Posts for Tag: MEA

Unicorn dari Asia Tenggara

Situs Techcrunch pada hari ini merilis artikel The Unicorns of Southeast Asia ditulis oleh kontributor Choon Yan. Rilis ini cukup menarik bagi saya, karena dalam beberapa waktu sering mengenal dan membaca istilah unicorn di beberapa media khususnya yang membahas seputar startup, teknologi dan entrepreneur. Secara sederhana yang dimaksud dengan unicorn adalah sebuah perusahaan yang telah mencapai valuasi sebesar USD1 milyar atau lebih.

Mengutip dari situs tersebut, berikut daftar perusahaan di Asia Tenggara yang masuk daftar atau kategori unicorn, meminjam istilah Choon Yan, lebih tepatnya disebut sebagai perusahaan Komodo Dragon:

Sebuah perusahaan platform game yang berbasis di Singapura didirikan pada 2009. Memiliki pengguna aktif 17 juta untuk platform desktop dan 11 juta orang yang aktif tiap bulannya untuk pengguna mobile, dan telah mampu meraih revenue tahunan sebesar USD200 juta.

Perusahaan aggregator taxi terbesar di Asia Tenggara, berkantor di Malaysia sejak 2011. GrabTaxi adalah merupakan penantang utama dari Uber. Tersedia di 6 negara dan ada di 22 kota, GrabTaxi memiliki 1,5 juta booking tiap harinya.

Didirikan di Singapura pada 2011. Didukung secara penuh oleh investor Rocket Internet, Temasek Holdings. Setelah memperoleh pendanaan terakhir, Lazada berencana untuk meningkatkan kenyamanan berbelanja antara lain dengan perbaikan di bidang logistik, solusi pembayaran dan juga berhubungan dengan penjual pihak ketiga.

Perusahaan penyedia perangkat keras untuk game yang berdiri pada 2005 di Singapura. Didirikan oleh Tan Ming-Liang yang merupakan pengacara dan sosok Robert Krakoff yang merupakan teknologiwan. Baru saja membuka toko konsepnya di Bangkok, menyusul Taiwan dan Manila.
Dari lokal Indonesia, marketplace terbesar yang berdiri sejak 2009 besutan William Tanuwijaya. Mendukung kegiatan UKM dan perorangan untuk membuka toko online secara gratis, dan ada pilihan berbayar dengan berbagai menu tambahan. Didukung secara penuh oleh investor besar East Ventures dan Sequoia Capital, dimana bagi keduanya merupakan investasi pertamanya di Asia Tenggara.

Masih dari Indonesia, perusahaan yang berdiri sejak 2012 digawangi oleh Ferry Unardi jebolan Harvard, Derianto Kesuma yang pernah bekerja di LinkedIn sebagai engineer, dan Albert. Menurut catatan SimiliarWeb, pada bulan November 2015 Traveloka memiliki hampir 3,7 juta pengunjung. 

Perusahaan asal Vietnam yang berdiri pada 2004 yang awalnya berbisnis lisensi game, merupakan kompetitor Garena. Kemudian merambah ke music download, mobile game dan yang jadi favorit aplikasi chat, Zola.

Dari sekian daftar unicorn ini, Go-Jek yang merupakan karya anak bangsa dan sudah mendapatkan funding dari Sequoia Capital, serta nampak hiruk pikuk di sepanjang 2015 tidak masuk daftar ini. Mungkin saja masih jauh dari valuasi USD 1 milyar?

image credit: Pixabay

Potensi Produk Halal Indonesia

Menyambung tautan yang saya baca sebelum Lebaran lalu mengenai kegiatan temu diskusi Ramadan: Identifikasi dan Pemetaan Pasar Produk Halal di IPB International Convention Center Bogor tanggal 6 Juli 2015, dan di saat yang sama dirilis pula buku "Informasi dan Importir Produk Halal di Asia Pasifik dan Afrika", hari ini saya mengirimkan email ke Sesditjen Aspasaf Kementerian Luar Negeri RI mencari informasi terkait buku tersebut.

Dengan respon yang cukup cepat saya langsung mendapatkan softcopy-nya, saya pikir bisa mendapatkan bentuk hardcopy :-), tapi ini sudah cukup bermanfaat bagi saya. Dan saya mau share disini, semoga bisa memberikan pencerahan buat mereka yang bermental 'pedagang global' alias eksportir:

Penelusuran Merek Terdaftar Di ASEAN Menjelang MEA

Hari ini saya baru saja menemukan tautan ASEAN TM View, yang merupakan kumpulan konten database dari merek-merek terdaftar yang dimiliki oleh negara-negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam) yang diperbaharui baik secara harian, periodik dan dalam kurun waktu tertentu.

Agak mengejutkan karena jumlah merek terdaftar yang dimiliki Indonesia, meski belum ada pemutakhiran, hingga per 4 April 2015 hanya sekitar 364.363 entri (update terakhir 21 November 2014). Sementara Malaysia memiliki 682.501 entri (update 24 Februari 2015), Singapura 600.287 entri (update 23 Maret 2015). Negara kita yang sangat luas dan kaya raya dengan didukung oleh masyarakat yang cukup kreatif dan produktif, ternyata masih jauh tertinggal dalam kesadaran akan hak atas kekayaan intelektual.

Bagi saya, menjelang berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015 ini, situs ini cukup membantu dalam penelusuran serta pelacakan untuk mereka yang akan memulai usaha, membangun startup, usaha mikro & menengah (UKM, UMKM) ataupun pelaku usaha yang mau memberikan nama produk dan jasa yang dimiliki. Tidak hanya berbicara di tingkat lokal, minimal harus mampu dan bisa bersaing di wilayah ASEAN dengan pasar yang sangat luas, dan persaingan yang kuat.

Saya sendiri saat ini sedang akan merintis startup e-commerce dengan fokus ke produk muslim apparel. Tidak perlu muluk-muluk, minimal dari rumah ada usaha yang bisa dikerjakan, bisa memberikan solusi & kontribusi buat masyarakat luas. Dan mimpinya, produk yang dimiliki bisa masuk dan 'menjajah' ke daratan Tiongkok :-). Hello, Jack Ma!!!

Sudah siapkah kita menghadapi MEA akhir tahun ini?