Posts for Tag: musik

Blog Yang Lain

Oiya, selain di blog ini saya juga mulai sedikit aktif di blog yang lain, antonkurniawan.xyz, menggunakan platform WordPress yang menurut saya awalnya agak rumit bagi orang yang awam. Menulis seadanya dan berbagi ini dan itu, lebih spesifik lagi tentang musik, media sosial dan usaha rintisan.

Saya bukan orang yang tahu dan memahami tentang semua hal, masih harus banyak mengejar ketinggalan, kudu banyak belajar intinya. Mudah-mudahan banyak hal yang bisa kita bagi dan diobrolkan di blog ini dan blog itu. Cheers!


Mendengarkan Joey Alexander

Beberapa minggu lalu ramai diberitakan pianis jazz cilik muda asal Indonesia, Joey Alexander, yang mendapatkan dan masuk nominasi Grammy Award ke-58 kategori Best Jazz Instrumental Album untuk albumnya yang bertajuk My Favorite Things dan Best Improvised Jazz Solo untuk lagu "Giant Steps", merupakan lagu dengan durasi terpanjang 10 menit dan 15 detik di album tersebut.

Sebelumnya saya tidak terlalu ngeh dengan Joey Alexander yang saat merilis album jazz-nya berumur 12 tahun, seumuran anak-anak kita saat ini, apalagi di ranah musik jazz yang memang tidak terlalu saya pahami. Dan saya juga belum lama menemukan tulisan dari beliau sang kritikus musik flamboyan almarhum kang Denny Sakrie yang berkisah tentang sepak terjang sosok Joey Alexander.

Tidak berlebihan juga hingga New York Times menurunkan satu tulisan pada Mei 2015 tidak lama setelah album My Favorite Things dirilis, dan menariknya di bagian akhir tulisan tersebut Joey Alexander disejajarkan dengan Gadi Lehavi dari Israel, Beka Gochiashvili dari Georgia, dan Julian Lage dari California yang ketiganya merupakan the most dazzling jazz prodigies (prodigy-s) di saat usia mereka masih muda belia. Menurut Oxford Dictionary, yang dimaksud dengan istilah prodigy /ˈprɒdɪdʒi/ adalah young person who is unusually intelligent or skillful for their age.

Yang ingin saya tegaskan dari tulisan di blog ini adalah, saya mengapresiasi penuh kedua orang tua Joey Alexander, Denny Sila & Fara Urbach, mungkin dengan latar belakang dan pemahaman 'industri' musik yang cukup, saya menilai cukup berani dalam mengambil keputusan menyangkut 'masa depan' anaknya. 'Merelakan' untuk bergabung dan signed dengan Motéma Music dan akhirnya sekeluarga harus hijrah dari Bali ke Jakarta dan akhirnya ke New York adalah pilihan yang sangat tepat dan... akhirnya terbukti. Bila harus berkarir di kancah musik (nasional) dulu mungkin perjalanan Joey Alexander masih akan panjang dan berliku meski dengan kemampuan si Joey yang luar biasa ini, apalagi melihat situasi industri musik Indonesia secara keseluruhan yang seperti demikian adanya... ehemmm.

Untuk mengakses album My Favorite Things ini tidak sulit, seperti biasa saya menggunakan layanan musik streaming premium berbayar "Spotify" yang berasal dari Swedia, yang saat ini memang belum masuk ke Indonesia. Dan dahi saya berkerut saat mendengarkan lagu-lagu di album milik Joey Alexander ini, he's just 12 years old! :D... Oke, kita tunggu Grammy Awards 2016 yang akan diselenggarakan pada 15 Februari 2016 di Staples Center, Los Angeles. Good luck, Joey!

Image Credit: Motéma Music

The End of Era

Hampir dua minggu yang lalu saya sekeluarga berkunjung ke Singapura selama lima hari. Mungkin hampir 2 tahun terakhir jarang bepergian ke luar baik untuk sekedar urusan kerjaan atau liburan.
Beberapa hari sebelum berangkat dua kawan yang tinggal disana hampir secara bersamaan memberi kabar lewat WhatsApp bahwa HMV (salah satu retail musik terbesar dari Inggris) sudah menutup beberapa outlet-nya, dan kini tinggal menyisakan satu bagian kecil yang mengambil lokasi baru di Marina Square. Termasuk juga toko 'langganan' Gramophone yang sebelumnya sudah ditutup. Memang agak menyedihkan kondisinya di era digital seperti sekarang, tapi ya begitulah kenyataan yang harus diterima oleh para konsumen produk fisik juga label beserta musisi dan pencipta lagu.
Saya ingat beberapa tahun lalu saat ada waktu untuk datang ke Singapura, pasti tidak pernah melewatkan untuk berkunjung ke toko HMV yang berada di Somerset. Ada sekitar tiga lantai saat itu semuanya berisi produk fisik dan ada juga official-merchandise. Saya pasti kalap pindah dari satu konter ke konter lainnya, naik turun eskalator sambil menenteng keranjang CD album rilisan luar/import. Konter 'new release' adalah yang rajin dikunjungi, karena saat itu belum ada 'internet broadband', tren belanja online masih terbatas dan produk fisik yang masuk ke Jakarta juga sering terlambat. Jadi 'new release' terkini pasti Singapura duluan, dan kita balik ke Indo 'bangga' dengan update terbaru ha... ha...
Oya, saat di Singapura akhirnya saya menyempatkan diri untuk datang ke Marina Square, saat itu sore menjelang malam langsung menuju HMV tentu saja. Tentunya tidak untuk membeli CD ataupun DVD, karena saya sudah menikmati dengan kondisi dan lingkungan musik digital. Bukannya anti dengan produk fisik. Saya hanya sekedar melihat-lihat berkeliling sambil mengajak anak saya. Dan saya menyempatkan diri untuk berfoto di depan toko. Nantinya bakal memiliki nilai historis he he, mungkin saja dalam kurun waktu tidak sampai satu tahun toko ini juga bakal ditutup.

Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012

Melanjutkan twit saya minggu lalu, waktu itu secara tidak sengaja di airport bertemu dengan salah satu petinggi perusahaan rokok yang berasal dari Jawa Tengah. Lama tidak bertemu dan kebetulan beberapa tahun lalu kami sempat ada kerjasama dengan beliau untuk kegiatan band touring di sepanjang pulau Sumatera.

Banyak sekali hal yang diobrolkan hingga akhirnya intens membahas soal Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang sudah disahkan secara 'diam-diam' oleh presiden SBY pada Desember 2012 lalu yang nampaknya baru bulan ini 'gaung'-nya mulai terdengar.

Intinya informasi yang saya dapat dari petinggi perusahaan rokok tersebut sudah bakal dipastikan kalau hampir semua kegiatan 'off-air', konser, tour ataupun panggung-panggung pertunjukan musik bakal berkurang sama sekali dikarenakan adanya PP Nomor 109 Tahun 2012 tersebut. Might be such a bad news for musicians...

Kemungkinan besar perusahaan rokok bakal menghentikan semua kegiatan yang berhubungan dengan panggung musik efektif mulai Desember 2013 atau Januari 2014. Bisa jadi ini akan menjadi 'bencana' kedua bagi musisi ataupun juga industri musik Indonesia (mungkin), pasca 'RBT blackout'? Khawatir? Boleh saja, tapi tidak perlu berlebihan. 

Untuk musisi lokal khususnya tidak perlu berkecil hati, masih banyak kegiatan kreatif lainnya yang bisa dilakukan.