Posts for Tag: frugal

Cerita Tentang Sepatu

Tulisan saya berikut tidak berhubungan dengan kisah keteladanan legendaris soal sepatu Bally yang sangat diidamkan oleh Bung Hatta, namun sepatu tersebut tidak juga terbeli hingga akhir hayat beliau. Kisah teladan berikut ini menurut saya juga merupakan satu contoh yang memang perlu untuk dijadikan panutan, bagi saya pribadi khususnya. 

Sedikit memulai cerita ini, dimulai dari hari Minggu pagi kemarin (9 Oktober 2016) saat kami terlibat di satu kegiatan olahraga acara jalan santai dan sepeda gembira. Event olahraga ini memang menjadi agenda resmi biro pemuda & olahraga, yang kebetulan tergabung di dalam salah satu organisasi atau perhimpunan para pelaku bisnis/usaha di kota ini.

Di pagi hari tersebut kami bergabung dengan masyarakat dan peserta lainnya berpartisipasi di kegiatan jalan sehat, dan dalam hitungan menit kami sudah jalan berkelompok dan mengayunkan langkah-langkah kecil menyusuri jalan utama di pagi yang sedikit mendung tapi tidak hujan. Dalam perjalanan kami, ada obrolan yang sangat menarik dan membuat saya merenung sejenak, yaitu saat salah satu rekan kami menyebut brand sepatu yang dipakai oleh satu rekan kami lainnya, yang kebetulan memiliki usaha retail dan memang usahanya sudah 'menggurita' dan 'meraksasa' sejak dulu. Hingga, memang nama satu rekan kami tersebut dijadikan merek paten usaha retailnya yang tersebar di berbagai tempat sampai saat ini. Selain memiliki mal yang baru setahun di-launched, rekan kami ini sebentar lagi juga akan memiliki hotel kelas bintang yang dikelola oleh satu operator hotel kelas internasional.

Tanpa perlu menyebut rekan yang sangat bersahaja dan sederhana ini "banyak duit", tapi dengan sendirinya rekan kami ini sudah menunjukkan sikap keteladanan yang sangat luar biasa. Berapa nilai kekayaannya? Kita tidak perlu tahu atau mencari tahu. Yang perlu dipahami adalah bagaimana hal ini bisa menjadi cerminan untuk kita semuanya, bagi saya pribadi khususnya.

Kalau mau cek harga sepatu Diadora yang rekan kami pakai di kegiatan tersebut, di lapak online yang kondang milik Achmad Zaky, saya coba membuktikan bahwa harga rata-rata sepatu brand tersebut tidak lebih di kisaran Rp 300.000,-. Dan kalau mau dipahami beda dengan brand internasional lainnya dengan menyebut nama Nike, Puma atau Adidas misalnya, bahwa secara segmen konsumen sepatu yang dipakai rekan tadi memang tidak menargetkan untuk kelas A ataupun B+. Jadi memang dipastikan bahwa harga tersebut terjangkau untuk semua kalangan dan lapisan masyarakat.

Oya, saat kegiatan jalan sehat di Minggu pagi itu, bahkan ada yang membisikkan bahwa celana yang dipakai rekan kami tersebut (sesuai dengan foto diatas), pernah dipakai juga dalam kegiatan jalan sehat lainnya yang diselenggarakan dalam minggu-minggu sebelumnya. Jadi...

Lesson learned?

Yang bisa saya pahami adalah bahwa siapapun kita, apapun pekerjaan kita, berapapun uang dan kekayaan yang kita miliki, sikap humble dan down to earth menjadi hal yang utama bagi kehidupan kita dan perlu kita ajarkan untuk anak-anak kita. Kalau kita ambil contoh/pelajaran dari orang terkaya di dunia hingga saat ini, Warren Buffet, yang hanya memiliki satu rumah saja di Omaha, Nebraska sejak tahun 1950an, dan hanya memiliki beberapa kendaraan yang bukan keluaran terbaru. Bagaimana dengan kita?

Living frugal life!

Frugal: Hidup Sederhana Penuh Berkah

Saat baca artikel di Entrepreneur minggu lalu tentang apa saja karakter yang dimiliki sosok entrepreneur sukses, di salah satu poin saya menemukan kosakata baru, yaitu "frugal". Frugal menurut Oxford Dictionary adalah berarti not wasteful; economical, costing little; small. Yang secara keseluruhan menurut pemahaman saya bisa diartikan menjadi hemat, tidak boros, ataupun sederhana.

Banyak dari kisah para milyarder, entrepreneur dan pengusaha sukses yang saya baca semacam Bill Gates, Warren Buffet, Jack Ma, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg dll., bahwa mereka yang telah hidup berkelimpahan dan bertaburan banyak uang ternyata memiliki gaya hidup yang jauh dari boros, sikap pamer, sok kaya ataupun sombong. Hampir semuanya memiliki pola hidup yang sederhana, rajin bersedekah dan bermanfaat bagi kehidupan banyak orang. Karena mereka paham betul akan arti investasi bisnis daripada sekedar menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak utama. 

Keadaannya berbeda dengan mayoritas keadaan kita yang masih pas-pasan tapi gaya hidupnya selangit malah melebihi dari orang yang berkemampuan. Besar pasak daripada tiang... Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri dan keluarga saya, bahwa hidup sederhana bukan berarti semuanya harus serba murah, serba pengiritan ataupun berhemat hingga menyiksa diri sendiri dan keluarga. Melihat kondisi dewasa ini seiring dengan banyaknya pengguna ponsel pintar dan dengan didukung sarana media sosial yang menjamur seperti Facebook, Instagram, Twitter, BBM, Path dll., tanpa bermaksud menilai secara negatif peran media sosial, yang seolah-olah mudah bagi kita untuk menunjukkan dan memamerkan sesuatu yang serba "wah" kepada khayalak ramai hanya untuk sekedar dipuji, "like" ataupun jempol, dimana kadang semua hal tersebut sebenarnya palsu belaka.

"What I instagrammed vs. reallity..." #ask

(image via Big Foto)