Posts for Tag: industri musik Indonesia

Teknologi Blockchain untuk Kemajuan Musik Indonesia

Saya sedang berencana untuk menggunakan serta mengembangkan satu teknologi yang sedang 'panas' dan ramai dibicarakan saat ini yaitu, blockchain, yang nantinya secara khusus akan dimanfaatkan untuk hal-hal yang berhubungan dengan musik (kemajuan musik Indonesia). Apakah itu blockchain? Menurut Vitalik Buterin, yang merupakan penemu dan pencipta Ethereum... "Vitalik defines a blockchain as: “a decentralized system that contains some kind of shared memory.” It’s a public ledger showing all the transactions of the cryptocurrency." Jadi blockchain adalah satu buah sistem yang terdesentralisasi yang terdiri dari berbagai memori yang mampu diakses secara bersamaan. Ini semacam buku besar yang bisa diakses publik yang menunjukkan berbagai kegiatan transaksi atas mata uang kripto.

Mungkin saja dari ide ini nantinya bakal jadi semacam cryptocurrency startup company, ataupun perusahaan rintisan yang akan fokus dalam pengembangan mata uang kripto khususnya untuk kemajuan musik yang ada di Indonesia saat ini, baik terkait dengan rilisan karya musik, katalog musik/penerbitan, penjualan merchandise, music funding, penjualan tiket konser, music platform, dll. Saya pribadi tidak mau terlalu repot dengan istilah startup, karena yang penting dari semua ini adalah usaha yang bisa berkembang dengan baik (dan cepat).

Berbicara mengenai konsep mata uang virtual, selama ini kita sudah sering mendengar bitcoin, dan konsep cryptocurrency sebenarnya tidak hanya mengenal bitcoin, ada juga: ethereum, litecoin, dogecoin, dan sebagainya. Kesimpulan dari semua penggunaan terkait dengan layanan teknologi blockchain ini adalah dihilangkannya konsep middleman, alias hilangnya 'sang perantara'. Berikut mengutip tulisan dari situs DailySocial dan untuk lebih memahami apakah itu bitcoin:

"Definisi paling sederhana dari Bitcoin adalah “mata uang virtual”. Lengkapnya, Bitcoin merupakan mata uang virtual yang hanya ada dalam bentuk digital. Ia tidak diatur ataupun dipengaruhi oleh regulasi pemerintah ataupun lembaga keuangan manapun. Kalau begitu, maka Bitcoin walaupun berfungsi sebagai alat pembayaran, ia tidak mempunyai wujud fisik seperti lembaran uang kertas ataupun koin yang ada di dompet Anda. Tapi fungsinya sama, sebagai alat pembayaran. Bitcoin juga dapat diuangkan ke dalam mata uang resmi/konvensional. 

Dalam perannya di proses jual beli, Bitcoin dapat menjadi alternatif yang menawarkan sejumlah kemudahan. Menggunakan Bitcoin setiap pihak dapat merahasiakan privasi data-data yang dimiliki setiap melakukan pembayaran. Konsumen tidak perlu lagi menginformasikan data pribadi dan data keuangan setiap kali melakukan transaksi online."

Dan lewat tulisan ini saya mau mengajak pihak-pihak untuk bekerjasama (angel investor/venture capital) dan saat ini sedang mencari talenta-talenta berbakat yang mau terus belajar untuk posisi sebagai berikut:

Tidak bermaksud untuk memiliki keinginan yang muluk ataupun terlalu 'bermimpi', karena dari tulisan saya ini sebenarnya masih merupakan ide-ide dasar (minimal saya sudah menuliskannya di blog). Saya hanya berpikir bahwa ini ada satu kemajuan dari penemuan teknologi terkini dan di sisi lain ada satu kegiatan seni (musik) yang sepertinya bisa diaplikasikan dan dikolaborasikan dengan menggunakan cryptocurrency Ethereum, tentunya untuk mendukung supaya musik Indonesia lebih maju, baik secara ekosistem maupun secara 'industri'. Mungkin saja dalam perkembangannya nanti unit usaha ini tidak hanya bicara soal penggunaan cryptocurrency dalam konsep 'bisnis' musik, bisa juga berbicara unit-unit usaha dan bisnis lainnya.

Ada yang mau bergabung?

"The only art I'll ever study is stuff that I can steal from." - David Bowie


Foto: Pavel Churiumov

Video: Techcrunch

Gotong Royong Music

Salam gotong royong...

Saya bermaksud memperkenalkan proyek baru yang merupakan proyek rintisan, yaitu Gotong Royong Music.

Gotong Royong Music adalah layanan musik digital (digital music service) yang akan membantu musisi independen (solo ataupun band) bahkan DJ, untuk mendistribusikan lagu-lagu orisinalnya secara legal dalam format digital ke berbagai puluhan bahkan ratusan digital provider/outlet di seluruh dunia.

Memang hampir semua layanan ini masih sangat terbatas untuk bisa diakses di wilayah Indonesia, jadi memang target pasar yang dituju mayoritas adalah pasar internasional. Semoga saja beberapa layanan musik digital ini bisa segera masuk ke Indonesia, seperti Deezer yang keliatannya tidak lama lagi bakal launching di Indonesia. Dan juga beberapa layanan musik digital besar semacam iTunes sudah masuk ke wilayah Singapura, Malaysia dan 10 negara Asia lainnya mulai bulan Agustus lalu.

*Saat ini Gotong Royong Music telah bermutasi menjadi Lautan Digital.

Distribusi Alternatif 'Excess Baggage'

Pernah menonton film Excess Baggage yang dibintangi Alicia Silverstone? Kebetulan beberapa hari yang lalu saya menikmati (lagi) film lama yang dirilis tahun 1997 ini. Dulu memang pernah menonton film ini, namun tidak terlalu memperhatikan hingga ada satu 'scene' yang menurut saya lumayan menarik bila dikaitkan dengan perkembangan industri musik Indonesia hingga saat ini.
Bagian menarik yang dimaksud adalah saat adegan Christopher Walken yang memerankan tokoh Uncle Ray berada di sebuah kedai kopi dan melakukan percakapan dengan seorang wanita pramusaji di tempat tersebut. Kedai kopi dan semacam resto yang tampaknya tidak populer. Si Uncle Ray saat menikmati kopinya tanpa sengaja menemukan rak berisi CD album di meja tempat dia duduk dan baru menyadari kalau wajah di kover album tersebut adalah si wanita pramusaji yang ternyata seorang penyanyi solo. Sambil berpromosi si wanita pramusaji bilang kalau musiknya berkualitas dan tanpa pikir panjang Uncle Ray membeli CD album tersebut sekaligus membeli format kaset juga seperti yang ditawarkan.
Apabila disimpulkan dari adegan film tersebut yang saya amati adalah di era tahun 90'an sebenarnya kita sudah diajak untuk berpikir mengenai distribusi alternatif album rekaman. Siap atau tidak siap perkembangan teknologi dan maraknya konsep digital akhirnya menuntut pelaku industri musik untuk tidak bergantung lagi dengan toko kaset/CD yang kini bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Konsep penjualan album di gerai Starbucks, KFC, Indomaret dll. adalah merupakan konsep-konsep distribusi alternatif.
Yang saya pikirkan dari film Excess Baggage ini pertama adalah Alicia Silverstone memang cantik lahir batin. Yang kedua andaikan di akhir 90'an atau awal tahun 2000 kita sudah melakukan konsep distribusi alternatif untuk penjualan album rekaman ini. Entah apa yang bakal terjadi bagi industri musik Indonesia sekarang.