7 Resolusi Tahun Baru 2017

Tinggal beberapa hari lagi kita akan segera meninggalkan tahun 2016. Begitu banyak kisah, cerita, suka, duka, untung, rugi, senang, sedih, dsb., dan pastinya memasuki tahun 2017 ini kita berharap akan hal-hal yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

Mengutip KBBI: yang dimaksud dengan resolusi /ré-so-lu-si/ adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu ~ yang akan diajukan kepada pemerintah.

Berikut 7 resolusi atau pernyataan tertulis versi saya memasuki Tahun Baru Masehi 2017, dimana hal-hal berikut merupakan cerminan dari aktifitas sepanjang 2016:

  • Kurangi perencanaan, banyak aksi: di 2016 kemarin banyak sekali muncul ide berkaitan dengan project ataupun bisnis, tapi banyak juga yang tidak tereksekusi, akhirnya hanya memunculkan wacana dan jadi basi. Kuncinya, jangan menunda... action!
  • Rajin menabung: memang tidak dipungkiri pengeluaran kita semakin bertambah, kebutuhan anak, kebutuhan keluarga, beli pulsa, paket data dan hal lainnya, tapi semestinya kita bisa (memaksa) menyisihkan pendapatan untuk ditabung, dan sikap berhemat pastinya akan membantu di waktu-waktu yang akan datang. "Living frugal live!"
  • Selalu menginspirasi: apapun kegiatan yang kita lakukan, sudah semestinya mampu memberikan pengaruh kepada banyak orang, hal yang positif dan kreatif tentunya. Pastinya ini akan memudahkan langkah-langkah perjalanan kita, karena kita akan selalu diingat orang.
  • Sering piknik: dalam sebulan, minimal dua atau tiga kali perjalanan santai ke luar kota (tidak perlu & tidak harus ke luar negeri) akan membuka wawasan, memberikan kesegaran otak dan juga menambah kehangatan bersama keluarga tercinta.
  • Menambah income: jika kita sibuk dengan pekerjaan rutinitas harian, tidak perlu khawatir mulai membiasakan untuk mengerjakan pekerjaan sampingan, minimal dengan target kita untuk menambah penghasilan. Tidak harus muluk-muluk, yang penting kita bisa fokus. Dan biasakan untuk multi-tasking. Era sekarang, bisnis online memberikan banyak solusi, freelancing ataupun menjadi solopreneur.
  • Banyak membaca buku: era hiruk pikuk media sosial dalam berbagai platform saat ini dan banjirnya arus informasi melalui media internet (termasuk fake news), sepertinya malah membuat kita malas dan enggan untuk 'belajar'. Bahkan kemungkinan sering mengakses media sosial malah menimbulkan depresi. Untuk membaca buku sekian puluh atau ratus lembar mungkin sudah tidak ada minat, tapi ini harus kita lakukan seperti halnya piknik. Kita harus memaksa diri untuk banyak membaca. 
  • Eling lan waspada: falsafah Jawa dan prinsip hidup yang selalu saya pegang yang pernah diajarkan oleh almarhum kakek/nenek saya dan juga kedua orang tua, selalu ingat dan berhati-hati. Semua hal ditanggapi secara positif dan memahami sisi baiknya. 
Demikian resolusi singkat saya di tahun 2017. Yang juga selalu saya ingat adalah harus banyak bersyukur dan berhenti mengeluh. Semoga kehidupan kita semua bertambah berkah dan banyak kebaikan yang kita lakukan.

Ultah Ibu Ke-62

Di saat rekan-rekan Kristiani sedang merayakan hari Natal, pada tanggal 25 Desember kami juga memiliki seremoni khusus yaitu peringatan ulang tahun Ibu kami tercinta. Di tanggal 25 Desember 2016 ini Ibu kami genap berusia 62 tahun. Di usianya yang kesekian, aktifitas Ibu kami masih terbilang produktif, mulai dari jualan gudeg, mengurus biro umroh dan haji, serta berbagai kesibukan lainnya. 

Doa selalu dari kami anak-anak dan cucu-cucu, agar Ibu kami selalu diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin...

132 Juta Rakyat Online

Menutup akhir tahun 2016 ini, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil survey pada bulan November lalu yang berisikan data jumlah pengguna internet di Indonesia. Dari total populasi penduduk Indonesia berjumlah 256,2 juta orang, tercatat hampir setengahnya telah terhubung ke internet.

Data survey tersebut juga menyatakan bahwa rata-rata pengakses internet di Indonesia menggunakan perangkat mobile, dengan rincian:

  • 67,2 juta orang (50,7 %) mengakses melalui perangkat mobile dan komputer
  • 63,1 juta orang (47,6 %) mengakses dari perangkat mobile/smartphone
  • 2,2 juta orang (1,7 %) mengakses dari komputer

Dibandingkan dengan data di 2014, saya juga pernah mencantumkannya dalam bentuk infografis di-sini, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2014 berjumlah 82 juta orang, dimana 70 juta orang diantaranya adalah pengguna Facebook. Tentunya kenaikan ini cukup fantastis, dalam dua tahun pertumbuhan dan perkembangan pengguna internet di Indonesia.  

Dan dari data yang dirilis APJII ini juga cukup menarik, yaitu kategori "Tempat Paling Sering Mengakses Internet": 

  • tidak tetap/dimana saja 92,8 juta orang (69,9%)
  • internet rumah 17,7 juta orang (13,3%)
  • fasilitas internet kantor 14,9 juta orang (11,2%)
  • fasilitas internet kampus 2,9 juta orang (2,2%)
  • warnet 2,1 juta orang (1,6%)
  • internet cafe 1,2 juta orang (0,9%)

Belum lama saya memulai dan ingin membuktikan 'keajaiban' serta 'kemegahan' media internet ini. Selama ini konsep internet dan online hanya dan banyak dipergunakan untuk kegiatan email, blogging, i-banking, chatting, e-learningbrowsing, online shoppingbackup data, dll. Saat ini saya tengah memulai dan merintis aktifitas/usaha berbau internet-online-digital ini, yaitu:

  • membantu UMKM & UKM Lampung melalui konsep etalase bersama dan perdagangan online: Lampung Mall 
  • menjual baju & perlengkapan anak di shop section Facebook Page: Sadina Kids
  • mendistribusikan musik digital dari band/solois independen dari seluruh daerah ke seluruh benua: Lautan Digital Records
  • mempromosikan vendor hiburan di wedding marketplace: Gotong Royong Media

Hingga saat ini seluruh aktifitas "online" tersebut saya lakukan sendiri dan secara mandiri, multitasking he he... Saya ingin mencoba mencari peluang sekaligus memberikan solusi dari sebuah ide dasar, meski saya masih agak tertatih-tatih dalam operasional dan pelaksanaan. Dan hingga saat ini yang sedang ada di otak saya, saya masih memikirkan ide dan konsep dengan memaksimalkan teknologi internet dan digital tersebut, yaitu antara lain untuk: 

  • berinvestasi sapi & feedlotter online
  • menyediakan solusi penerbit musik online untuk semua karya lagu di Nusantara
  • mendirikan toko roti online & layanan delivery
  • membangun agensi digital untuk mendukung usaha mikro menuju global
  • menyelenggarakan urun dana (crowdfunding) bagi musisi

Ataukah ada yang berkeinginan untuk memikirkan ide-ide ini secara bersama?

Dan apakah Anda sudah menjadi bagian dari 132 juta orang Indonesia yang mengakses internet?


Image: Death to the Stock

Grafis: APJII

Migrasi Dari WordPress Ke Medium

Minggu lalu kebetulan pas ada promo mendapatkan domain .id dengan harga yang 'sangat murah', akhirnya tanpa banyak pertimbangan saya langsung memutuskan membeli untuk komitmen setahun kedepan. Berharap saat perpanjangan tahun depan nanti mudah-mudahan pihak Kemkominfo mau menurunkan harga domain .id, agar minimal target 1 juta domain bisa tercapai. Karena menurut saya kalau dipakai hanya untuk kebutuhan personal, dengan biaya per tahun dibebankan sebesar Rp 500.000,- domain .id ini cukup memberatkan, misal dibandingkan dengan harga domain .com yang lebih populer.

Dengan domain .id ini pula akhirnya saya berinisiatif untuk memindahkan blog yang ada di WordPress.com, ke layanan blog Medium milik Evan Williams (co-founder Twitter). Awalnya saya memilih blog di WordPress.com, bukan di WordPress.org, karena saat itu saya belum paham betul mengenai hosting dll. Dengan memilih WordPress.com yang saya pikir cukup simpel, saya tinggal memikirkan menulis (asal tulis) serta merangkai kata, kemudian menambahkan foto atau visual untuk mendukung dan mempercantik konten. Dan ternyata traffic di WordPress ini kalau dilihat dari Stats harian/SEO termasuk lumayan menurut saya, dibandingkan dengan platform blog yang lain, bahkan blog yang berbayar, mungkin lho...

Oya, selama ini di WordPress.com saya membayar layanan tambahan yaitu domain mapping sebesar $13 USD per tahun. Jadi URL blog yang kita punya lumayan agak mentereng dan sedikit eksklusif jadinya: antonkurniawan.xyz, bukannya antonkurniawan.wordpress.com, meski masih ada layanan iklan (Ads) disitu karena kita menggunakan WordPress versi gratisan. Ada juga pilihan layanan WordPress yang berbayar mulai paket Personal ($2.16), Premium ($7.42) dan Business ($24.08).

Dengan pertimbangan memiliki domain .id (tentunya bangga sebagai WNI), dan juga pertimbangan sekaligus untuk menghemat biaya tahunan domain mapping, maka akhirnya saya putuskan untuk memindahkan konten di blog WordPress ke platform Medium (as publication). Dimana di platform Medium ternyata tersedia layanan setting custom domain yang gratis + mendapat SSL (Secure Socket Layer) certificate! Sebelum melakukan proses lanjut bisa membaca artikel ini: How to move to MediumHow do I set up a custom domain.

Tanpa bersusah payah dari menu WordPress.com, saya tinggal klik menu Setting - Export - pilih Export All/Specific Content, tidak lama kemudian akan muncul menu Download, tinggal klik kemudian file dalam format .zip langsung pindah ke komputer kita. Selanjutnya di sisi Medium pun saya tidak mengalami kesulitan, termasuk diantaranya satu kali mengirimkan email ke Medium Support karena berkaitan untuk mendapatkan input kode CNAME yang diperlukan untuk setting domain dan SSL.

Akhirnya, blog saya yang satunya kini sudah siap: antonkurniawan.id, selain blog satunya antonkurniawan.com -:)


Image: Pixabay