Detoksifikasi Digital

Menurut KBBI, detoksifikasi /dé-tok-si-fi-ka-si/ adalah penawaran atau penetralan toksin atau racun di dalam tubuh. Jadi bagaimana relevansi judul di atas dengan kondisi kemajuan teknologi digital saat ini?

Mungkin secara sadar di kehidupan kita saat ini sangat bergantung dengan barang yang bernama smartphone. Bangun tidur yang dipegang untuk pertama kalinya adalah alat ini, demikian pula saat mau beristirahat tidur, hingga sampai ke toilet pun kita masih berurusan dengan alat ini. 

Selain dipergunakan untuk kebutuhan komunikasi, pencarian informasi, pengambilan foto/video, urusan seperti: bayar listrik, bayar cicilan, belanja baju, pesan makanan, beli pulsa, beli tiket pesawat, transfer uang, pesan ojek, panggil tukang urut, semuanya bisa dilakukan cukup dengan menggerakkan jari-jari lincah kita di atas layar sentuh tersebut, semuanya berpusat dengan dua ibu jari/jempol kita :-).

Apakah kita sudah merasa mengalami "kelelahan secara digital"? Begitu derasnya dan begitu banyaknya informasi yang masuk ke kepala kita melalui layar sentuh mungil ini. Jika era kita saat kecil dulu, kejadian pada siang atau sore hari ini, untuk mengetahuinya kita harus menunggu hingga esok harinya melalui surat kabar pagi yang mewartakannya. Sementara kondisi sekarang? Dalam hitungan detik, puluhan hingga ratusan berita terkini dari berbagai penjuru bisa diakses langsung lewat layar mungil. Dengan berbagai medium yang ada, media sosial: Twitter, Instagram, Facebook, Google+, hingga aplikasi chat seperti WhatsApp, Telegram, Kik, Viber, BBM, Snapchat, dll. Hingga dengan adanya konsep "sharing" akhirnya menjadikan semua informasi bertambah, berlipat dan lalu lintas data nampak super sibuk. 

Oya, berapa grup WhatsApp yang kita miliki? Empat? Lima? Sepuluh? Ada grup WA teman SD, ada grup WA teman SMP. Kemudian ada grup WA teman SMA, ada grup WA teman kuliah, belum lagi grup WA kantor. Belum lagi grup WA keluarga besar. Dan ada juga grup WA komunitas, asosiasi ataupun berbagai perkumpulan yang diikuti. Wowww!!!

Dan saya ingin menanyakan ini kembali: "apakah kita sudah merasa mengalami "kelelahan secara digital?" Mungkin sekarang saatnya bagi kita untuk sedikit bersantai. Dengan sedikit berkomitmen, misalnya di hari Minggu/libur kita tidak akan menyentuh smartphone itu. Kita mau mengistirahatkan jempol-jempol dan otak kita sejenak. Mungkin bisa fokus dengan kegiatan yang lebih riil: bermain bersama anak, membaca buku, berkebun, memancing, ataupun kegiatan produktif lainnya yang tidak membuat kita bertambah malas.

Tulisan saya hampir setahun lalu di blog ini juga dengan judul "Menilik Telepon Pintar" tentang berapakah waktu yang sebenarnya dibutuhkan seseorang untuk mengakses smartphone miliknya dalam sehari-hari? Dan berapa lamakah seseorang harus menunduk dan memainkan jari-jarinya untuk mengakses telepon pintar yang menggunakan teknologi layar sentuh itu... 

Sesuai konsep dasar 'UI (User Interface)' sebuah smartphone, bahwa dengan dua jempol kita yang mengkontrol segalanya menjadi user friendly. Oleh karena itu, selamat mengistirahatkan jempol di hari libur!


Image: Unsplash

Add a Comment