Posts for Tag: label

Siapa Untung, Siapa Buntung?

Kemarin sewaktu jalan-jalan di seputaran Palembang, agak kaget saya, bukan agak tapi memang kaget pas baca twit dari label lokal (yang meng-internasional) yang mengumumkan bahwa The Finest Tree bergabung di bawah naungan perusahaan rekaman tersebut. Yang belum tahu siapa itu The Finest Tree (TFT) bisa cek atau baca disini.

Hingga akhirnya tadi pagi saya sempat mengirimkan satu buah twit dimana saya merespon 'momentum' tersebut. Sebenarnya saya tidak memiliki niat apapun, karena saya tidak memiliki hubungan atau kepentingan bisnis dengan mereka. Lagipula saat ini saya 'agak menjauh' untuk sementara waktu dengan kegiatan yang berhubungan dengan musik dan tetek bengeknya, apalagi menyangkut kepentingan industri. Tapi saya mengenal dengan baik mereka duo kakak beradik ini dan juga bapaknya yang bertindak sebagai manajer personal dan manajer bisnis bagi anak-anaknya. Dalam beberapa kesempatan dulu kami pernah berdiskusi secara langsung membahas soal kemajuan TFT dan soal ini itu menyangkut musik dan industrinya.

Ya sebenarnya saya hanya menyesalkan terjadinya 'kerjasama' kedua/ketiga belah pihak ini: The Finest Tree (TFT), UMI (Universal Music Indonesia) dan mungkin 'produser'??? Saya menyesalkan karena selama ini mereka (The Finest Tree) sudah saya anggap "cukup berhasil" dengan semangat kemandirian/independen, merilis mini album yang diproduseri oleh musisi senior, tampil perform di TV nasional, jadwal manggung (dibayar) baik untuk konser ataupun sekedar meet n' greet di berbagai kota tanpa henti, jualan merchandise selalu sold-out, serta memiliki fan base yang sangat kuat dan solid. Kesemuanya dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan pihak major label atau perusahaan rekaman besar. TFT merupakan 'barang yang sudah jadi' sebelum mereka "dipinang/meminang" Universal Music Indonesia! Dan tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa kemampuan duo ini secara musikal ataupun secara performance bisa disejajarkan dengan anak-anak Ahmad Dhani.

Namun nampaknya kita tidak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita sering mendengar musisi bermasalah dengan label mereka ataupun musisi senior berlomba-lomba menarik diri ataupun memutus kontrak kerjasama (baca: menyangkut hukum) dengan perusahaan rekaman tempat dulunya mereka bernaung. Karena apa? Bagi saya saat ini keberadaan hampir semua perusahaan rekaman/label sudah tidak memiliki fungsi ataupun peranan seperti sepuluh atau duapuluh tahun lalu, seluruhnya berubah, model bisnis berubah, market juga berubah, sementara 'pola' ataupun kinerja label lokal masih cenderung konvensional. Dan percayalah saat ini tidak ada dana promosi-marketing milyaran ataupun ratusan juta rupiah untuk kelas superstars, established artists, dan popular artists, atau bahkan sosok new comer. CMIIW!!!

Demikian juga dengan mindset yang dimiliki si musisi (seniman) itu sendiri. Nampaknya pola pikir yang dimiliki musisi (lokal) juga masih cenderung tradisional dan primitif, padahal ini era internet & kemajuan teknologi, bung! Mereka mungkin masih menganggap kalau dikontrak sebuah perusahaan rekaman bakal menaikkan gengsi, popularitas ataupun kegantengan mereka. Heran saya, dan geregetan! Ah, sudahlah...

Jadi, siapa untung dan siapa buntung?

'Menolak' Untuk Kesekian Kalinya

Rabu siang kemarin ada ajakan untuk meeting dengan rekan kantor yang akan mengontrak band lama untuk masuk label barunya. Intinya adalah diminta untuk menjadi 'manager' dari salah satu band rock trio yang vokalisnya berkepala botak itu. Team work, produksi, budget promo sudah siap, dan saya tinggal 'running'. Tapi saya 'menolaknya'...

Sebelumnya grup hip-hop internasional kebanggaan kota kelahiran saya juga meminta hal yang sama, dan dengan 'berat hati' saya juga 'menolaknya' tanpa bermaksud sombong. Sebelumnya ada artis solo jazz cowok, terus ada juga artis solo pop cewek yang sudah merilis beberapa album meminta untuk 'handle' mereka. Dan saat saya masih menjabat manager pun, beberapa band sempat datang ke saya untuk meminta dimanajerin dan secara halus saya tidak menerimanya.

Entah kenapa semenjak saya 'terpaksa resign' dari management Sheila On 7 di April 2010, saya kurang memiliki gairah atau semangat besar untuk mengurusi hal-hal yang berbau keartisan. Mungkin saatnya bagi saya untuk memulai usaha yang baru, jauh dari hingar bingar, jauh dari ke-glamouran dan bisnis yang tidak hanya 'berpura-pura' dan jauh dari kemungkinan 'tikung-menikung'. Mungkin saatnya berada di belakang layar, menjadi 'penonton' yang baik.

Semoga awal Maret 2012 ini menjadi awalan yang sangat baik bagi saya dan keluarga saya memulai kehidupan di kota yang baru. Insya Allah...