Posts for Tag: industri musik Indonesia

Gotong Royong Music

Salam gotong royong...

Saya bermaksud memperkenalkan proyek baru yang merupakan proyek rintisan, yaitu Gotong Royong Music.

Gotong Royong Music adalah layanan musik digital (digital music service) yang akan membantu musisi independen (solo ataupun band) bahkan DJ, untuk mendistribusikan lagu-lagu orisinalnya secara legal dalam format digital ke berbagai puluhan bahkan ratusan digital provider/outlet di seluruh dunia.

Memang hampir semua layanan ini masih sangat terbatas untuk bisa diakses di wilayah Indonesia, jadi memang target pasar yang dituju mayoritas adalah pasar internasional. Semoga saja beberapa layanan musik digital ini bisa segera masuk ke Indonesia, seperti Deezer yang keliatannya tidak lama lagi bakal launching di Indonesia. Dan juga beberapa layanan musik digital besar semacam iTunes sudah masuk ke wilayah Singapura, Malaysia dan 10 negara Asia lainnya mulai bulan Agustus lalu.

*Saat ini Gotong Royong Music telah bermutasi menjadi Lautan Digital Records.

Distribusi Alternatif 'Excess Baggage'

Pernah menonton film Excess Baggage yang dibintangi Alicia Silverstone? Kebetulan beberapa hari yang lalu saya menikmati (lagi) film lama yang dirilis tahun 1997 ini. Dulu memang pernah menonton film ini, namun tidak terlalu memperhatikan hingga ada satu 'scene' yang menurut saya lumayan menarik bila dikaitkan dengan perkembangan industri musik Indonesia hingga saat ini.
Bagian menarik yang dimaksud adalah saat adegan Christopher Walken yang memerankan tokoh Uncle Ray berada di sebuah kedai kopi dan melakukan percakapan dengan seorang wanita pramusaji di tempat tersebut. Kedai kopi dan semacam resto yang tampaknya tidak populer. Si Uncle Ray saat menikmati kopinya tanpa sengaja menemukan rak berisi CD album di meja tempat dia duduk dan baru menyadari kalau wajah di kover album tersebut adalah si wanita pramusaji yang ternyata seorang penyanyi solo. Sambil berpromosi si wanita pramusaji bilang kalau musiknya berkualitas dan tanpa pikir panjang Uncle Ray membeli CD album tersebut sekaligus membeli format kaset juga seperti yang ditawarkan.
Apabila disimpulkan dari adegan film tersebut yang saya amati adalah di era tahun 90'an sebenarnya kita sudah diajak untuk berpikir mengenai distribusi alternatif album rekaman. Siap atau tidak siap perkembangan teknologi dan maraknya konsep digital akhirnya menuntut pelaku industri musik untuk tidak bergantung lagi dengan toko kaset/CD yang kini bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Konsep penjualan album di gerai Starbucks, KFC, Indomaret dll. adalah merupakan konsep-konsep distribusi alternatif.
Yang saya pikirkan dari film Excess Baggage ini pertama adalah Alicia Silverstone memang cantik lahir batin. Yang kedua andaikan di akhir 90'an atau awal tahun 2000 kita sudah melakukan konsep distribusi alternatif untuk penjualan album rekaman ini. Entah apa yang bakal terjadi bagi industri musik Indonesia sekarang.