Posts for Tag: industri musik

Progres Musik Indonesia di 2019

Kini sudah memasuki awal bulan April di tahun 2019. Pada mulanya saya mau menuliskan artikel ini menjelang awal pergantian tahun 2019 lalu, mundur lagi ke bulan berikut. Akhirnya sempat atau tidak sempat, serta masih berurusan dengan berbagai kesibukan, dan setelah mempertimbangkan beberapa hal sambil mengamati kondisi musik Indonesia hingga memasuki kuartal pertama ini, saya coba merangkumnya dalam tulisan singkat berikut.

Beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan dan menjadi catatan sepanjang tahun 2019 ini adalah:

Munculnya (banyak) pendatang baru

Dengan kemajuan teknologi terkini dan berkembangnya penggunaan telepon pintar, serta akses internet yang mudah, musisi kian dimudahkan untuk merilis karya-karyanya. Tentunya ini memberikan motivasi bagi para talenta-talenta musik nasional untuk terus berkreasi. Setiap Jumat pagi kita bisa memantau rilisan-rilisan baru baik berupa single, mini album, ataupun album penuh. Hampir semuanya beragam. Nama-nama yang baru saya kenal akan memperkaya musik Indonesia, seperti: Rama Davis, Devano Danendra, Nadin Amizah, Amigdala, Svmmerdose, Coldiac, rebelsuns., Emir Hermono, dll., dsb., mungkin saya agak telat untuk mengenalnya he he he...


Musik (panggung) nasional terus hidup

Berubahnya pola-pola industri musik tentunya sedikit berimbas dengan aktivitas off-air. Memang tidak dipungkiri bahwa kehadiran secara fisik (konser) tetap ditunggu-tunggu (bagi penggemar), duit juga mudah dan gampang diperoleh (bagi artis dan manajemen), jadi peluang dan kesempatan besar untuk pebisnis (bagi promotor musik). Meski konsep tur panjang (roadshow) yang biasanya didukung perusahaan rokok sudah jarang dilakukan, namun event-event pensi, musik kampus, acara-acara perusahaan, hingga konser-konser di cafe/hotel/outdoor di berbagai daerah terus saja berjalan hingga saat ini.

Oiya, tentang perspektif band management di masa depan, saya pernah menuliskannya dalam sebuah wawancara di blog ini pada September 2012 lalu. Yang jadi highlight pada saat itu adalah: sebuah band management membuat tour sendiri secara swadaya, bisa dimulai dulu dari panggung-panggung kecil, atau bahkan mewujudkan konser rumahan keliling puluhan kota.


Menanti gebrakan LMKN 2019-2024

Lembaga Manajemen Kolektif Nasional periode 2019-2024 telah mengumumkan pengurusan dan komisioner terpilih. Ini merupakan kepengurusan yang kedua, setelah periode sebelumnya. Diharapkan dengan adanya kepengurusan LMKN baru yang dilantik pada 29 Januari 2019 lalu ini, bisa membantu mensejahterakan para pemilik hak cipta dan hak terkait. Saya pernah ikut tes wawancara lewat Skype sebagai calon komisioner LMKN periode ini pada 30 November 2018 lalu, tapi nampaknya gagal / lolos he he he...

Adapun nama-nama 10 Komisioner LMKN 2019-2024 yang dilantik (beberapa diantaranya pernah menjabat di periode sebelumnya) adalah:

  1. Pol (P) Yurod Saleh, S.H., M.H., sebagai Ketua LMKN;
  2. Molan Karim Tarigan sebagai Wakil Ketua LMKN;
  3. James Freddy Sundah sebagai Anggota Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Masyarakat;
  4. Rapin Mudiardjo Kawiradji, S.H., ACCS., S.Kom.,CIP., CPL., sebagai Anggota Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Masyarakat;
  5. Marulam Juniasi Hutauruk, S., sebagai Anggota Bidang Hukum dan Litigasi;
  6. Rien Uthami Dewi, S., sebagai Anggota Bidang Hukum dan Litigasi;
  7. Ebiet G. Ade, sebagai Anggota Bidang Teknologi lnformasi dan Database Musik;
  8. lrfan Aulia, S.Kom., sebagai Anggota Bidang Teknologi lnformasi dan Database Musik;
  9. Adi Adrian, sebagai Anggota Bidang Kolektif Royalti dan Lisensi;
  10. Yessi Kurniawan, T., sebagai Anggota Bidang Kolektif Royalti dan Lisensi;

Merujuk pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 36 Tahun 2018 tentang Tata Cara Permohonan dan Penerbitan Izin Operasional Serta Evaluasi Lembaga Manajemen Kolektif, sepuluh Komisioner tersebut akan menjabat selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.


Pengelolaan metadata & database musik

Era digital tentunya tidak bisa terlepas dari konsep metadata dan database. LMKN periode 2019-2024 memiliki target khusus terkait dengan database ini. Mengutip Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI) Freddy Harris, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual bersama LMKN akan membuat database musik Indonesia, supaya platform musik digital seperti YouTube, iTunes, JOOX, Spotify, dll. membayar royalti kepada pencipta. Dengan tidak adanya database musik yang baik, menjadi salah satu alasan bagi platform musik digital untuk enggan membayar royalti kepada pencipta dan pemilik hak terkait Indonesia.

Khusus mengenai metadata, nantinya akan saya tulis secara khusus dan terpisah, sambil mengumpulkan referensi-referensi terkait dan terkini.


Maraknya urun dana musik

Dengan proses yang telah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk merampungkan aturan penyelenggaraan kegiatan urun dana dalam lingkup skala kecil atau equity crowdfunding. Jadi akan ada satu platform untuk menghimpun dana berbasis ekuitas, mirip seperti pencatatan saham di pasar modal namun skalanya lebih kecil dan tidak mencatatkan saham. Konsep urun dana ini bisa dimanfaatkan untuk kegiatan menggelar konser, memproduksi album, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan musik. Cukup menarik, dan semoga kita bisa belajar dari PledgeMusic, yang bermasalah dengan artis-artisnya karena terlambat 'gagal bayar'. 

Detail regulasi tentang PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.04/2018 LAYANAN URUN DANA MELALUI PENAWARAN SAHAM BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI (EQUITY CROWDFUNDING) bisa dipelajari di tautan berikut: anton.id/OJK_Crowdfund.


Bangkitnya pengaliran (streaming) musik nasional

Saya baru tahu beberapa saat lalu bahwa Telkomsel melalui LangitMusik menggelar workshop dan festival di beberapa kota: Bali, Surabaya, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, Ambon. Workshop yang bertemakan "Sukses Musik di Era Digital" tersebut membahas mengenai kiat-kiat meraih sukses dengan memaksimalkan berbagai produk dan layanan dari Telkomsel seperti LangitMusik dan Nada Sambung Pribadi. Dari event ini diharapkan masyarakat semakin aware dengan beragam karya musisi-musisi tanah air dan mendukung para musisi dengan menikmati musiknya secara legal, salah satunya secara streaming melalui aplikasi LangitMusik.

Pada workshop itu, para musisi berkesempatan untuk bisa praktik langsung mengunggah karya musiknya di platform LangitMusik, dilanjutkan dengan Festival LangitMusik yang menampilkan berbagai musisi indie dari tiap-tiap kota. Ayo, saatnya kita bersama-sama mendukung platform pengaliran musik nasional ini! Kita berharap banyak LangitMusik bisa mendukung dan memajukan musisi Indonesia, termasuk dengan mendukung ekosistem musik yang berkelanjutan, memberikan value kepada para pelaku musik.


Menghadapi kecerdasan buatan (AI - Artificial Intellegence)

Teknologi AI punya peran tersendiri dalam perkembangan teknologi musik yang bisa ditemui saat ini. Beberapa layanan streaming musik memperdengarkan musik-musik yang diatur dan disusun sesuai selera pendengarnya dengan algoritma yang dihadirkan. 

Startup musik dari Jerman, Endel, beberapa waktu lalu telah menjalin kontrak dengan Warner Music Group untuk merilis beberapa album sesuai mood. Kerja sama tersebut membuat Endel menjadi algoritma pertama di dunia yang menjalin kontrak dengan satu label musik mayor. Apakah ini bisa menjadi ancaman bagi musisi sebenarnya? Mungkin saja...

Menurut saya (IMHO), cara-cara untuk 'melawan' kecerdasan buatan ini salah satunya adalah musisi harus sering-sering merilis lagu melalui platform digital. Katakanlah setiap bulan merilis satu single baru, atau dalam setahun harus merilis dua hingga tiga album. Selain untuk memperkaya katalog, hal ini juga untuk memacu kreatifitas kita sebagai musisi, agar tidak 'termakan' dengan teknologi AI tersebut. 


Peduli dengan jaminan pensiun

Ini bukan pesan sponsor ataupun endorsement, tapi sekedar sebagai pengingat bagi teman-teman semuanya yang menggeluti musik, baik sebagai pelaku, orang di balik layar ataupun pebisnis musik. Saatnya kita mempedulikan akan masa depan kita pribadi dengan memiliki jaminan pensiun. Sebagai sosok pekerja yang tidak terikat, ada juga layanan BPJS Ketenagakerjaan - Bukan Penerima Upah (BPU), informasinya bisa diakses disini

Beberapa hari lalu BEKRAF juga merilis progam Musisi Sehat, bekerjasama dengan Komunitas Biduan serta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan musisi melalui program subsidi silang. Saya belum begitu paham bagaimana detail dan teknisnya program ini berjalan. Silahkan share di kolom komentar bila ada info lebih lanjut mengenai kegiatan ini.


Salam musik Indonesia!


Foto: Alex Brisbey