Posts for Tag: entrepreneur

Disrupt

Hampir setahunan ini saya cukup 'terbiasa' dan familiar dengan satu kata yang selalu wira-wiri di hampir setiap artikel yang saya baca, entah di artikel online, twit, dari buku-buku ataupun quote dari para entrepreneur dunia yang sukses dan para mentor bisnis kondang sejagat. Kata yang dimaksud adalah disrupt (/disˈrəpt/).

Digital disruption, disruptive business models, disrupt the market, startup disruptors dll... dan masih banyak kombinasi istilah dari kata yang dimaksud. Saya coba menanyakan ke seorang kawan kuliah dulu yang sekarang merupakan pembimbing dan pengajar senior di salah satu sekolah internasional di Jakarta, sebenarnya apa makna atau arti yang paling tepat dari disruption (kata benda), disruptive (kata sifat), disrupt (kata kerja) ini. Penjelasan secara singkat dari maksud kata tersebut adalah bahwa disruption = perubahan atau pengubahan!

Saya coba pahami kembali bahwa semua 'hiruk pikuk' dari kemajuan teknologi berikut perkembangan dunia digital saat ini, siap atau tidak siap adalah memang benar menciptakan suatu bentuk perubahan. Uber, Go-Jek, GrabTaxi, Airbnb, Lazada, Lyft, Tesla, Netflix dll adalah (IMHO) disruptive! Mereka merubah kebiasaan bisnis konvensional yang sudah berjalan selama ini. 'Perlawanan' kepada bentuk/model bisnis Uber dan Go-Jek yang terjadi saat ini misalnya, bisa menjadi contoh nyata mengenai ketidaksiapan mayoritas banyak orang akan adanya satu perubahan.

Semestinya perusahaan konvensional ataupun (calon) startup harus mampu beradaptasi dan segera merespon dengan membuat model bisnis yang inovatif dan lebih efisien, serta menciptakan kultur bisnis yang adaptif. Welcome to the disruptive era... I have to disrupt, too...

(image credit: Startupstockphotos)

Berinvestasi Ke Anak Muda

"Help young people. Help small guys. Because small guys will be big. Young people will have the seeds you bury in their minds, and when they grow up, they will change the world."

Kutipan di atas diambil dari sekian puluh/ratus quote favorit dari salah satu orang terkaya nan flamboyan di daratan China, bos Alibaba Group, dan juga panutan serta guru pembelajaran buat saya dalam ilmu kewirausahaan, Jack Ma.

Saya coba renungkan dan pahami makna quote tersebut, mengingat usia saya saat ini yang sudah menginjak kepala 4x :), saya menyadari masih belum banyak yang saya lakukan bagi mereka orang-orang sebelum saya, pemuda dan pemudi. Saya sendiri masih merasa muda, belum terlalu tua, spirit dan effort-nya masih seperti anak belasan he... he... Saya pikir kini saatnya bagi kita banyak memberikan dukungan, perhatian, bantuan, semangat dan motivasi secara positif kepada mereka para generasi muda-mudi. Kita berinvestasi kepada mereka!

Saya memiliki pengetahuan dan juga pengalaman (meski belum banyak), saya akan berbagi dengan hati dan tangan terbuka. Sementara saat ini saya masih berjuang, merintis dari bawah. Saya belum jadi orang sukses, tapi saya yakin kalau saya akan menjadi orang yang sangat sukses. Saya juga mau belajar dari mereka yang muda-muda, saya juga mau berguru dengan mereka, berkolaborasi dan mungkin akan bekerjasama dan memiliki bisnis bareng dengan mereka. Awesome!!!

Sebagai tambahan bahan renungan, teringat satu artikel beberapa bulan lalu di situs Vulcan Post, yang juga menampilkan kisah inspiratif Jack Ma tentang gambaran bagaimana seharusnya hidup kita antara usia 20 hingga 60 tahun. Berikut beberapa paparannya:

Before you turn 20 years old, be a good student.
…just to get some experience.

Before you turn 30 years old, follow somebody.
Go to a small company. Normally, in a big company, it is good to learn processing; you are part of a big machine. But when you go to a small company, you learn the passion, you learn the dreams. You learn to do a lot of things at one time. So before 30 years old, it’s not which company you go to, it’s which boss you follow. A good boss teaches you differently.

Between 30 and 40 years old, you need to think clearly whether you want to work for yourself, if you really want to be an entrepreneur.
When you’re between 40 and 50 years old, you must do all the things that you are good at.
Don’t try to jump into a new area, it’s too late. You may be successful, but the rate of dying is too big. So when you’re between the ages of 40 and 50, think about how you can focus on things that you are good at.

But when you are 50 to 60 years old, work for the young people.
Because young people can do better than you. So rely on them, invest in them, and make sure they’re good.

When you are over 60 years old, spend time on yourself.
On the beach, sunshine, it’s too late for you to change.

This is my advice to the young people: 25 years old, make enough mistakes. Don’t worry! You fall, you stand up, you fall…enjoy it! You’re 25 years old, enjoy the show!

(image via Life Of Pix)

Frugal: Hidup Sederhana Penuh Berkah

Saat baca artikel di Entrepreneur minggu lalu tentang apa saja karakter yang dimiliki sosok entrepreneur sukses, di salah satu poin saya menemukan kosakata baru, yaitu "frugal". Frugal menurut Oxford Dictionary adalah berarti not wasteful; economical, costing little; small. Yang secara keseluruhan menurut pemahaman saya bisa diartikan menjadi hemat, tidak boros, ataupun sederhana.

Banyak dari kisah para milyarder, entrepreneur dan pengusaha sukses yang saya baca semacam Bill Gates, Warren Buffet, Jack Ma, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg dll., bahwa mereka yang telah hidup berkelimpahan dan bertaburan banyak uang ternyata memiliki gaya hidup yang jauh dari boros, sikap pamer, sok kaya ataupun sombong. Hampir semuanya memiliki pola hidup yang sederhana, rajin bersedekah dan bermanfaat bagi kehidupan banyak orang. Karena mereka paham betul akan arti investasi bisnis daripada sekedar menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak utama. 

Keadaannya berbeda dengan mayoritas keadaan kita yang masih pas-pasan tapi gaya hidupnya selangit malah melebihi dari orang yang berkemampuan. Besar pasak daripada tiang... Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri dan keluarga saya, bahwa hidup sederhana bukan berarti semuanya harus serba murah, serba pengiritan ataupun berhemat hingga menyiksa diri sendiri dan keluarga. Melihat kondisi dewasa ini seiring dengan banyaknya pengguna ponsel pintar dan dengan didukung sarana media sosial yang menjamur seperti Facebook, Instagram, Twitter, BBM, Path dll., tanpa bermaksud menilai secara negatif peran media sosial, yang seolah-olah mudah bagi kita untuk menunjukkan dan memamerkan sesuatu yang serba "wah" kepada khayalak ramai hanya untuk sekedar dipuji, "like" ataupun jempol, dimana kadang semua hal tersebut sebenarnya palsu belaka.

"What I instagrammed vs. reallity..." #ask

(image via Big Foto)

Bermimpi

Bermimpi...

Sesuatu yang pasti dimiliki setiap orang, dan merupakan salah satu anugerah besar yang diberikan Yang Maha Kuasa.

Saya bermimpi... di usia saya sekarang, saya masih memiliki mimpi untuk menjadi orang yang lebih sukses dibanding dulu. Saya bermimpi untuk menjadi seorang entrepreneur yang berkelimpahan, menjadi milyarder, agar saya bisa menafkahi keluarga saya, membantu saudara-saudara saya yang berkesusahan, menolong banyak orang yang kurang mampu, dan agar hidup saya bisa bermanfaat untuk kehidupan masyarakat luas.

Mimpi bukan hanya sekedar khayalan. Mimpi bisa diwujudkan dengan disertai ikhtiar, berpikir kreatif, kerja keras dan doa.

Tidak ada yang salah dengan bermimpi. Sudahkah kalian bermimpi?

"20 years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." - Mark Twain

(image via http://www.gratisography.com/)