Posts for Tag: Garuda Indonesia

Sedikit Catatan AADC2

Hari Kamis, 5 Mei 2016 kemarin akhirnya kesampaian juga nonton film Ada Apa Dengan Cinta 2, bareng ibu negara tentu saja, dan saat kami menonton kemarin sepertinya menjelang tembus atau melampaui jumlah penonton sebanyak 2 juta orang dalam kurun waktu delapan hari. Wow!!! Dan tentunya untuk mengantisipasi 'keramaian' karena kami malas mengantri tiket, sehari sebelumnya kami sudah kontak melalui satu layanan ojek kurir untuk mendapatkan tiket AADC2 tersebut, cukup menambahkan 20ribu saja untuk dua tiket, sebagai pengganti jasa.

Tidak hanya sekedar mengikuti euforia, tapi melalui film ini saya ikut penasaran dan sangat bangga karena ada beberapa teman yang ikut berpartisipasi di film tersebut. Sebut saja teman/sahabat yang sudah lama saya kenal seperti Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ, kemudian ada juga Pepeng bos Klinik Kopi, oya tampil juga DJ Vanda (yang saat syuting belum berjilbab - Alhamdulillah sekarangperform di satu scene dengan satu lagu tema official soundtrack AADC2 "Ora Minggir Tabrak" karya Kill the DJ. Pastinya lagu "Ora Minggir Tabrak" ini tidak ada di album Ada Apa Dengan Cinta 2 (Original Soundtrack) yang dirilis oleh label Aquarius, karena lagu "Ora Minggir Tabrak" dirilis secara mandiri.

Berkaitan dengan latar belakang setting film AADC 2 ini yang mungkin hampir 50% mengambil tempat di Yogyakarta, kota kelahiran saya, tentunya membawa kenangan tersendiri. Saya selalu kangen Yogyakarta, Jogja Istimewa! Oya yang sedikit teringat, saat scene Geng Cinta kembali ke Jakarta usai liburan di Yogyakarta, sepertinya setting mereka terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia (sponsor) Bombardier CRJ1000 Airbus A330-200/300. Karena saya melihat susunan jumlah bangku kursi yang terdiri dua lajur di sebelah kiri, dan mereka bukan duduk di kursi kelas bisnis. Sepengetahuan saya penerbangan Yogyakarta-Jakarta-Yogyakarta yang per hari ada hampir 10x penerbangan tidak ada yang menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 Airbus A330-200/300, hampir semuanya menggunakan Boeing 737-800. Coincidence?

Dan sepertinya film AADC2 ini membawa dampak (besar) bagi iklim pariwisata, kuliner, akomodasi/hotel, rental mobil, dan jasa travel di Yogyakarta. Promosi yang gratis bermanfaat bagi semua pihak tanpa harus melibatkan instansi/dinas terkait.

*Terimakasih @masjaki untuk koreksi pesawatnya

Terbang Bersama Capt. Abdul Rozaq

Mau berbagi cerita lewat blog ini soal pengalaman terbang kemarin.

Pada hari Senin tanggal 25 Mei 2015 kemarin saya terbang dengan Garuda Indonesia PK-GFZ (GA 078) bersama keluarga, saat purser melakukan 'announcement' mengenai detail keberangkatan saya tiba-tiba langsung mengerutkan dahi saat disebut pilot pada penerbangan ini ialah bernama Capt. Abdul Rozaq. Pikiran saya langsung terbang melayang menuju kisah pesawat Garuda Indonesia yang mendarat darurat di sungai Bengawan Solo beberapa belas tahun lalu, GA 421.

Nama Captain yang disebutkan terasa tidak asing bagi saya karena sebelumnya saya banyak baca kisah ataupun cerita-cerita terkait penerbangan GA 421 tersebut. Sebetulnya saya bukan ahli ataupun pengamat penerbangan. Kebetulan saja saya suka mengamati dan mempelajari hal-hal terkait dunia penerbangan, dan beberapa tahun lalu saya juga termasuk suka terbang kesana-kesini dengan berbagai tipe pesawat dan maskapai karena tuntutan pekerjaan. Kemudian hampir beruntun beberapa kecelakaan terjadi, mungkin membuat saya sedikit 'paranoid' ataupun agak takut untuk terbang. Setiap terbang selalu berpikir macam-macam, bahkan satu ataupun dua hari sebelum jadwal keberangkatan pikiran saya sudah aneh-aneh. Fear of flying? 

Kembali ke cerita Capt. Abdul Rozaq, begitu landing GA 078 dan buka seat-belt saya langsung bercerita kepada isteri saya di sebelah tentang sosok pilot yang bawa pesawat ini. Saya menyampaikan kalau mau berkenalan dan berfoto kalau bisa, karena saya anggap beliau adalah sosok pilot legendaris, yang telah bertaruh nyawa dan menyelamatkan nyawa banyak orang.

Begitu pintu dibuka dan penumpang banyak yang sudah turun, kami sengaja memilih keluar terakhir. Begitu bertemu purser di pintu depan saya menanyakan kepadanya apakah betul Capt. Abdul Rozaq adalah pilot yang membawa GA 421 yang mendarat di Bengawan Solo dulu? Mas purser itu mengiyakan dan menanyakan apakah mau disampaikan salam? Saya bilang iya boleh titip salam, dari Anton.

Kemudian saya menuruni anak tangga sambil menggendong anak saya, untuk menunggu bus jemputan menuju terminal kedatangan. Sesampainya di bawah saya melihat ke arah jendela pilot dan nampak wajah Capt. Abdul Rozaq sambil tersenyum dan melambaikan tangannya, saya balas melambaikan tangan. Dan tanpa pikir panjang saya bilang ke isteri saya, "saya mau ke atas untuk foto", sambil saya pindahkan gendongan anak saya ke isteri saya.

Begitu langsung saya menaiki anak tangga pesawat, dan tiba di depan pintu pilot yang sudah terbuka. Saya melihat wajah sang Captain yang tersenyum lebar dan juga co-pilot (saya tidak sempat menanyakan namanya). Saya jabat tangan beliau dan menyampaikan rasa hormat dan kekaguman saya dan kemudian saya minta ijin foto bareng, beliau meminta saya untuk duduk agak mendekat. Sungguh menjadi salah satu pengalaman yang sangat berharga buat hidup saya. 

Oiya, saya juga baca artikel tentang mereka para penumpang GA 421 yang selamat dimana mereka rutin mengadakan reuni pertemuan tiap tahunnya, dan ada juga buku kisah Miracle of Flight dari penerbangan GA 421.

Berangkat Ke Jepang

Setelah lumayan deg-degan menunggu kabar soal visa dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, akhirnya pada hari Kamis (27 November 2014) lalu, saya sudah bisa lega. Awal mulanya memang kami sekeluarga (anak & istri) beserta adik-adik dan keluarganya berencana untuk melakukan trip ke Jepang. Memang diputuskan untuk tidak menggunakan layanan paket tour yang ditawarkan beberapa travel agent, tapi kami memang akan melakukan perjalanan secara mandiri, secara kalau ke Jepang minimal saya pernah ke Osaka-Kyoto-Kobe selama beberapa hari, tapi itu 12 tahun yang lalu ha ha ha...

Awalnya, dijadwalkan untuk berangkat (Jakarta-Tokyo) pada tanggal 29 November 2014, beberapa minggu sebelumnya sudah 'book' tiket pesawat untuk rombongan sebanyak 9 orang termasuk 'infant', dan sudah berkali-kali melakukan 're-book' karena masih harus menunggu kabar visa dari kedutaan. Baru pada tanggal 25 November 2014 dapat kabar kalau visa untuk rombongan sudah rilis, namun kecuali permohonan visa milik saya, istri dan anak yang belum :-(.

Untuk memastikan visa, saya pun harus menghubungi per telepon ke Kedutaan Besar Jepang di line 021-31924884 selama dua kali menanyakan rilis visa yang tertunda milik kami. Hingga pada hari Kamis itu akhirnya semua bisa beres. Karena waktu sudah mepet, akhirnya keluarga memutuskan untuk menunda sehari jadwal keberangkatan lumayan biar ada waktu persiapan. 

Kemudian langsung saja saya kontak orang Garuda Indonesia soal 'issued' tiket untuk keberangkatan hari Minggu 30 November 2014, semuanya aman dan terkendali. Kami dijadwalkan terbang dengan GA874, Boeing 777-3U3 (ER). Sambil meminta 'booking seat' untuk rombongan, karena ada permintaan untuk 'baby-bassinet'. 

Penerbangan dengan pesawat baru Garuda Indonesia yang masih berumur 4 bulan ini, PK-GIG, CGK-HND ditempuh selama hampir 7 jam 40 menit, dan tiba di bandar udara internasional Haneda pada dini hari sekitar pukul 23.30 waktu setempat mendarat dengan sempurna dan 'smooth' saya merasakannya. Setelah proses imigrasi yang cepat dan bagasi keluar, kami langsung mencari taxi untuk menuju hotel. Di lift sempat mengobrol dengan seorang bapak yang tadi ternyata satu pesawat dengan kami, beliau orang asli Jepang namun ternyata sangat fasih dan logat Indonesia-nya sangat kental. Beliau menanyakan dimana hotel kami, dan menginformasikan kalau satu-satunya transportasi adalah taxi karena sudah lewat tengah malam, dan tidak ada jadwal kereta alias transportasi yang murah. 

Sebelumnya kami memang sudah antisipasi, dari mengumpulkan berbagai informasi, bahwa minimal bayar taxi dengan rute dari airport ke hotel (daerah Kodemmacho) bisa habis antara 900 ribu hingga 1 juta, dan memang terbukti he he he... Kami menggunakan dua taxi dengan perjalanan sekitar 30 menit untuk tiba di hotel. Masing-masing taxi bayar argo sekitar ¥9280 atau kurang lebih sekitar 975 ribu rupiah.

Bangun agak siang, kemudian saya langsung bersiap. Mendapat tugas sebagai 'pemimpin' rombongan dan komandan regu  he he he... Karena melihat jumlah rombongan kami yang agak banyak, jadi tidak mungkin kalau bepergian menaiki taxi menjelajah Tokyo dan sekitarnya. Pilihan utama adalah menaiki kereta api, yang terbukti murah dan tepat waktu. Akses internet wifi yang terbatas menggunakan smartphone, mengharuskan saya untuk berpikir secara analog. Dengan modal tiga buah peta: 1 peta yang berisi rute akses dari hotel ke stasiun-stasiun terdekat di sekitarnya yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, 1 peta yang berisikan rute kereta api milik Tokyo Subway dan 1 peta lagi rute milik JR East Railway. Voilà... semuanya lancar jaya, dalam waktu sehari saya bisa melahap dan memahami semua rute kereta api ini, tidak pernah tersesat ataupun nyasar sekalipun selama hampir seminggu di Jepang he he.

Oya, kalau boleh share tentang kunjungan ke beberapa tempat di Jepang kemarin, ini itinerary sederhana dari kami:

  1. 30 Nov: Haneda (arrival)
  2. 01 Des: Shibuya
  3. 02 Des: Maihama - Tokyo Disney Sea
  4. 03 Des: Fujiko F. Fujio Museum (Doraemon)
  5. 04 Des: Asakusa
  6. 05 Des: Tokyo Disneyland
  7. 06 Des: Akihabara - Shinjuku
  8. 07 Des: Harajuku
  9. 08 Des: Haneda (departure)

Pada tanggal 7 malam kami siap-siap berangkat menuju airport Haneda, kali ini menggunakan 3 taxi karena bawaan bertambah banyak ha ha ha. Satu taxi perjalanan dari hotel menuju airport menghabiskan ¥7890 atau sekitar 828 ribu. Dan tepat 8 Desember 2014 dinihari 00.30 waktu setempat, kami siap-siap kembali ke Jakarta dengan GA875 yang menggunakan PK-GIF. Lumayan mendarat agak 'keras' di CGK sekitar pukul 06.50 WIB.

Semoga ada kesempatan lagi buat saya dan keluarga untuk berkunjung dan menjelajah ke Jepang. Minimal ada peluang bisnis yang bisa dikerjakan secara kontinyu sehingga bisa bolak-balik ke Jepang lagi. Berbisnis sambil liburan, nampaknya merupakan komposisi yang sangat pas :-). Oya, dengan memiliki e-paspor tentu kita tidak perlu pusing lagi soal visa ke Jepang mulai awal Desember ini.

Arigatou gozaimasu! ありがとうございます