Posts for Tag: perusahaan rekaman

Perusahaan Rekaman Zaman Now

Bagaimana kita memikirkan dan mendefinisikan ‘perusahaan rekaman’ ataupun ‘label rekaman’ saat ini? Apakah kita sedang membayangkan sebuah bangunan kantor megah yang terletak di ibukota DKI Jakarta dengan beberapa lantai, dengan jumlah pegawai kisaran antara 50 hingga 70 orang karyawan/karyawati? He… he… he…

Tentunya era saat ini sudah banyak sekali yang berubah, baik secara ‘kondisi fisik’ sebuah perusahaan rekaman ataupun iklim ‘industri musik’-nya sendiri secara keseluruhan. Namun tenang saja… dalam tulisan di blog ini saya tidak akan membahas ataupun mengupas bagaimana kondisi perusahaan rekaman nasional kita yang dulu masih (ada) ataupun yang masih bertahan hingga saat ini.

Saya lebih menyukai untuk menyusun rencana-rencana mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masa yang akan datang, yang lebih menjanjikan, dan tentunya tetap berhubungan dengan musik. Tulisan ini sendiri sebenarnya untuk merespon dan mempelajari dari rilis ‘secara diam-diam’ yang baru saja dilakukan oleh United Masters pada hari Rabu 15 November 2017 lalu.

United Masters merupakan perusahaan rekaman yang juga perusahaan startup dikomandani oleh Steve Stoute (salah satu mantan presiden di Interscope Records), dimana sejak tahun lalu telah mendapatkan pendanaan sekitar 70 juta dollar dari Alphabet (perusahaan induk Google), perusahaan yang aktif berinvestasi di bidang teknologi Andreessen Horowitz, investor Silicon Valley Floodgate, dan juga investasi dari perusahaan film 20th Century Fox. Berapakah nilai “70 juta dollar’ dalam dollar Amerika? Ya kurang lebih senilai: Rp 950.000.000.000,- (semoga saya tidak salah menghitung , karena nilai tersebut masih sedikit bila dibandingkan dengan nilai korupsi KTP-el ).

Sebelumnya Steve Stoute mendirikan agensi periklanan Translation pada 2004 yang fokus dalam mengembangkan konsep branding musik dengan produk. Hingga setelah melewati masa sekian belas tahun, Steve Stoute berinisiatif mendirikan United Masters. Dengan adanya konsep perusahaan rekaman model begini, tanpa harus berbicara istilah ‘disrupsi’, tentunya akan banyak merubah pola-pola tradisional di industri musik yang telah berjalan selama ini. Mungkin saja tidak akan ada lagi istilah label mayor, label minor ataupun label niche.

Meski bergaya kekinian dan memiliki tagline: “Your future has no labels”, namun menurut pendapat saya sebenarnya peran United Masters ini kurang lebih bakal bertindak ala distributor musik digital dan kombinasi gaya sebagai agensi kreatif/marketing.

Artis siapapun yang akan bergabung dengan United Masters yang berkantor pusat di San Francisco ini akan diminta untuk menyetor biaya administrasi yang tidak terlalu mahal, dan nantinya hasil royalti dari penjualan lagu atau karya akan dibagi oleh kedua belah pihak. Karya-karya lagu dari si artis tersebut akan didistribusikan ke berbagai saluran pengaliran musik seperti Spotify dan YouTube. Sementara untuk master rekaman lagu tetap sepenuhnya menjadi hak milik artis. Perjanjian lainnya yang terkait yaitu penjualan merchandise dan penjualan tiket konser ada kesepakatan untuk dibagi oleh kedua pihak. Oya in-return disisi artis, dari perjanjian ini adalah nantinya artis akan mendapatkan akses data ataupun metric yang bisa dikelola terkait dengan fan, demografi, dll.

Apakah kita disini bisa mengadopsi dan memodifikasi konsep perusahaan rekaman kekinian tersebut? Tentunya bisa saja dengan segala kreatifitas dan kinerja maksimal. Menurut saya saat ini kita sangat butuh untuk mengembangkan konsep-konsep seperti ini (termasuk model bisnisnya), agar musik nasional bisa terus tumbuh, industrinya bisa lebih maju dan berkembang. Kuncinya adalah tanpa perlu melibatkan banyak orang dari ‘internal industri’, kita butuh merekrut SDM berkualitas; katakanlah ambil pentolan-pentolan dari Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, ataupun BukaLapak, untuk bekerja sebagai COO, CMO, CFO, CTO, dll. Kita tidak akan membangun perusahaan rekaman, namun kita akan membangun perusahaan konten musik yang didukung oleh teknologi terkini.

Oya, sebenarnya konsep ini sebenarnya bukan merupakan ‘kerjaan’ baru buat Google, karena sebelumnya lewat 300 Entertainment, sebuah perusahaan rekaman Amerika yang didirikan pada 2012 oleh musik veteran Lyor Cohen (Def Jam, Warner Music) sebagai CEO, Google merupakan investor utama di perusahaan yang bergaya content company tersebut dengan menyuntik dana sekitar 5 juta dollar. Sebuah perusahaan raksasa teknologi seperti Google tetep pengen juga untuk ‘mencicipi’ jualan receh dari musik dan berniat menguasai copyright.

Sumber: Music Business World, Techcrunch, Billboard, dan WSJ

Foto: John Hult


*Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan di Medium, antonkurniawan.id, dikarenakan ada kendala teknis mengenai domain tersebut maka dipublikasikan ulang di blog ini

Siapa Untung, Siapa Buntung?

Kemarin sewaktu jalan-jalan di seputaran Palembang, agak kaget saya, bukan agak tapi memang kaget pas baca twit dari label lokal (yang meng-internasional) yang mengumumkan bahwa The Finest Tree bergabung di bawah naungan perusahaan rekaman tersebut. Yang belum tahu siapa itu The Finest Tree (TFT) bisa cek atau baca disini.

Hingga akhirnya tadi pagi saya sempat mengirimkan satu buah twit dimana saya merespon 'momentum' tersebut. Sebenarnya saya tidak memiliki niat apapun, karena saya tidak memiliki hubungan atau kepentingan bisnis dengan mereka. Lagipula saat ini saya 'agak menjauh' untuk sementara waktu dengan kegiatan yang berhubungan dengan musik dan tetek bengeknya, apalagi menyangkut kepentingan industri. Tapi saya mengenal dengan baik mereka duo kakak beradik ini dan juga bapaknya yang bertindak sebagai manajer personal dan manajer bisnis bagi anak-anaknya. Dalam beberapa kesempatan dulu kami pernah berdiskusi secara langsung membahas soal kemajuan TFT dan soal ini itu menyangkut musik dan industrinya.

Ya sebenarnya saya hanya menyesalkan terjadinya 'kerjasama' kedua/ketiga belah pihak ini: The Finest Tree (TFT), UMI (Universal Music Indonesia) dan mungkin 'produser'??? Saya menyesalkan karena selama ini mereka (The Finest Tree) sudah saya anggap "cukup berhasil" dengan semangat kemandirian/independen, merilis mini album yang diproduseri oleh musisi senior, tampil perform di TV nasional, jadwal manggung (dibayar) baik untuk konser ataupun sekedar meet n' greet di berbagai kota tanpa henti, jualan merchandise selalu sold-out, serta memiliki fan base yang sangat kuat dan solid. Kesemuanya dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan pihak major label atau perusahaan rekaman besar. TFT merupakan 'barang yang sudah jadi' sebelum mereka "dipinang/meminang" Universal Music Indonesia! Dan tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa kemampuan duo ini secara musikal ataupun secara performance bisa disejajarkan dengan anak-anak Ahmad Dhani.

Namun nampaknya kita tidak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita sering mendengar musisi bermasalah dengan label mereka ataupun musisi senior berlomba-lomba menarik diri ataupun memutus kontrak kerjasama (baca: menyangkut hukum) dengan perusahaan rekaman tempat dulunya mereka bernaung. Karena apa? Bagi saya saat ini keberadaan hampir semua perusahaan rekaman/label sudah tidak memiliki fungsi ataupun peranan seperti sepuluh atau duapuluh tahun lalu, seluruhnya berubah, model bisnis berubah, market juga berubah, sementara 'pola' ataupun kinerja label lokal masih cenderung konvensional. Dan percayalah saat ini tidak ada dana promosi-marketing milyaran ataupun ratusan juta rupiah untuk kelas superstars, established artists, dan popular artists, atau bahkan sosok new comer. CMIIW!!!

Demikian juga dengan mindset yang dimiliki si musisi (seniman) itu sendiri. Nampaknya pola pikir yang dimiliki musisi (lokal) juga masih cenderung tradisional dan primitif, padahal ini era internet & kemajuan teknologi, bung! Mereka mungkin masih menganggap kalau dikontrak sebuah perusahaan rekaman bakal menaikkan gengsi, popularitas ataupun kegantengan mereka. Heran saya, dan geregetan! Ah, sudahlah...

Jadi, siapa untung dan siapa buntung?

Distribusi Musik Digital

Untuk musisi independent, record label & content provider: bagi yang memerlukan distribusi digital untuk 'online music store' melalui iTunes, AmazonMP3, Google Music, Nokia Music, Spotify, eMusic, MediaNet, Rhapsody, VerveLife, Zune, MySpace Music dll., silahkan kontak saya.