Posts for Tag: digital

Menilik Telepon Pintar

Smartphone alias telepon pintar memang sudah menjadi bagian hidup kita, bahkan sudah menjadi kebutuhan primer hampir banyak orang dimanapun. Entah judul di atas tepat atau tidak: melongok; melihat; menilik; menengok. Poin yang saya maksudkan intinya adalah ingin mengetahui dan menanyakan berapa kali dalam sehari kita biasanya berinteraksi dengan telepon pintar kita? Bila ditotal dalam kurun waktu 24 jam sehari, berapa jam-kah total yang dibutuhkan seseorang saat mengakses telepon pintarnya untuk kebutuhan seperti berikut ini:

  • menelepon?
  • membalas SMS?
  • melihat update status mantan di Facebook?
  • mengirimkan serangkaian kultwit di Twitter?
  • mengakses lowongan kerja di LinkedIn?
  • melihat update status & profile foto kawan di BBM?
  • mengirimkan gambar meme di grup WhatsApp teman SD?
  • membalas email-email rekanan sebelum beranjak tidur?
  • mengakses layanan musik streaming Deezer, Spotify, Apple Music?
  • mengunggah video-video lucu ke YouTube?
  • main game Candy Crush?
  • mengomentari curhatan dan keluhan temen kerja di Path?
  • membalas chat grup teman SMA di Telegram?
  • mengunggah foto piknik dan foto jajanan ke Instagram?
  • mengirimkan foto selfie ke pacar melalui Snapchat?
  • mengecek tiket-tiket murah di Traveloka?
  • mem-backup data ke Dropbox atau Google Drive?
  • mengedit foto-foto jadul dengan BeautyPlus?
  • melihat model-model baju di Lazada?
  • dan lain sebagainya

Saya belum menemukan survey tentang ini... tentang berapakah waktu yang sebenarnya dibutuhkan seseorang untuk mengakses smartphone miliknya dalam sehari-hari? Berapa lamakah seseorang harus menunduk dan memainkan jari-jarinya untuk mengakses telepon pintar yang menggunakan teknologi layar sentuh itu? Atau sudah ada survey-nya? Mohon saya bisa diinformasikan .

Oya, menurut survey eMarketer yang dirilis pada tengah September lalu, jumlah pengguna smartphone (telepon yang bukan bergaya monochrome & polyphonic, IMHO) di Indonesia di tahun 2015 ini adalah hampir 55 juta pengguna, dan diprediksi akan mencapai 92 juta pengguna di tahun 2019, dan penetrasi tiap tahunnya akan selalu mengalami penaikan. Peluang? Pasti! Tapi bagaimana relevansi atau dampaknya kegiatan "menunduk' ini bagi kehidupan keluarga dan kehidupan sosial kemasyarakatan kita?

(image credit: Pixabay)

Disrupt

Hampir setahunan ini saya cukup 'terbiasa' dan familiar dengan satu kata yang selalu wira-wiri di hampir setiap artikel yang saya baca, entah di artikel online, twit, dari buku-buku ataupun quote dari para entrepreneur dunia yang sukses dan para mentor bisnis kondang sejagat. Kata yang dimaksud adalah disrupt (/disˈrəpt/).

Digital disruption, disruptive business models, disrupt the market, startup disruptors dll... dan masih banyak kombinasi istilah dari kata yang dimaksud. Saya coba menanyakan ke seorang kawan kuliah dulu yang sekarang merupakan pembimbing dan pengajar senior di salah satu sekolah internasional di Jakarta, sebenarnya apa makna atau arti yang paling tepat dari disruption (kata benda), disruptive (kata sifat), disrupt (kata kerja) ini. Penjelasan secara singkat dari maksud kata tersebut adalah bahwa disruption = perubahan atau pengubahan!

Saya coba pahami kembali bahwa semua 'hiruk pikuk' dari kemajuan teknologi berikut perkembangan dunia digital saat ini, siap atau tidak siap adalah memang benar menciptakan suatu bentuk perubahan. Uber, Go-Jek, GrabTaxi, Airbnb, Lazada, Lyft, Tesla, Netflix dll adalah (IMHO) disruptive! Mereka merubah kebiasaan bisnis konvensional yang sudah berjalan selama ini. 'Perlawanan' kepada bentuk/model bisnis Uber dan Go-Jek yang terjadi saat ini misalnya, bisa menjadi contoh nyata mengenai ketidaksiapan mayoritas banyak orang akan adanya satu perubahan.

Semestinya perusahaan konvensional ataupun (calon) startup harus mampu beradaptasi dan segera merespon dengan membuat model bisnis yang inovatif dan lebih efisien, serta menciptakan kultur bisnis yang adaptif. Welcome to the disruptive era... I have to disrupt, too...

(image credit: Startupstockphotos)

Tradisional (Media)

Beberapa hari ini saya sedang dan telah berhubungan dengan beberapa media lokal (surat kabar) yang tujuannya untuk menjalin kerjasama terkait promosi dan marketing salah satu tempat usaha yang baru saja berjalan.

Awalnya berkirim email dan kemudian bertemu secara langsung dengan masing-masing representatif dari media tersebut (bagian iklan/account) yang menyatakan bahwa media yang diwakilinya adalah media ‘terbesar’ dan ‘terpercaya’ dengan oplah sekian puluh ribu eksemplar dan memiliki jumlah pembaca dari berbagai pelosok. “Are you sure?”

I am not that sure :-)... Saya tidak bermaksud meremehkan atau memandang sebelah mata dari data tersebut. Namun saya yakin secara pasti bahwa pembaca media konvensional selalu berkurang dan akan terus berkurang tiap tahunnya. Dengan melihat dan mempertimbangkan kemajuan teknologi, media dan informasi dari yang dulunya masih merupakan media tradisional dan sekarang mulai beralih ke media digital.

Informasi yang saya baca dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet pada tahun 2013 mencapa 71,19 juta, meningkat 13 persen dibanding tahun 2012 yang mencapai sekitar 63 juta pengguna. 

Dan data APJII terkini memaparkan bahwa pengguna internet pada akhir tahun 2014 mencapai 107 juta pengguna dengan 63,4% berasal dari kelas menengah ke atas, 21,5% dari wiraswasta, dan 15,1% berasal dari kalangan buruh.

Masih mau bicara oplah/tiras?


Beats Music

Kemarin layanan musik streaming milik Beats Electronics, Beats Music, dirilis di Amerika Serikat dengan jumlah katalog total hampir 20 juta lagu disediakan. Sejak dari awal diumumkan saat MOG diakusisi oleh Beats tahun lalu, kemudian dirilisnya proyek ini dengan 'codename' Daisy, dan orang-orang yang ada dibalik ini semua: Jimmy Iovine, Dr. Dre, Trent Reznor, Ian Rogers dan Luke Wood, menjadikan Beats Music layak ditunggu menurut saya.
Ikutnya Beats masuk dalam wilayah music streaming menyusul pemain lainnya: Pandora, Rdio, Rhapsody, Spotify, Deezer, iTunes Radio, Google Play Music Access dan gosipnya YouTube juga bakal memiliki layanan music streaming tidak lama lagi.
Saya sudah coba layanan Beats Music ini kemarin. Secara 'interface' memang terasa lebih wah dan istimewa dibandingkan dengan layanan streaming sejenis yang pernah saya coba yaitu Spotify, Deezer, Pandora dan Rdio. Belum lagi ditambah dengan teknik kurasi yang ditawarkan menjadikan playlist semakin menarik.
Karena layanan Beats Music ini hanya tersedia secara terbatas di Amerika Serikat, maka untuk mengaksesnya saya dibantu dengan aplikasi VPN SurfEasy, dengan perangkat iOS dan akses wifi Speedy, serta Beats Music app yang di-download dari iTunes Store US. Hingga 7 hari ke depan Beats Music bisa diakses gratis, kemudian akan berbayar. Ya mudah-mudahan nantinya minimal yang di Asia Tenggara bisa menikmati layanan ini dengan ekspansinya Beats Music ke berbagai negara menyusul kompetitor music streaming lain.
Bagi saya pribadi, layanan musik digital apapun baik gratis ataupun berbayar secara prinsipal hampir sama saja. Yang nampak beda dari masing-masing adalah 'experience' yang kita alami saat mengakses dan menikmati layanan tersebut.