saya pelajari dari kisah perjalanan dan perjuangan beliau pak Jokowi ini? Mengutip salah satu 'quote' ternama dari Audrey Hepburn bahwa: "Nothing is impossible, the word itself says 'I'm possible'!", tidak ada yang tidak mungkin. Beliau hanya seorang anak tukang kayu yang kemudian menjadi pedagang mebel, ndeso, lugu, 'down to earth', namun akhirnya terpilih sebagai Walikota Solo selama 2 periode, hingga akhirnya juga mampu menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta dan sekarang menjadi presiden Republik Indonesia ke-7!

Masih juga tidak percaya?

Jadi saatnya untuk memulai... dream big, start small!

This Is 40

Hari Rabu lalu genap usia saya menginjak di angka 40. Iya, 40! Tidak ada kado atau hadiah yang saya inginkan kecuali selalu bersyukur dan memohon doa untuk diberikan keberkahan, kesehatan serta kebahagiaan bersama keluarga.

"Life begins at forty!" Ya kalau ada mitos atau slogan semacam itu, saya akan memanfaatkan dan memahaminya untuk selalu memotivasi diri saya pribadi untuk bisa segera 'bangkit'. Bangkit untuk menjadi entrepreneur yang sukses, bangkit untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, agar hidup bisa bermanfaat bagi orang banyak juga keluarga besar.

Saya yakin kalau saya bakal lebih sukses dari sebelumnya, saya hanya perlu sedikit bersabar.

Crocodile in the Yangtze

Sekitar tanggal 17 Juni lalu saya membeli film lewat situs Vimeo, Crocodile in the Yangtze. Meskipun layanan Vimeo masih diblokir oleh Kominfo, saya menggunakan bantuan VPN untuk mengakses dan mengunduh dari layanan yang diblok ini. Saya membayar $9.95 USD untuk mengunduh film ini sebesar 1,5GB dan ada juga pilihan untuk menyewa film ini selama seminggu dengan membayar sekitar $4. Saya memilih membelinya karena saya pikir nanti bakal ada sahabat atau teman yang mungkin berminat untuk menontonnya.

Saya mengenal sosok Jack Ma, founder Alibaba Group, hanya dari artikel-artikel yang sekilas saya baca dari Forbes, Inc., Business Insider dll. Selama ini saya sudah membaca banyak kisah sukses dari mereka yang berasal dari Eropa ataupun Amerika. Dari Cina saya akan belajar dari sosok Jack Ma ini.

Hari Senin kemarin saya baru sempat menonton film dokumenter Crocodile in the Yangtze ini, sungguh sangat memberikan motivasi untuk pemula seperti saya yang bermimpi menjadi entrepreneur sukses. Saya teringat yang diungkapkan Jack Ma diawal film ini: "It doesn't matter if I failed; at least I've passed the concept to others. Even if I don't succeed, someone will succeed."

Cerita lanjut silahkan menonton film dokumenter ini, bagi yang ingin/berminat nonton saya bisa kirimkan tautan download via cloud.